Breaking News:

Opini

Kakbah, Ibrahim AS, dan Muhammad SAW  

Ketika saat musim haji tiba, baik yang punya kesempatan berangkat ataupun tidak, pikirannya langsung terbayang kepada sebuah bangunan

ist
Dr. Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Blang Beringin, Cot Masjid, Banda Aceh 

Oleh Dr. Munawar  A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah dan PNS Pemerintah Aceh, Tinggal di Blang Beringin, Cot Masjid, Banda Aceh

Ketika saat musim haji tiba, baik yang punya kesempatan berangkat ataupun tidak, pikirannya langsung terbayang kepada sebuah bangunan yang terletak di Masjidil Haram, yaitu kakbah. Malah setiap Muslim di dunia baik yang sudah menatap langsung ataupun belum, dipastikan sangat mengenal bangunan kakbah. Kakbah menjadi simbol keesaan dan keagungan Allah Swt, lambang pemersatu umat Islam sekaligus sebagai kiblat umat Islam ketika melaksanakan shalat.

Bagi yang belum melihat bangunan ini, ada keinginan mendalam untuk mengunjungi tanah haram dan menatapnya secara langsung. Bagi yang sudah, tentu ada kerinduan menatapnya kembali.

Namun kini seiring pandemi Covid-19, hasrat dan keinginan itu sepertinya akan terkendala, karena Pemerintah Indonesia telah mengumumkan penundaan ibadah haji 2020. Meski demikian penulis yakin semua kita baik yang sudah berhaji/umrah atau belum telah dapat mengilustrasikan tentang kakbah tersebut dan ilustrasi ini akan semakin menarik lagi bila kita dapat mengetahui secuil cerita tentang kakbah dan hubungannya dengan dua tokoh sentral Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, dalam bentuk awalnya Kakbah hanyalah fondasi empat persegi panjang. Bagian dindingnya sebelah timur laut yang sejajar dengan barat laut, panjangnya sama, yaitu sekitar dua belas meter. Dinding bagian utara dan selatan, berukuran panjang sepuluh meter. Di kala banjir, fondasi yang terletak di dasar lembah (Bathn) Makkah ini menjadi arah aliran air yang datang dari perbukitan seputarnya. Kakbah memiliki empat pojok, keempat pojok ini kemudian diberi nama: utara namanya rukn al Iraqi, sebelah barat rukn al Syami, sebelah selatan rukn al Yamani, dan timur rukn al Aswad, sesuai dengan tempat letak batu hitam, Hajr al Aswad.

Inilah rumah ibadah pertama menyembah Allah SWT. Selama membangun Kakbah itulah Ibrahim AS menengadahkan kedua belah tangannya diikuti putranya Ismail AS, meneriakkan "Saya siap, ya Tuhanku saya siap" (labbaik, Allahumma labbaik). Di saat itu pula Tuhan menjanjikan akan menjadikan dia sebuah kaum yang besar.

Seperti Muhammad SAW, Ibrahim AS datang dari sebuah negeri berkebudayaan urban yang tinggi. Tak beda dengan Muhammad SAW, Ibrahim AS juga pemberontak melawan penyembahan matahari, bintang dan bulan yang alasan-alasannya termaktub dalam Alquran (QS 6: 74-82). Ia juga orang pertama memerangi pemujaan berhala (QS 21: 60). Pemberontakan Ibrahim atas penyembahan berhala itu memancing reaksi keras para penguasa dan penganutnya. Sehingga mereka melemparkannya ke dalam api, Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim AS (QS 21: 68-69).

Singkat cerita, Ibrahim AS memang telah uzur dan belum mempunyai keturunan bersama istri pertamanya, yaitu Sarah. Sarah mengizinkan perkawinan Beliau dengan Hajar, dari perkawinan dengan Hajar ia memperoleh anak, Ismail AS. Disebabkan ada ketegangan dalam keluarga memaksa Ibrahim AS membawa Ismail AS ke selatan hingga sampai ke lembah Mekkah.

Di sinilah Ibrahim AS membangun Kakbah, rumah peribadatan kepada Allah yang pertama. Kakbah yang dibangun Ibrahim AS itu merupakan muara pertemuan Ibrahim AS, Muhammad SAW, Allah SWT, dan manusia. Kakbah merupakan simbol Kenabian Ibrahim AS dan Muhammad SAW, perlambang keesaan Allah SWT dan kesatuan umat manusia yang menyembahnya. Menjelang Kenabian Muhammad SAW, Kakbah telah menjadi salah satu pusat berhala terbesar di dunia.

Kala pemugaran di zaman Muhammad SAW, tinggi dinding Kakbah kurang dari dua meter. Tidak ada atap sehingga bila hujan, aneka hiasan yang ada di dalamnya basah kuyup. Kepala berhala tersiram dari atas dan kakinya tergenang dalam air lumpur yang kotor. Beberapa kali sebelumnya Kakbah juga telah diperbaiki, antara lain di zaman Qushay dan Abdul Muthallib, kakek Nabi SAW. Rupanya ada Raja bernama Tubba As'ad Abu Karib Himyari yang mula pertama membawa kiswah (selubung) berwarna hitam yang kemudian dipakai lalu menjadi tradisi untuk menutup Kakbah sampai hari ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved