Ulama Aceh
Waled Marhaban Bakongan, dari Ulama hingga Tokoh Perdamaian Aceh
Ketika Gusdur menjadi Presiden, Waled Marhaban beberapa kali pergi ke Jakarta menjumpai Gusdur beserta dengan rombongan mengusulkan damai Aceh.
Penulis: Syamsul Azman | Editor: Safriadi Syahbuddin
Laporan Syamsul Azman | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, ACEH SELATAN - Waled Marhaban Bakongan merupakan salah satu Ulama Karismatik Aceh yang banyak berkiprah pada sosial kemasyarakatan.
Selain mengajar agama dan menjadi salah satu pimpinan pondok pesantren, Waled Marhaban juga ikut terlibat dalam mendamaikan konflik antara Aceh dengan Republik Indonesia beberapa tahun silam.
Keseharian Waled Marhaban mengajar agama, yakni pada dimulai dari pukul 8 sampai pukul 11 pagi, lalu dilanjutkan setelah Magrib sampai jam 11 malam.
Latar Belakang
Waled Marhaban dilahirkan di Bakongan pada tanggal 24 September 1950, saat ini beliau sudah berusia 70 tahun.
Perjalanan beliau dimulai dari setelah setelah tamat Sekolah Dasar pada tahun 1963, beliau melanjutkan sekolah SMP Swasta sambil mengaji pada Abu (Tgk Syekh H Adnan Mahmud) atau dikenal Nek Abu Bakongan di Masjid Bakongan.
Tahun 1968 Waled Marhaban melanjutkan pendidikan agama di Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.
• Kopi, Kuah Beulangong hingga Ayam Tangkap, Cara Srikandi Indonesia Merawat Damai Aceh dari Finlandia
Beberapa tahun belajar di Labuhan Haji, pada tahun 1971, Waled Marhaban pulang kampung (Bakongan) dan tahun 1972 Waled kembali melanjutkan belajar mengaji ke Samalanga, Bireuen, Aceh.
Kala itu Pesantren Mudi masih diasuh oleh Abon Abdul Aziz Samalanga. Selama lebih kurang 17 tahun Waled menuntut ilmu di Samalanga.
Pada tahun 1989 setelah Abon Samalanga meninggal dunia, Waled Marhaban memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Bakongan dan membantu Pesantren Ashabul Yamin milik ayah yakni Nek Abu Bakongan atau bernama lengkap Tgk Syekh H Adnan Mahmud.
Kemudian tahun 1990, Waled Marhaban membuka lahan perkebunan pesantren di Ujong Pulo, Bakongan Timur, Aceh Selatan. Karena banyaknya hama, Waled Marhaban membuat bilik tidur untuk tempat tinggal orang mengaji.
Tahun 1994 Waled Marhaban menunaikan ibadah haji kebetulan satu tempat istirahat dengan Abuya Nasir, waktu itu Abu Nasir minta izin pada Alharhum Abu (Nek Abu) supaya bisa bermalam di pesantren Raudhatul Muna Ujong Pulo dengan santri waktu itu dengan jumlah sekitar 40 sampai 50 orang sambil membuat pagar dan membantu menanam kelapa.
Abu keberatan karena ingin besarkan pesantren Ashabul Yamin, sedangkan ini wilayah kebun tapi karena Abu Nasir berulang-ulang minta izin waktu itu, maka Abu mengizinkan.
• Pemerintah dan Ulama Aceh Besar Bersinergi Hadapi Covid-19
Tahun 1996, Waled Marhaban dapat penghormatan dari Pemerintah Aceh kala itu Prof Dr H Syamsudin Mahmud MSi Gubernur Aceh periode 1993 - 2000 yang diangkat sebagai Gubernur Aceh menggantikan Ibrahim Hassan, mengunjungi pesantren Raudhatul Muna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/waled-marhaban-bakongan-dari-ulama-hingga-tokoh-damai-konflik-aceh.jpg)