Berita Aceh Barat
Dampak Pandemi Virus Corona, Harga Buah Jernang Ikut-ikutan Ambruk
Virus Corona yang berasal dari Kota Wuhan, China juga memberi dampak besar terhadap harga buah jernang. Bahan pembuat cat mobil dan lainnya.
Penulis: Sadul Bahri | Editor: M Nur Pakar
Laporan Sa’dul Bahri | Aceh Barat
SERAMBINEWS.COM, MEULABOH – Virus Corona yang berasal dari Kota Wuhan, China juga memberi dampak besar terhadap harga buah jernang.
Bahan pembuat cat mobil dan lainnya, saat ini hanya dihargai Rp 45 ribu per kg.
Tentunya terpaut sangat jauh dengan harga di awal 2018 lalu yang mencapai Rp 250 ribu kg.
Jernang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku marmer, alat-alat batu, keramik, cat kayu, farmasi, kertas, serbuk pasta gigi, hingga ekstra tenun.
Tetapi, seiring produksi bahan-bahan tersebut turun, seiring permintaan turun, maka permintaan jernang juga turun.
Secara tradisional, buah jernang sejak lama dikenal sebagai salah satu ramuan obat-obatan yang ampuh
Tetapi, dengan kondisi pandemi virus Corona, perbatasan perjalanan telah menghambat pemasaran buah jernang.
Dilaporkan, harga buah jernang di Aceh Barat pada salah satu agen penampung di Desa Bakat, Kecamatan Woyla, Aceh Barat, hanya sekitar Rp 45 ribu per kilogram.
• Empat Warga Positif Virus Corona, Ribuan Pelajar SMP dan SMA Aceh Barat Kembali Belajar di Rumah
• Anggota DPRK Aceh Selatan Minta Pemkab Perketat Pos Perbatasan, Cegah Masuknya Virus Corona
• Gayo Lues Perketat Empat Pintu Perbatasan, Cegah Masuknya Virus Corona
Hal tersebut jauh menurut drastis dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 250 ribu per kilogram pada awal 2018 lalu.
“Saat ini kita hanya bisa beli buah jernang sekitar Rp 45 ribu per kilogram,” jelas Adnan, salah satu agen pengumpul jernang di Desa Bakat kepada Serambinews.com, Rabu (5/8/2020).
Disebutkan, menurutnya pembelian harga tersebut akibat pandemi Covid-19,.
Sehingga barang tersebut masih sulit untuk diekspor keluar negeri. sehingga harga beli juga turun.
Disebutkan, meski harga jauh drastis menurun, namun tetap masih banyak warga yang menjual ke tempat penampungan di Desa Bakat.
Disebutkan, di Aceh Barat tergolong banyak petani jernang.
Bahkan, sebagian warga tetap melakukan usaha tersebut untuk kebutuhan ekonomi.
Dilansir sebelumnya pada 19 Maret 2018, getah jernang atau biasa disebut ‘darah naga’ merupakan serbuk atau resin yang terdapat pada buah rotan jernang (Daemonorops sp.).
Hasil uji fotokimia menunjukkan resin jernang berpotensi sebagai antioksidan dan prokoagulasi darah.
Karena mengandung senyawa semi-polar yang terdeteksi positif sebagai obat-obatan.
Apalgi di dalamnya terdapat kandungan senyawa flavonoid, triterpenoid, dan tanin.
Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kebutuhan getah jernang meningkat hingga 400 ton per tahun, sementara suplai semakin terbatas.
Hal ini menyebabkan harga buah segar meningkat dari Rp 150.000-Rp 200.000/kilogram pada tahun 2013 menjadi Rp 400.000/kilogram pada 2015.
Bahkan, sekitar Rp Rp 500.000-Rp 600.000/kilogram pada 2017.
Sedangkan resin jernang kualitas super dihargai hingga Rp 8 juta/kilogram.
Saat itu, karena harga jernang begitu menggoda, sudah banyak warga yang menjadi korban saat memburu ‘darah naga’ di hutan belantara.
Setidaknya beberapa orang sudah menjadi korban.
Tetapi, saat ini, warga tidak perlu lagi berburu ke hutan, karena sudah bisa dibudidayakan di kebun dekat pemukiman penduduk.(*)