Opini
Pentingnya Pendidikan Agama Islam Bagi Anak
Bila si anak sudah ditanamkan pendidikan agama Islam yang baik secara mendalam sejak dini, maka akan tertanam pemahaman pendidikan agama Islam
Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd, Wakil Ketua STAI Tgk. Chik Pante Kulu Banda Aceh
Keluarga mempunyai peran penting dalam memberikan pendidikan agama Islam bagi anak. Bila si anak sudah ditanamkan pendidikan agama Islam yang baik secara mendalam sejak dini, maka akan tertanam pemahaman pendidikan agama Islam kepada anak, sehingga timbul pemahaman, kehangatan, kebahagian, dan kasih sayang yang tercurahkan dari ibu bapak terhadap dirinya, maka jiwanya akan menjadi tenteram.
Selain jiwa yang tenteram, kasih sayang, anak akan terbuka dan mudah dididik. Kasih sayang sangat dibutuhkan mereka karena bisa jadi selama ini masalah pendidikan agama Islam kurang mendapat perhatian dari orang tua. Selain anak merasa tidak diperhatikan, diperlakukan keras atau tidak adil oleh orang tuanya, maka besar kemungkinan sikap si anak terhadap Tuhan akan memantulkan sifatnya kepada orang tuanya, mungkin ia akan menolak atau acuh tak acuh terhadap ajaran agama (Djami`atul Islamiyah, 2013: 69).
Anak yang diasuh orang lain dengan diasuh orang tua sendiri berbeda, karena apabila diasuh oleh orang lain kurang sekali diperhatikan pendidikan agamanya, mereka dibiarkan bermain begitu saja yang penting anak tidak rewel. Sehingga berdampak saat anak-anak menginjak usia remaja, mereka tidak memiliki dasar keimanan yang kuat terhadap Allah Swt.
Sehingga dalam menjalani kehidupan, mereka akan berbuat semaunya sendiri dan bisa saja melanggar norma-norma agama. Terlebih lagi kesibukan yang dialami orang tua mengakibatkan berkurangnya komunikasi dan intensitas bertemu serta berkurangnya bimbingan terhadap anak.
Pendidikan Agama Islam merupakan unsur penting dalam lingkungan keluarga. Hal ini mengandung petunjuk yang meliputi sendi kehidupan, karena setiap orang akan mendapatkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu, dapat terarahkan dalam menumbuhkan kemampuan beribadah dan membina sikap hidup secara Islami, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga dalam pembentukan pribadi-pribadi yang baik dan Islami kepada setiap anak.
Dengan demikian, pendidikan agama Islam menghendaki supaya setiap keluarga dapat hidup secara seimbang dan harmonis dalam suasana keluarga yang penuh saling pengertian, saling isi mengisi, sehingga tercapailah kehidupan sakinah, ketenteraman jiwa, dan kenyamanan dalam setiap lingkungan keluarga yang bahagia.
Pentingnya pendidikan agama Islam sebagaimana disebutkan di atas tidak terlepas dari kedudukan manusia baik sebagai `abdullah maupun sebagai khalifatullah. Sebagai `abdullah, maka manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah Swt dengan penuh tanggung jawab, dan sebagai khalifatullah maka manusia harus mengelola alam ini dengan baik juga dan penuh tanggungjawab.
Oleh karena itu, pendidikan agama Islam bukan hanya sekedar tindakan lahiriyah saja, tetapi ia juga merupakan tindakan batiniyah, sebab di dalam proses pendidikan agama Islam ada tanggung jawab yang harus diemban setiap manusia. Dengan melaksanakan tanggung jawab tersebut, maka arah dan tujuan pendidikan agama Islam akan mudah tercapai sesuai tuntunan Agama Islam.
Dalam pandangan Islam, tanggung jawab pendidikan agama Islam tersebut dibebankan kepada setiap individu. Dalam Alquran Surat at-Tahrim ayat 6 Allah Swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
"Kata "anfusakum" dalam ayat ini yang berarti "dirimu", menandakan bahwa setiap diri pribadi, atau setiap individu harus memiliki tanggung jawab yang sama dalam upaya melaksanakan pendidikan agama Islam, agar ia terhindar dari api neraka.
Dalam sisi lain, ayat tersebut juga menegaskan bahwa di samping diri pribadi, maka keluarga juga harus dididik dengan baik. Karena ayat tersebut berbicara tentang diri pribadi dan keluarga, maka jelaslah bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab semua orang.
Dalam implementasinya, orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga. Guru-guru dan pengelola pendidikan, termasuk pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan di lingkungan sekolah. Tokoh masyarakat sebagai penanggung jawab pendidikan agama Islam di lingkungan masyarakat.
Ketiga pihak ini, masing-masing memiliki tanggung jawab pendidikan secara tersendiri dalam lingkungannya masing-masing. Namun, tidaklah berarti bahwa mereka hanya bertanggung jawab penuh di lingkungannya saja, tetapi juga memiliki tanggung jawab yang signifikan dalam lingkungan pendidikan itu sendiri.
Orang tua misalnya, ia sebagai penanggung jawab pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga, tetapi tanggung jawab tersebut bukan hanya terbatas pada lingkungan rumah tangga saja, namun juga dibutuhkan tanggung jawabnya di lingkungan sekolah dan juga masyarakat.
Banyak nilai-nilai pendidikan agama Islam yang dapat dan harus dibangun di dalam keluarga, seperti peduli sesama, kreatif, jujur, tanggung jawab, disiplin, sehat, dan bersih. Keluarga adalah laksana taman atau lahan yang subur tempat menyemaikan dan menanam benih-benih nilai tersebut.
Imam Al-Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin, (1964:193) sangat menekankan aspek akhlak dalam sistem pendidikannya karena menurutnya tujuan pendidikan agama Islam adalah pendidikan akhlak itu sendiri. Lebih lanjut Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa lingkungan rumah tangga menurutnya yang sangat dominan dalam membina pendidikan akhlak, karena anak yang berusia muda dan kecil itu lebih banyak di lingkungan rumah tangga dari pada di luar.
Kemudian ikatan ibu bapak dengan putera puterinya adalah lebih kuat daripada ikatan persaudaraan dan ikatan lainnya, sehingga jelas akan memberikan pengaruh yang lebih besar dalam proses pendidikan akhlak, dibanding pengaruh yang diberikan oleh komponen pendidikan lainnya.
Secara umum menurut Imam Al-Ghazali, keluarga memegang peranan penting dalam pendidikan akhlak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menurut Imam Al-Ghazali pendidikan akhlak sangat urgen dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan agama Islam dalam lingkungan rumah tangga disebut dengan memberikan peran yang sangat berarti dalam proses pembentukan kepribadian Muslim anak sejak dini. Sebab, di lingkungan keluarga inilah seseorang menerima sejumlah nilai dan norma yang ditanamkan sejak masa kecilnya.
Dalam hal ini Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali `Imran: 102).
Seruan kepada orang-orang beriman untuk bertakwa dalam ayat di atas, bermuara pada pembentukan kepribadian Muslim. Orang yang beriman hendaknya menumbuhkan karakter takwa pada dirinya. Dengan tumbuhnya ketakwaan tersebut pada dirinya, maka akan melahirkan kepribadian Muslim seutuhnya. Dengan demikian, manusia yang beriman dan bertakwa merupakan ciri manusia Muslim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-murni-spdimpd-dosen-fakultas-tarbiyah-dan-keguruan-uin-ar-araniry-banda-aceh.jpg)