Breaking News:

Jurnalisme Warga

Petualangan Mencicipi Kuliner ‘Bebek Kuntilanak’

Hal itu yang saya rasakan saat pertama kali mengunjungi Rumah Makan ‘Bebek Kuntilanak’ pada malam Jumat, bersama tim The Leader

Petualangan Mencicipi Kuliner ‘Bebek Kuntilanak’
IST
AYU ‘ULYA, Blogger, Tim Research and Development (R&D) The Leader, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Aceh Besar

OLEH AYU ‘ULYA, Blogger, Tim Research and Development (R&D) The Leader, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Aceh Besar  

“Petualangan paling menarik diperoleh dari rencana dadakan dengan persiapan matang.” Ini menjadi sepenggal moto sakti yang dipercayai kalangan petualang. Mengoleksi pengalaman baru bertaburkan bumbu misteri pastinya punya keasyikan tersendiri. Hal itu yang saya rasakan saat pertama kali mengunjungi Rumah Makan ‘Bebek Kuntilanak’ pada malam Jumat, bersama tim The Leader pada medio Juli lalu.

Rumah makan yang lebih dikenal warga sekitar dengan nama Sie Itek  Pak Nasir ini ternyata telah hadir sejak 1994. Letaknya di Gampong Turam, Mukim Biluy, Kecamatan Darul Kamal, Kabupaten Aceh Besar. Rumah makan itu beroperasi pada malam hari, tepatnya selepas magrib. Untuk sampai ke tempat ini, petunjuk dari google map akan sangat membantu. Pengunjung akan melewati sepetak kawasan perkuburan umum di sisi jalan raya. Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan memasuki lorong-lorong berkelok yang cukup gelap dan sunyi. Tak jarang saat menempuh perjalanan sepi itu bulu roma ikut berdiri. Perasaan ganjil yang hadir layaknya ketika menonton film horor bertemakan makhluk halus sebangsa kuntilanak. Oleh karenanya, pengalaman perjalanan mencicipi kuliner  bu sie itek   khas Aceh Besar itu kerap viral dikisahkan oleh warganet dengan sebutan “Bebek Kuntilanak”.

Setiba di sana, saya terkesiap. Pasalnya, tampilan rumah makan itu benar-benar jauh dari kesan mewah ala restoran, kafe, ataupun warung makan kekinian. Rumah Makan Bebek Kuntilanak tampil sangat sederhana dan apa adanya. Bentuk bangunannya semipermanen, didominasi dinding-dinding kayu, dengan luas lebih kurang 5x12 meter persegi. Ruangannya hanya bercahayakan lampu temaram.

Lantainya beralaskan karpet plus tikar. Minumannya disajikan dalam teko plastik. Makanannya disantap menggunakan tangan, air kobokan disediakan untuk per orang. Sebuah tempat makan yang benar-benar tidak instagramable, tapi pengunjungnya tak henti berkunjung setiap malam, bahkan hingga pagi menjelang. Dikarenakan suasana tempat tersebut benar-benar selayaknya rumah untuk pulang, melepas rindu, berkumpul bersama keluarga, sembari menyantap kari bebek bersama.

Para pengunjung yang datang untuk makan akan dipersilakan masuk dan duduk bersila bersama-sama dengan pengunjung lainnya. Tak ada sekat meja ataupun kursi yang membatasi zona ketidakkenalan. Bahkan ada kalanya lutut-lutut antarpengunjung menjadi saling bertemu tatkala berbagi tempat duduk saat lesehan di lantai rumah yang tak seberapa luas itu. Uniknya, walau tak saling kenal, tampaknya tak ada pengunjung yang merasa enggan dengan suasana makan bersama semacam itu. Sebuah tempat bersantap yang bahkan membuat orang sejenak mampu melupakan gawainya.

Orang-orang menjadi saling terkoneksi di alam nyata dalam tawa dan canda sembari menyantap hidangan gulai sie itek keurenyai  dan kari sie reuboh  superlezat. 

Menariknya, walau usaha kuliner tersebut sudah berdiri lebih dari seperempat abad, ternyata rumah makan Bu Sie Itek  Pak Nasir  tetap konsisten menyajikan hanya satu jenis minuman saja, yaitu air putih hangat beraromakan pandan plus asap kayu bakar. Walau tampak sederhana, nyatanya rasa air putih tersebut sungguh nikmat. Belum lagi nasi putih hangat yang disajikan dalam porsi tulak kapai alias jumbo. Bahkan, para pengunjung diperbolehkan menambah nasi dan air minum secara leluasa hingga kenyang. Hebatnya lagi, ternyata nasi maupun air tersebut tidak masuk list biaya dan dapat disantap sepuasnya.  

Adapun menu gulai bebek dengan citarasa  u teulheue (kelapa gongseng) yang sangat lezat itu dihargai 13.000 rupiah saja per porsinya. Khusus kari sie reuboh hanya dihadirkan setiap malam Jumat, dengan harga setara gulai bebek. Terdapat pula opak singkong  homemade selebar bola basket yang dihargai hanya seribu rupiah per potong. Kesemua masakan diolah mandiri secara berkualitas oleh keluarga “Ayah”, sang pemilik rumah kuliner  Sie Itek Desa Turam.

Sejujurnya, saya tak habis pikir dengan konsep bisnis rasa amal yang diterapkan dalam usaha kuliner Pak Nasir ini. Dengan potensi pasar yang cukup menjanjikan, pengalaman bisnis kuliner khas Aceh Besar selama puluhan tahun, pengolahan makanan lezat plus sehat tanpa campuran bahan penyedap, ditambah lagi proses memasak yang khas menggunakan kayu bakar, kesemua potensi itu seakan tak membuat sang Ayah lupa daratan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved