Breaking News:

Para Pakar Menjawab Keraguan Masyarakat, Penanganan Jenazah Covid-19 di Aceh Sesuai Syariat Islam

Mereka sudah dilatih untuk tugas tersebut. Sedangkan, masyarakat dan keluarga, selain tidak terlatih menangani jenazah Covid-19

FOTO TIM IPJ RSUZA
Petugas medis bersama warga memakamkan jenazah korban Covid-19 di Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, Selasa (14/7/2020). 

Alidar berharap masyarakat tidak meragukan pelaksanaan fardhu kifayah jenazah Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Mereka sudah dilatih untuk tugas tersebut. Sedangkan, masyarakat dan keluarga, selain tidak terlatih menangani jenazah Covid-19, juga dapat membawa muzarat yang lebih besar bagi keluarga maupun masyarakat sekitarnya. 

Penanganan jenazah di Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Fardhu kifayah terhadap jenazah korban Covid-19 di Instalasi Pemulasaraan Jenazah Covid-19 juga dilaksanakan dengan cara yang islami. Jenazah ditangani oleh tenaga kesehatan dan ustaz terlatih.

Hal itu disampaikan Direktur RSUZA, Dr dr Azharuddin SpOT K-SpineFICS, kepada Serambi, Jumat (17/7/2020) untuk menjawab keraguan masyarakat seakan-akan penanganan jenazah korban Covid-19 di rumah sakit yang dipimpinnya sekedar saja, hingga ada yang merebut jenazah untuk dilakukan fardhu kifayah sendiri oleh keluarga atau masyarakat. “Protokol kesehatan yang kita laksanakan tak sekedar mengikuti prosedur WHO, melainkan protokol kesehatan yang juga islami,” tegas Azharuddin.

Azharuddin menjelaskan proses fardhu kifayah di RSUZA. Sebelum menyentuh jenazah korban Covid-19, setiap petugas wajib memakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Fardhu kifayah secara islami dilaksanakan di Instalasi Pemulasaraan Jenazah dan dilakukan proses desinfeksi dengan klorin. Usai di-fardhukifayah-kan (dimandikan atau ditayamumkan), menurutnya, jenazah dikafani.

Setelah dikafani dilakukan desinfeksi lagi dengan cairan  klorin, dan dibalut dengan plastik kedap air. Jenazah yang sudah dikafani dan dibalut plastik kedap air itu didisinfeksi lagi, sebelum dimaksukkan ke dalam kantong jenazah. Kemudian jemazah dimasukkan ke dalam peti khusus untuk jenazah Covid-19.

Peti khusus jenazah Covid-19 itu dilapisi lagi dengan slikon di setiap sisinya supaya kedap air dan kedap udara. Peti yang sudah berisi jenazah dan kedap itu dibaut (sekrup), dibungkus dengan plastik lagi, dan dilakukan proses desinfeksi kembali, sehingga benar-benar aman dari kemungkinan merembesnya cairan ke luar peti jenazah tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan shalat jenazah oleh imam dengan 1-3 jamaah. Imam dan jamaah memakai APD lengkap dan shalat jenazah itu dilakukan di ruang khusus. Setelah prosesi fardhu kifayah secara islami itu dilakukan secara sempurna, baru jenazah dibawa dengan mobil ambulans ke tempat pemakamannya.

“Proses fardhu kifayah secara islami itu juga dilakukan oleh semua rumah sakit di Aceh. Setiap rumah sakit ada ustaz yang tugasnya hanya menyelenggarakan fardhu kifayah terhadap jenazah orang Islam,” pungkas Azharuddin.

Kadis Syariat Islam Aceh, Dr EMK Alidar SAg MHum, juga menjelaskan, penanganan jenazah Covid-19 yang dilakukan RSUZA maupun rumah sakit lain di Aceh sesuai syariat Islam. “Protokol kesehatan penanganan jenazah Covid-19 sudah kami kaji dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Fardu kifayah diselenggarakan oleh ustaz dan petugas kesehatan yang ditugaskan khusus menangani jenazah orang Islam. Mereka dilatih khusus menangani jenazah Covid-19,” ujar Alidar.

Alidar berharap masyarakat tidak meragukan pelaksanaan fardhu kifayah jenazah Covid-19 oleh pihak rumah sakit. Mereka sudah dilatih untuk tugas tersebut. Sedangkan, masyarakat dan keluarga, selain tidak terlatih menangani jenazah Covid-19, juga dapat membawa muzarat yang lebih besar bagi keluarga maupun masyarakat sekitarnya. 

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved