Jurnalisme Warga
Cerita di Balik Masyhurnya Kupiah Meukeutop
Kupiah merupakan sejenis penutup kepala yang berasal dari Aceh. Tanpa kita jelaskan panjang lebar, tentu semuanya paham makna dasar kupiah
OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota FAMe Chapter Pidie, melaporkan dari Sigli
Kupiah merupakan sejenis penutup kepala yang berasal dari Aceh. Tanpa kita jelaskan panjang lebar, tentu semuanya paham makna dasar kupiah. Khusus di Aceh, salah satu kupiah yang terkenal adalah kupiah meukeutop.
Secara historis, kupiah meukeutop lebih dikenal dengan topi kebesaran yang dipakai Teuku Umar, pahlawan nasional dari Aceh. Tidak ada sumber sejarah pasti yang menjelaskan kapan atau siapa pertama kali yang memakai kupiah ini, karena Panglima Polem dan Sultan Muhammad Daud Syah pun memakainya.
Pada dasarnya masyarakat masih ada yang belum mengetahui asal-muasal kupiah khas Aceh yang satu ini. Banyak yang masih beranggapan bahwa kupiah tungkop ini berasal dari Meulaboh, karena dipakai oleh Teuku Umar, pejuang Aceh yang pernah mempermalukan Belanda.
Kupiah yang menjadi ikon masyarakat Aceh ini sudah ada pada masa kolonial Belanda. Kupiah meukeutop dulunya masyhur dengan nama kupiah tungkop, karena kupiah ini berasal dari pemukiman Tungkop atau lebih detailnya di gampong Rawa Tungkop, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.
Berdasarkan sebuah cerita yang kami kutip dari masyarakat di sekitar gampong, yang pertama sekali membuat kupiah meukeutop adalah Nek Sapiah.
Filosofi meukeutop
Untuk membuatnya, kain dipotong kecil-kecil lalu dirajut jadi satu, berbentuk lingkaran. Di pPinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman dikombinasikan warna hitam, hijau, merah dan kuning. Anyaman serupa terdapat di bagian tengah, yang dibatasi lingkaran kain hijau di atasnya dan kain hitam di bawah.
Pada lingkaran kepala bagian bawah, terdapat motif yang lebih dominan, berbentuk huruf hijaiyah, yaitu lam. Namun, ada garis yang menyambung antara bagian bawah dan atas motif tersebut. Motif yang sama juga terdapat di lingkaran kepala bagian atas, hanya saja ukurannya lebih kecil. Di bagian paling atas, terdapat rajutan benang putih sebagai alas mahkota kuning emas, bertingkat tiga.
Huruf lam yang terbentuk dari kupiah meukeutop karena adanya empat tingkatan warna yang juga memiliki makna dan filosofi tersendiri. Tingkatan pertama bermakna hukum agama, tingkatan kedua bermakna adat, tingkatan ketiga bermakna qanun, sedangkan tingkatan keempat bermakna reusam. Dengan demikian, melihat kupiah meukeutop sama halnya dengan melihat rambu-rambu kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh yang berlandaskan pada: agama, adat, qanun, dan reusam.
Kupiah meukeutop terbuat dari kain berwarna dasar merah, kuning, hijau, putih, dan hitam. Warna yang dipakai memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan kepahlawanan, kuning melambangkan negara atau kerajaan, hijau melambangkan keagamaan, putih memiliki makna keikhlasan atau kesucian, dan hitam bermakna ketegasan hati.
Terkenal dalam luka
Di tahun ini kupiah meukeutop menemukan momentumnya, khususnya di Aceh, bahkan Jawa. Saat ini sedang ramai masyarakat memakai kupiah meukeutop, dari anak-anak hingga orang tua, hal itu tampak dari beberapa postingan di sosial media dengan #gerakansejutakupiahAceh, sebuah kegiatan gerakan sejuta kupiah Aceh yang dipelopori oleh Dr Teuku Muttaqin Mansur MH yang berprofesi sebagai Dosen Hukum Adat Fakultas Hukum Unsyiah melalui gerakan sejuta kupiah Aceh.
Masyarakat Aceh menyambut hangat ketika ada sebuah gerakan menggunakan kupiah meukeutop, bahkan kupiah ini juga dipromosikan ke luar daerah, dan telah dipakai oleh tokoh-tokoh besar, seperti Sandiaga Uno dan Ustaz Abdul Somad. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo MIP juga memakai kupiah meukeutop ini. Tentu sangat membanggakan bagi kita masyarakat Pidie. Namun, sepertinya ada rasa kecewa yang saat ini dirasakan perajin, mereka kalah dengan persaingan pasar yang semakin canggih.
Persaingan itu amat terasa di tengah permintaan pasar yang semakin membeludak, melihat proses pembuatan kupiah meukeutop secara manual membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga lahir produk yang menggunakan mesin yang hanya membutukan waktu dalam hitungan jam.
Kita bisa kembali berkaca pada sejarah batik, di mana sekarang terdapat jenis batik tulis, cap, dan printing, lalu apakah ada jenis batik yang tidak laku? Atau karena batik tulis diproduksi lama dan dijual dengan harga yang relatif mahal sehingga konsumen semua beralih ke batik printing? Tentu tidak, ketiga jenis batik itu sangat laku di pasaran dan semakin jaya karena semua ada segmentasi pasarnya.
Segmentasi pasar atau pemetaan pasar, segmentasi pasar bagi batik printing atau mesin adalah mereka yang lebih simpel, kebanyakan mereka adalah kelas menengah dan menengah ke bawah, bagi segmen pasar ini, harga adalah segalanya. Segmentasi pasar bagi batik tulis adalah para pecinta seni yang menghargai keindahan dan menjaga warisan leluhur, sehingga walaupun harga produknya tinggi tapi bagi mereka nominal bukanlah masalah.
Harapan kita
Tulisan yang lahir atas bantuan teman-teman, ini ibarat suara hati dari masyarakat yang ikut prihatin melihat perekonomian perajin yang semakin merosot, dengan lahirnya kupiah buatan mesin membuat kupiah meuketop buatan tangan ini kalah saing, sbb dari segi harga kupiah buatan mesin jauh lebih murah, jika kupiah meukeutop buatan tangan dibanderol dengan harga Rp 300.000 maka kupiah cetak itu bisa setengah harga.
Tidak perlu menjelekkan kupiah made in mesin, karena jika kupiah itu dibuat di Aceh tentu perputaran ekonomi tetap terjadi di daerah. Akan tetapa jika kupiah itu dibuat di luar aceh tentu sangat disayangkan. Sambil menunggu kinerja pemerintah yang sedang berusaha untuk mendukung pengrajin, kita sebagai masyarakat harus berlajar ilmu maketing elegan, mempromosikan tanpa menjatuhkan.
Merek ternama seperti Nike saja banyak yang kw, tapi dibiarkan, karena terkadang dengan lahirnya versi kw mereka tidak perlu bekerja keras lagi untuk menaikkan branding Nike. Hanya kita perlu mengedukasi pasar bahwa ada yang asli, harganya tinggi tapi sesuai dengan kualitasnya, tapi kalaupun ada yang kw tapi kualitasnya seperti asli, orang terkadang bukan membeli barangnya, mungkin membeli gengsi.
Ibarat kata makan masakan ibu jauh lebih nikmat, maka membeli produksi asli juga jauh lebih hangat, soalnya dibuat oleh ibu-ibu dengan tangan yang penuh kasih sayang.
Selain itu, ada harapan besar yang diharapkan dari pemerintah, agar pemimpin kita sudi kiranya memperhatikan perajin secara serius dan ikut proaktif mengampanyekan produk lokal karya pengrajin, karena tanpa usaha pengrajin menjaga kupiah meukeutop, mungkin hari ini kita hanya bisa melihat kupiah itu di gambar.
Mimpi kita semua semoga kupiah meukeutop akan ada hak paten atau Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) sehingga menjadi salah satu warisan budaya Pidie.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ida-fitri-handayani-guru-sma-4-banda-aceh.jpg)