Selasa, 19 Mei 2026

Luar Negeri

20 Petani Tewas Ditembak Sekelompok Pria Bersenjata di Darfur, 20 Orang Lainnya Kritis

Pada Jumat (25/7/2020) sebanyak 20 petani tewas ditembak mati oleh sekelompok pria bersenjata di Darfur, Sudan.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
Warta Kota/Istimewa
ILUSTRASI Penembakan 

SERAMBINEWS.COM, KHARTOUM - Pada Jumat (25/7/2020) sebanyak 20 petani tewas ditembak mati oleh sekelompok pria bersenjata di Darfur, Sudan.

Tak hanya petani, korban tewas juga termasuk anak-anak dan para wanita.

Menurut kepala adat di Darfur, Ibrahim Ahmad dikutip AFP mengatakan bahwa, "Kesepakatan telah dicapai di mana pemilik tanah akan kembali ke ladang mereka namun pria bersenjata datang pada hari Jumat dan melepaskan tembakan yang menewaskan 20 orang termasuk 2 wanita dan anak-anak."

Pembunuhan itu tepatnya terjadi di Aboudos, 90 kilometer bagian selatan Nyala, sebuah ibu kota Provinsi Darfur Selatan, menurut keterangan Ahmad.

Sebanyak 20 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan itu, ungkap Ahmad.

Angka kematian bisa meningkat karena "beberapa orang yang terluka berada dalam kondisi kritis."

Seorang korban selamat berkenan diwawancarai AFP dengan syarat anonim menceritakan bahwa para petani telah kembali ke ladang mereka untuk mengambil kesempatan di musim hujan dengan mulai menanam.

"Karena kekerasan sudah tidak terjadi selama 16 tahun, dan kami pikir itu sudah berakhir," katanya.

"Kelompok pria bersenjata datang dengan sebuah truk. Salah satunya punya senapan mesin.

Mereka mengelilingi kami dari berbagai penjuru mata angin dan mulai menembak."

Korban selamat itu mengatakan 14 orang tewas di tempat, sementara 6 lainnya tewas di rumah sakit.

Konflik di Darfur pecah setelah pemberontak etnis minoritas Afrika, yang mengeluhkan marjinalisasi mengangkat senjata terhadap pemerintah Sudan.

Negara itu membalas dengan kekerasan yang dipimpin oleh Janjaweed, milisi yang ditakuti dan direkrut dari suku-suku nomaden Arab terutama di wilayah Sudan Barat menurut Peace Insight.

Janjaweed merupakan milisi yang didukung penuh oleh pemerintah Sudan untuk memberantas gerakan separatis dan anti-pemerintahan.

Presiden Sudan saat itu, Omar Al Bashir (kini sudah dikudeta dan dalam proses diadili) diincar oleh Pengadilan Kriminal Internasional atas tuduhan genosida dan kejahatan kemanusiaan dalam Konflik Darfur.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved