Senin, 18 Mei 2026

Keanekaragaman Hayati

Gayo Punya Aset Padi Lokal, “Rom Bontok” Pendek Gemuk dan “Rom Tajuk” yang Harum

Penelitian tersebut untuk mengidentifikasi pengetahuan tradisional dan bahasa Gayo dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Kawasan Ekosistem

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FIKAR W EDA
Narasumber penelitian keanekaragaman hayati yang diselenggarakan Fakultas Kehutanan IPB, di Jakarta, Sabtu (29/8/2020). 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Masyarakat Gayo mengenal beberapa jenis padi lokal.

Ada yang disebut “rom alas, rom pulut, pede arang, limbo, rempak, rom tajuk, rom kuring dan rom bontok.”

Semua jenis padi tersebut memiliki spesifikasi masing-masing, bentuk, rasa, dan tempat tumbuh.

Hal ini terungkap dalam diskusi kelompok atau FGD yang diselenggarakan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Ikatan Musara Gayo (IMG) Jabodetabek) di Jakarta, Sabtu (29/8/2020).

FGD tersebut menghadirkan narasumber lintas generasi, Ahyar Gayo, Udin Musara, Prof M Dien Madjid, Prof Ismail Arianto, Hamid Hakim, Muawiyah Sabdin, Alamsyah M Gayo , Basiq Djalil, Usuluddin Malik.

Penelitian tersebut untuk mengidentifikasi pengetahuan tradisional dan bahasa Gayo dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Kawasan Ekosistem Leuser, meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues.

“Rom” atau padi ada yang dinamakan “rom alas” atau “rom padang”. Disebut demikian karena umumnya padi jenis ini ditanam di hamparan yang landai pada jenis tanah tertentu.

Di Masa Sulit, Orang Gayo Manfaatkan Pohon Aren dan Batang Pisang jadi Makanan Ganti Nasi

Ini Niat dan Tata Cara Shalat Dhuha dalam Tulisan Arab Lengkap Artinya

Pasangan Tertua di Dunia Tercatat di Ekuador, Berusia 110 Tahun dan 104 Tahun

Selanjutnya dikenal “rom pulut” yakni padi pulut yang menghasilkan beras ketan. Selanjutnya juga ada dinamakan “rom tajuk” jenis ini menghasilkan beras harum bunga.

“Tajuk dalam Bahasa Gayo adalah bunga,” kata Prof Dien Madjid, yang juga guru besar di UIN Syarif Hidayatullah.

“Rom tajuk” umumnya ditanam di wilayah hutan dengan mengandalkan air tadah hujan. Lalu ada lagi “rom kuring” warnanya butiran padinya berbintik kuning.

“Rom limbo” dijelaskan Udin Musara, bentuk butirannya lebih panjang dan besar. Ia menyebut dulu jenis padi ini banyak ditanam di Kampung Bintang, kampung kelahiran Udin Musara.

Seterusnya ada lagi yang dinamakan “rom bontok” menurut Hamid Hakim bentuk berasnya lebih pendek dan gemuk. Saat ini katanya masih ditanam beberapa kawasan di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

“Rom bontok” ini umumnya di tanaman di dekat perkebunan.

Ketua Tim Peneliti, Dr Arzyana Sunkar yang juga dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, menjelaskan, eksploitasi spesies flora dan fauna memberikan dampak terhadap kelangkaan dan kepunahan spesies.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved