Abu Doto Luncurkan Buku “Perjuangan Tanpa Akhir”
Mantan Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah sudah lama tak terlihat tampil dalam kegiatan resmi setelah tidak lagi menjabat sebagai orang nomor
BANDA ACEH - Mantan Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah sudah lama tak terlihat tampil dalam kegiatan resmi setelah tidak lagi menjabat sebagai orang nomor satu di Aceh. Kemarin, ia muncul menghadiri acara bedah buku "Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir" di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Senin (31/8/2020).
Buku setebal 323 halaman itu menceritakan fase-fase kehidupan Abu Doto-sapaan dr Zaini Abdullah--mulai dari masa kecil, menjadi petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), hingga Gubernur Aceh periode 2012-2017 yang ditulis oleh Mohsa El Ramadan dan Mujahid Ar Razi, dua wartawan Aceh.
Acara itu dihadiri beberapa kabinet era pemerintahannya seperti Prof Abubakar Karim (Kepala Bappeda Aceh), Erdian (Karo Hukum), Nasir Zalba, (Kaban Kesbangpol dan Linmas Aceh), dan Prof Syahrizal Abbas (Kepala Dinas Syariat Islam Aceh), termasuk Hasbi Abdullah, adik kandung Abu Doto dan Yahya Muaz.
Dalam kegiatan itu, Abu Doto menceritakan perjalanan kariernya dalam pemerintahan. Ia mengungkapkan, ada banyak program pembangunan yang dicetus saat menjadi Gubernur seperti membangun 14 ruas jalan tembus untuk membuka daerah yang terisolir. Termasuk membuka akses jalan di Kemukiman Buloh Seuma, Kecamatan Trumon, Aceh Selatan.
"Di sana memang tidak banyak penduduk, tapi mereka belum merdeka dari pembangunan. Mereka dulunya kalau mau keluar ke Trumon harus melintasi melalui laut. Memang anak-anak kecil saja sudah pandai berperahu di sana, tapi risikonya besar. Bukan masalah jumlah penduduk yang saya lihat, tapi di sana ada manusia," kata Abu Doto.
Karena alasan kemanusiaan itulah, Abu Doto keukeh membangun sarana transportasi darat di Buloh Seuma. "Alhamdulillah saat itu kita sudah bisa bangun jalan walaupun tidak ada aspal, masih pengerasan dan listrik sudah masuk. Ini harus diteruskan oleh pimpinan sekarang dam masa datang," harapnya.
Konsep pembangunan dari pinggiran itu dilakukan untuk menghadirkan pemerintah ke tengah masyarakat. Sehingga masyarakat merasa dipeduli. Seperti yang terjadi di Buloh Seuma, dimana Abu Doto merupakan Gubernur Aceh pertama yang melangkahkan kakinya di daerah yang terisolir tersebut.
Tapi, katanya, banyak program prestisius Pemerintah Aceh kala itu tidak terekspose dengan baik. Sehingga terkesan tidak ada pembangunan. Masyarakat hanya menganggap selama Abu Doto, hanya pembangunan renovasi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, jalan fly over, serta jembatan Lamnyong dan Krueng Cut.
"Media tidak banyak menulis (tentang 14 ruas jalan tembus), malah saya setiap hari disemprot. Memang kalau tidak kuat bediri (sebagai pimpinan) bisa stroke," kata Abu Doto dalam bahasa Aceh yang mengundang tawa peserta acara.
Dalam kesempatan itu, suami Niazah A Hamid itu juga mengungkapkan tantangan yang paling besar yang dihadapinya saat menjabat Gubernur Aceh. Yaitu ketika menandatangani Qanun Aceh No 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Banyak pihak tidak senang dengan pembentukan qanun tersebut, terutama dari pengaruh barat.
"Ketika saya teken qanun hukum jinayat, itu tantangan luar biasa. Terutama tentunya dari pihak-pihak non Islam, terutama sekali Duta Besar di tempat saya tinggal dulu selama 25 tahun, (Duta Besar) Swedia," kata mantan menteri kesehatan GAM itu yang kini sudah berusia 80 tahun lebih.(mas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/lauching-buku-zaini-abdullah.jpg)