Diskusi Empat Pilar MPR
Indonesia Anut Model Perekonomian Kerumunan, Berbeda dengan Malaysia dan Singapura
ektor Universitas Paramadina Prof. Firmanzah PhD, menyebutkan model perekonomian Indonesia adalah model perekonomian kerumunan, dimana 99 persen..
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Rektor Universitas Paramadina, Prof Firmanzah PhD menyebutkan, model perekonomian Indonesia adalah model perekonomian kerumunan, dimana 99 persen digerakkan oleh UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah).
Berbeda dengan model perekonomian Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di negara-negara itu, model perekonomian adalah orientasi ekspor.
Hal itu disampaikan Firmanzah dalam ‘Diskusi Empat Pilar MPR,’ di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2020). Diskusi membahas “Optimalisasi Pemberdayaan UMKM di Tengah Pandemi,” hadir sebagai pembicara anggota MPR Fraksi Partai Demokrat Dr E Herman Khaeron, anggota MPR Fraksi PDIP Prof Dr Hendrawan Supratikno, dan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Dr Rully Indrawan.
Firmanzah menyebutkan UMKM mempunyai peran yang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi. Kontribusi terhadap PDB mencapai lebih dari 60 persen.
Sektor ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja. Model perekonomian yang ada di Indonesia perekonomian kerumunan.
“Model perekonomian seperti ini, yakni 99 persen adalah UMKM, maka ia menjadi penopang perekonomian. Perekonomian tumbuh atau tidak, tergantung sektor ini. Meski demikian, model perekonomian seperti ini memiliki sisi positif dan negative,” ujar Firmanzah.
“Ekonomi kerumunan itu kalau satu gulung tikar masih banyak yang lain yang masih menopang. Berbeda dengan ekonomi yang berbasis konglomerasi. Satu konglomerasi gagal akan berpengaruh pada ekonomi yang lain seperti yang terjadi pada tahun 1998,” ungkapnya.
Dari model perekonomian kerumunan, Firmanzah mencontohkan negara Aljazair. Pada tahun 1998, negara itu memformalkan ekonomi kerumunan.
“Agar ekonomi kerumunan bisa terstruktur, caranya adalah formalisasi dunia usaha,” ungkapnya. Ia yakin dan optimis bahwa Covid-19 akan berlalu.
Dikatakan menangani Covid-19 rumusnya sederhana, “tinggal menunggu vaksin datang,” paparnya. Bila sudah divaksinkan maka selanjutnya masyarakat terbebas Covid-19.
Untuk optimalisasi UMKM menurut Firmanzah ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah, yakni pertama, memberi stimulus. Dana yang sudah dianggarkan harus segera direalisasikan. Kedua, stimulus yang ada harus tepat sasaran. “Jangan sampai salah sasaran,” ujarnya.
Ketiga, harus kontekstual artinya ada daerah-daerah di mana populasi UMKM-nya perlu menjadi fokus dari kebijakan stimulus.
Hendrawan Supratikno dalam kesempatan itu memaparkan ada UMKM yang memiliki prospek yang berkembang baik. Ada pula UMKM yang pasarnya stagnan atau mandek. Diakui masyarakat masuk dalam dunia UMKM sebab mereka tidak bisa masuk ke sektor formal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/diskusi-empat-pilar-kebangsaan-di-gedung-mpr-senin-3182020-3.jpg)