Breaking News:

Berita Bireuen

Elpiji Melon Sulit Diperoleh di Bireuen, Ini Dugaan Penyebabnya

Elpiji melon sulit diperoleh di Bireuen sejak seminggu terakhir. Persoalannya,konsumen bertambah tapi persediaan terbatas.

hand over dokumen pribadi
Zakaria, pemilik pangkalan gas di Geulanggang Baro, Kota Juang Bireuen 

Laporan Yusmandin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM - Tabung gas ukuran 3 kilogram bersubsidi (elpiji melon) sulit diperoleh di Bireuen sejak seminggu terakhir, persoalannya mulai dari konsumen bertambah, persediaan terbatas, pasokan ke pangkalan tidak bertambah.

“Saat ini gas subsidi sulit diperoleh, di pangkalan peruntukannya sudah jelas, ketika ada informasi gas sudah langka akan semakin sulit diperoleh,” kata Nurma, seorang ibu rumah tangga warga Cot Gapu Bireuen kepada Serambinews.com, Minggu (02/08/2020).

Nurma mengaku sejak dua hari lalu sudah keliling mencari gas subsidi di sejumlah kios pengecer, akhirnya diperoleh walaupun harga sudah di atas harga resmi pemerintah.

“Yang penting ada dulu, soal harga naik sedikit kita maklum saja, “ ujarnya. Bustaman, seorang warga lainnya kepada Serambinews.com mengaku  sejak seminggu terakhir gas tabung 3 kilogram sulit diperoleh.

Zakaria pemilik pangkalan gas PT Abadi di Geulanggang Baro kepada Serambinews.com, Senin (03/08/2020) mengatakan, gas subsidi ukuran 3 kilogram di pangkalannya saat ini kondisi normal dan didistribusikan kepada masyarakat yang mencakup wilayah distribusinya.

Ketentuan penyaluran, 1 tabung  setiap minggu untuk satu keluarga atau  4  tabung dalam satu bulan. Sedangkan untuk usaha mikro juga dapat 1-2 tabung minggu, maksimal 7-8 tabung/bulan, harga HET Rp 18.000/tabung.

“Mungkin kebutuhan satu rumah tangga lebih dari satu tabung perminggu agak sulit menjelaskan karana kuota yang diberikan juga terbatas,” ujarnya.

Menjawab Serambinews.com sering terjadi kelangkaan, Zakaria memastikan di pangkalannya normal, pangkalan lainnya ia tidak mengetahui persis.

“Banyak warga datang ingin membeli dalam jumlah lebih dari 1 tabung setiap minggu tidak bisa diberikan, pembelinya juga sudah terdata,” ujarnya.

Kepala Dinas  Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM Bireuen, Ir Alie Basyah MSi kepada Serambinews.com menduga terjadinya kelangkaan gas tabung ukuran 3 kilogram karena kebutuhan semakin meningkat dan mungkin juga banyak pembeli dari kalangan berada, sehingga jatah warga miskin terus berkurang.

Sebaiknya kata Alie Basyah, setiap desa memiliki usaha penjualan gas tabung elpiji yang dikelola desa sehingga kelangkaan gas dapat teratasi.

“Setiap desa bentuk Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) dan kelola penyaluran gas di desanya sehingga masyarakat desa mudah memperoleh gas subsidi pemerintah,” sarannya.(*)

Elpiji Langka di Aceh Utara, Pertamina Periksa Pangkalan

Penyebaran Covid-19 di Bireuen Sulit Dideteksi, Masyakarat Diminta Perketat Protokol Kesehatan Diri

Peserta Tes SKB CPNS Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

Angin Kencang Rusakkan Rumah Warga di Nagan Raya, Begini Kronologinya

Penulis: Yusmandin Idris
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved