Petani Panen
Hasil Panen Dikeluarkan Gunakan Perahu, Petani Minta Bangun Jembatan Gantung
Pasalnya, selama ini petani baik pergi ke ladang, maupun mengeluarkan hasilnya menggunakan perahu. Karena, belum ada sarana jembatan.
Penulis: Seni Hendri | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Seni Hendri I Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Petani yang berkebun di seberang Sungai Peureulak, Aceh Timur, khususnya warga Desa Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, dan warga Dusun Ketibung, Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi Lokop, meminta pemerintah membangun jembatan gantung di daerah itu.
Pasalnya, selama ini petani baik pergi ke ladang, maupun mengeluarkan hasilnya menggunakan perahu. Karena, belum ada sarana jembatan.
Hal ini sangat berbahaya bagi petani terutama waktu aliran sungai banjir, rawan terjadi kecelakaan, apalagi aliran sungai ini juga ada buayanya.
Namun meski penuh risiko, tak ada pilihan lain, petani tetap harus mengeluarkan berbagai hasil panennya menggunakan perahu.
“Karena belum ada jembatan gantung terpaksa petani mengeluarkan hasil panennya menggunakan perahu untuk diseberangkan ke darat. Karena itu, mohon kepada pemerintah membangun jembatan gantung," ungkap Bukhari Muslim MH tokoh masyarakat Serbajadi Lokop, Aceh Timur, kepada Serambinews.com, Senin (27/7/2020).
Usulan untuk pembangunan jembatan gantung di daerah itu, jelas Bukhari, sudah beberapa diusulkan sebelumnya namun belum ada tanggapan dari pemerintah.
Keluhan serupa juga disampaikan Ardiansyah, dan Hamidin, mewakili petani di Tanjung Lipat, Desa Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron. Mereka juga meminta kepada pemerintah agar membangun jembatan gantung yang mengangkangi Krueng Peureulak di daerah itu.
• Dua Terdakwa Mucikari Prostitusi Online di Langsa Dicambuk 95 Kali, Ini Ancaman Untuk Mucikari Lain
• Pogram Sawue Ureung Saket Aceh Jaya Masuk Top 45 Inovasi Pelayanan Dari Kemenpan-RB
• Waduh, Korea Utara Hukum Warganya yang Nonton Drama dan Bicara Gaya Korsel, Termasuk Cukur Rambut
“Selama ini warga mengeluarkan hasil pertanian masih menggunakan perahu. Ada banyak petani berladang di seberang sungai, karena itu kita mohon kepada Pemerintah membangun jembatan gantung,” harap Ardiansyah.
Menurut Ardi, aliran sungai Krueng Peureulak ini banyak buayanya, serangan buaya inilah yang sangat dikhawatirkan petani saat petani menyeberangkan hasil panen menggunakan perahu.
Berbagai jenis tanaman ditanam petani di seberang sungai seperti sawit, pinang, jagung, dan aneka tanaman lainnya.
"Yang kami resahkan, aliran Krueng Pereulak di daerah kami ini banyak buaya, karena itu kami mohon kepada pemerintah agar dibangun jembatan yang sangat dibutuhkan warga,” harap Ardi.
Untuk diketahui, sepanjang aliran Krueng Peureulak mulai dari hulu Kecamatan Serbajadi, Peunaron, dan hilir Kecamatan Ranto Peureulak, dan Peureulak, sepanjang sisi kanan dan kiri aliran sungai terdapat petani yang bercocok tanam, sebagian daerah sudah ada jembatan penghubung, dan sebagian lagi belum dibangun.
Camat Peunaron Muhammad Arif mengatakan pihaknya telah menerima laporan terkait permintaan warga meminta dibangun jembatan gantung di Dusun Tanjung Lipat, Desa Peunaron Baru.
“Laporan dari petani sudah kita terima, dan akan kita usulkan, semoga dapat terwujud,” tukas Arif.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/petani-94949.jpg)