Kamis, 23 April 2026

Terdampak Corona

Agar Mampu Bertahan, Sejumlah Maskapai Rela Bongkar Kursi Penumpang Demi Angkut Kargo

sebagian besar populasi dunia saat ini lebih memilih untuk melakukan belanja online, alih-alih pergi ke mall...

Editor: Eddy Fitriadi
AFP/FAYEZ NURELDINE
ILUSTRASI pesawat mengangkut kargo. 

SERAMBINEWS.COM - Angkutan kargo yang selama ini bukan aspek terlalu menarik di industri penerbangan, kini jadi cahaya terang bagi suramnya bisnis penerbangan akibat pandemi Covid-19.

Permintaan pengiriman barang lewat angkutan udara mengalami peningkatan selama pandemi pada saat angkutan penumpang masih dilarang.

Peningkatan permintaan kargo udara tersebut membuat tarif pengiriman juga mengalami kenaikan.

Pengiriman pasokan peralatan medis seperti masker dan sarung tangan, serta cip semikonduktor dan suku cadang PC mengalami peningkatan lewat udara. Bahkan, pengiriman hasil bumi segar juga ikut meningkat.

Analis memperkirakan, permintaan kargo udara tidak akan mengalami penurunan tahun ini karena sebagian besar populasi dunia saat ini lebih memilih untuk melakukan belanja online, alih-alih pergi ke mall.

"Pengiriman udara akan menjadi titik terang bagi maskapai penerbangan setidaknya untuk tahun ini. Walupun perbatasan ditutup sementara, tidak berarti orang tidak melakukan belanja. Tren kenaikan tarif kemungkinan masih akan berlanjut karena karena kapasitas kargo yang terbatas," kata Um Kyung-a, analis penerbangan Shinyoung Securities di Seoul seperti dikutip Bloomberg, Kamis (3/9/2020).

Bahkan, saat vaksin Covid-19 nantinya ditemukan, permintaan kargo udara diperkirakan semakin meningkat karena pendistribusikan milairan botol vaksin akan membutuhkan waktu cepat dan juga lingkungan suhu yang terkontrol.

Dalam kondisi normal, sekitar 60% kargo udara secara global diterbangkan lewat bagasi  penerbangan penumpang.

Dengan banyaknya pesawat yang dikandangkan menunggu Covid-19 mereda, tarif pengiriman kargo dari Amerika Serikat (AS) ke Hong Kong telah naik hampir 60% tahun ini.

Qantas Airways mencatatkan pengiriman medis dari China mencapai puncaknya pada Mei dan Juni. Nick McGlynn, Chief Customer Officer Qantas mengatakan, sebagian besar kargo yang diangkut adalah masker, gaun, sarung tangan dan sejenis.

"Peningkatan permintaan kargo ini membuat kami menempatkan kargo ringan ke dalam kabin penumpang," ungkapnya.

Setelah pengiriman alat pelindung diri mulai turun, Qantas menerbangkan produk segar dari Australia ke Asia termasuk ikan tuna dalam jumlah besar ke  ke Jepang dan ikan trout karang ke Hong Kong.

Untuk muatan kembali ke Australia, maskapai ini mengangkut persediaan medis, suku cadang mobil dan elektronik, serta komponen untuk peralatan pertambangan Caterpillar dari AS.

Sementara Fiji Airways membuat sedikit tambahan dengan mengangkut kargo berupa makanan laut dan kava.

Bloomberg Intelligence memperkirakan kapasitas bagasi  pesawat penumpang belum akan kembali normal sebelum tahun 2022.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved