Breaking News:

Jurnalisme Warga

Petualangan Mencicipi Kuliner ‘Bebek Kuntilanak’

Hal itu yang saya rasakan saat pertama kali mengunjungi Rumah Makan ‘Bebek Kuntilanak’ pada malam Jumat, bersama tim The Leader

Editor: bakri
Petualangan Mencicipi Kuliner ‘Bebek Kuntilanak’
IST
AYU ‘ULYA, Blogger, Tim Research and Development (R&D) The Leader, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Aceh Besar

Puluhan tahun berlalu, nyatanya usaha kuliner Pak Nasir tetap tampil konservatif dengan harga yang sangat merakyat. Saya kagum dengan pola bisnis kuliner yang tetap menautkan khazanah budaya khanduri  ala masyarakat Aceh dalam praktiknya. 

Kari sie reuboh

Sebagai seseorang penyuka makanan gurih dan asam, cuka ijuk kerap masuk daftar jenis bahan makanan favorit. Cuka jok merupakan bahan utama yang digunakan saat pembuatan masakan sie reuboh  khas Aceh Besar.

Sepanjang pengalaman mencicipi ragam jenis masakan sie reuboh, baru kali itu saya memakan sie reuboh  berkuah encer layaknya kari, mirip sajian kuwah beulangong. Biasanya sie reuboh disajikan dalam bentuk potongan-potongan daging yang cukup besar dengan rasa yang kuat karena dibalur kekentalan bumbu--cuka ijuk, garam, bawang merah, lengkuas muda, kunyit, cabai merah, cabai rawit utuh--dan juga gajih yang cukup banyak. Sie reuboh dimasak dalam kuali tanah. Kematangannya ditandai melalui aroma bumbu yang mengharum, daging yang melunak, dan gajih yang pecah menjadi minyak berwarna kuning kemerahan.

Jika sudah dingin, gapah  akan kembali menggumpal, sehingga sie reuboh  harus dipanaskan kembali sebelum dikonsumsi. 

Adapun sie reuboh di Rumah Makan Pak Nasir tampil dalam bentuk potongan-potongan daging yang lebih kecil, dengan sedikit gajih, plus kari encer dengan rasa asam pedasnya yang segar. Keseluruhan sajian sie reuboh tersebut terasa lebih ringan (light), dengan kelezatan yang tetap menggoyang lidah. Ini merupakan pengalaman pertama saya merasakan kuliner sie reuboh dengan sajian yang agak berbeda dari biasanya. Namun, secara pribadi saya sangat menikmati jenis masakan sie reuboh di Rumah Kuliner ‘Bebek Kuntilanak’ ini. 

Oleh karenanya, perlu kembali kita ingat bersama bahwa masakan khas daerah merupakan salah satu bagian dari representasi budaya daerah tersebut. Menjaga rasa dan kualitas masakan khas Aceh menjadi sebentuk upaya penjagaan budaya Aceh itu sendiri.

Oleh sebabnya, bagi saya, menyempatkan diri mencicipi  ragam kuliner khas Aceh yang keaslian rasanya masih terjaga merupakan sebentuk edukasi diri agar ke depannya kita, anak-anak, bahkan cucu-cucu kita tetap dapat mengingat potret ragam akar budaya khas Aceh. Budaya yang membangun koneksi jiwa antarmanusia, melalui santapan sajian makanan yang dinikmati bersama-sama. Nah, siapa sangka petualangan kuliner yang awalnya terasa seram, justru mengajarkan begitu banyak kehangatan interaksi sosial. Jadi, sudah siapkah Anda menikmati petualangan kuliner pada malam selanjutnya? 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved