Update Corona di Subulussalam
Kasus Covid-19 di Subulussalam Bertambah 2 Orang
Terkini, diperoleh informasi adanya penambahan dua orang yang positif Covid-19 berdasarkan hasil swab laboratorium Unsyiah, Banda Aceh.
Penulis: Khalidin | Editor: Mursal Ismail
Terkini, diperoleh informasi adanya penambahan dua orang yang positif Covid-19 berdasarkan hasil swab laboratorium Unsyiah, Banda Aceh.
Laporan Khalidin I Subulussalam
SERAMBINEWS.COM, SUBULUSSALAM – Jumlah warga di Kota Subulussalam yang positif Covid-19 terus bertambah.
Terkini, diperoleh informasi adanya penambahan dua orang yang positif Covid-19 berdasarkan hasil swab laboratorium Unsyiah, Banda Aceh.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam, dr Dewi Sartika Pinem yang dikonfirmasi Serambinews.com, Kamis (3/9/2020) membenarkan adanya penambahan kasus positif.
Hasil swab kedua kasus tersebut baru diterima RSUD Kota Subulussalam siang tadi sekitar pukul 10.00 WIB.
“Benar, hasil swab yang keluar dari Unsyiah tadi siang ada dua positif,” kata dr Dewi.
• Saat Bertemu Donald Trump, Kim Jong Un Diklaim Mengedip Mata kepada Sarah Sanders
• Enam Warga Simeulue Positif Covid-19, Satu Orang Meninggal Dunia
• Bakar Istri dan Anaknya yang Berusia 3 Tahun, Pria Ini Ikut Terbakar Hingga Meninggal Dunia
Sementara juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Baginda Nasution SH MM yang dikonfirmasi Serambinews.com secara terpisah membenarkan hasil swab sudah keluar.
Namun untuk penjelasan resmi terkait jumlah positif Covid-19 maupun inisialnya baru akan dirilis, Jumat (4/9/2020) besok.
Sebagaimana diberitakan, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Subulussalam terus bertambah dan terkini sudah menjadi 15 orang.
Data terbaru sebanyak empat orang positif Covid-19 sebagaimana disampaikan Gugus Tugas Covid-19, Kota Subulussalam dalam konferensi persnya kepada wartawan Selasa (1/9/2020).
Menyusul penambahan kasus positif, Gugus Tugas Covid-19 menduga adanya transmisi lokal di Kota Subulussalam.
Dugaan adanya transmisi lokal Covid-19 di Kota Subulussalam menyusul seorang pasien berinsial R (51) yang meninggal dunia beberapa hari lalu.
Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 asal Kecamatan Simpang Kiri berinisial laki-laki dan dirawat sejak 22 Agustus lalu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam.
Saat dirawat, almarhum memang memiliki gejala sesak dan demam. Namun, dia tidak memiliki riwayat bepergian ke luar kota.
Lantaran itu, Gugus Tugas menduga kuat jika saat ini, sebagian besar penularan Covid-19 di Subulussalam sudah masuk ke fase local transmission atau penularan lokal.
“Dari kasus yang terjadi terhadap pasien berinisial R kita menduga penularan covid-19 di Subulussalam sudah ada transmisi lokal. Ini karena pasien tidak memiliki riwayat ke luar kota,” terang Khainuddin.
Atas hal ini, Khainuddin mengimbau masyarakat untuk semakin waspada terhadap kemungkinan transmisi lokal Covid-19 di Subulussalam.
Pasalnya, jika ini benar adanya sulit mengetahui siapa dan di mana saja penyebarannya. Apalagi, dari 15 kasus positif, sebagian besar merupakan tenaga kesehatan.
Untuk itu khainuddin berulang-ulang mengimbau masyarakat Subulussalam agar ikut berpartisipasi mendukung pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19 di daerah ini.
Menurut Khainuddin, kondisi Covid-19 di Kota Subulussalam dalam tiga pekan terakhir menunjukan kenaikan.
Dengan jumlah kasus yang saat ini terjadi di Subulussalam, Khainuddin mengaku sangat memprihatinkan.
Lantaran itu dia mengimbau seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, swasta dapat memutus mata rantai Covid-19.
Sebab, kata Khainuddin Dinas Kesehatan, RSUD Kota Subulussalam maupun pemerintah tidak akan siap menekan penyebaran Covid-19 tanpa dukungan masyarakat.
Karenanya, tidak ada cara selain memutus mata rantai penularan Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan.
Adapun protokol kesehatan seperti jaga jarak, menggunakan masker saat berada di luar rumah atau beraktivitas di luar rumah.
Sering mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir minimal 20 detik. “Dan untuk jaga jarak itu minimal satu setengah meter,” kata Khainuddin
Khainuddin juga mengimbau masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan lainnya seperti menghindari kerumunan.
Selain itu, masyarakat juga diharapkan tetap melaksanakan ibadah dan berdoa kepada Allah SWT agar bencana non alam ini segera berakhir.
“Protokol kesehatan berupa jaga jarak, pakai masker, mencuci tangan dan menghindari kerumunan adalah usaha, dan terakhir kita berdoa berpasrah diri kepada Allah karena doa tanpa usaha sama aja sia-sia,” pungkas mantan Sekretaris Dewan Kota Subulussalam tersebut.
Khainuddin berharap agar wabah Covid-19 segera berakhir di Kota Subulussalam dan Indonesia secara umum.
Sebelumnya, mantan Sekwan DPR Kota Subulussalam juga menyampaikan status Subulussalam saat ini.
Dia mengaku Subulussalam kini sudah menjadi zona kuning terkait kasus Covid-19 lantaran meningkatnya orang positif di kota tersebut.
Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Subulussalam, Khainuddin SKM, MAP dalam konferensi pers yang digelar, Selasa (1/9/2020) menyampaikan saat ini Subulussalam menjadi Zona Kuning.
Perubahan status Subulussalam dari zona hijau ke zona kuning akibat terjadinya lonjakan kasus orang positif Covid-19 di kota dengan semboyan Sada Kata tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis Gugus Tugas Covid-19, jumlah positif Covid-19 di Subulussalam mencapai 15 orang. Dari jumlah ini dua orang telah meninggal dunia.
“Subulussalam sekarang menjadi zona kuning, karena terjadi peningkatan kasus Covid-19,” kata Khainuddin
Meski demikian, sementara waktu sebaran Covid-19 berada di seputaran Kecamatan Simpang Kiri dan Penanggalan.
Mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam ini pun berharap agar sebaran positif tersebut tidak ke kecamatan lain.
Sebab jika hal itu terjadi bisa membuat Subulussalam menjadi zona orange atau bahkan merah.
Khainuddin mengaku jika Subulussalam menjadi zona merah berdampak terhadap sejumlah kebijakan seperti pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Nah, jika PSBB berlaku ada dampak lain mulai menghentikan sejumlah aktivitas seperti pendidikan hingga dunia usaha.
“Jadi, mari kita saling menjaga agar kasus positif Covid-19 ini segera berkurang agar tidak menjadikan Subulussalam zona merah,” ujar Khainuddin.
Sebelumnya diberitakan jika jumlah orang positif Covid-19 di wilayah Kota Subulussalam kembali bertambah.
Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Subulussalam dalam konferensi pers yang digelar, Selasa (1/9/2020) menyampaikan jumlah positif Covid-19 di Subulussalam mencapai 15 orang.
Dari jumlah tersebut, 8 orang dinyatakan telah sembuh dan lima lainnya dalam masa karantina di lokasi Puskesmas Jontor, Kecamatan Penanggalan.
Sementara ada dua orang meninggal dunia setelah sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam.
Sejauh ini, berdasarkan keterangan Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kota Subulussalam, Baginda Nasution SH MM dari 15 kasus covid-19 di Subulussalam 10 merupakan tenaga kesehatan.
Direktur RSUD Kota Subulussalam, dr Dewi Sartika Pinem yang hadir dalam konferensi pers menyatakan semua nakes yang terpapar tanpa bergejala atau dikenal dengan istilah OTG.
Sejauh ini, para nakes yang terpapar memang dalam kondisi sehat namun tetap menjalani isolasi guna menghindari penyebaran ke orang lain.
Dikatakan, dari lima nakes yang sedang dalam isolasi ada yang dikarantina bersama keluarganya di Puskesmas Jontor.
Karantina bersama keluarga ini dilakukan lantaran sang nakes memiliki bayi sehingga atas saran dokter diisiolasi bersama.
Para nakes yang dikarantina akan selalu mendapat perawatan dan pengecekan kesehatan oleh tim medis.
Sebelumnya disampaikan banyaknya tenaga kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam positif Covid-19 membuat pelayanan kesehatan menjadi terganggu.
Direktur RSUD Kota Subulussalam, dr Dewi Sartika Pinem kepada wartawan, Selasa (1/9/2020) mengatakan adanya ruang pelayanan kesehatan yang harus ditutup sementara.
Informasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers Gugus Tugas Covid-19 Kota Subulussalam di Posko Induk, Pendopo Wali Kota Subulussalam.
Adapun ruang yang ditutup sementara yakni Kamar Operasi atau dikenal dengan sebutan OK RSUD Kota Subulussalam.
Ruang OK terpaksa ditutup menyusul penambahan tenaga kesehatan dari perawat di RSUD Subulussalam yang positif Covid-19 berdasarkan hasil Swab Lab Unsyiah Banda Aceh.
Akibat penutupan tersebut, pasien-pasien emergency maupun obgyin penanganan khusus tidak dapat dilaksanakan lagi di RSUD Kota Subulussalam.
Semua pasien yang emergengy atau membutuhkan operasi termasuk obgyn menurut dr Dewi akan dirujuk ke RS terdekat seperti Aceh Singkil atau Aceh Selatan.
“Benar kami memutuskan menutup sementara pelayanan di ruang kamar operasi karena beberapa nakes positif Covid-19. Pasien emergency yang butuh penanganan akan dirujuk ke RS terdekat,” ujar dr Dewi.
Sebelumnya RSUD Subulussalam juga harus menutup pelayanan di ruang Instalasi Emergensi/Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang isolasi dan Intensive Care Unit atau ICU.
Selain itu dilaporkan pula jika penutupan juga dilakukan terhadap ruang poliklinik paru dan poliknik penyakit dalam.
Namun mulai hari ini sejumlah ruangan yang sempat ditutup kembali aktif. Ini setelah ruang tersebut didesinfektan. Pun demikian ruang poliklinik penyakit dalam.
“Ruang isolasi, ICU dan IGD sudah aktif kembali. Kami baru melakukan desinfektan,”kata dr Dewi Sartika
Gugus Tugas Covid-19 Kota Subulussalam dalam konferensi pers yang digelar, Selasa (1/9/2020) sore di Posko GTPP Covid-19 membenarkan soal warga positif Covid-19 dimakamkan tanpa protokol kesehatan.
Juru Bicara GTPP Covid-19 Kota Subulussalam Baginda Nasution, SH MM yang memimpin konferensi pers menyampaikan warga positif Covid-19 yang meninggal tanpa protokol kesehatan berinisial R (51) tahun.
Almarhum berjenis kelamin pria berdomisili di Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Dia meninggal dunia Rabu (26/8/2020) lalu sekitar pukul 20.30 WIB.
Almarhum masuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Subulussalam mulai 22 Agustus lalu dan sempat mendapat perawatan selama sepakan.
Kondisinya terus memburuk sehingga dirawat di ruang ICU dan dengan system isolasi. Rabu (26/8/2020) sore sekitar pukl 15.30 WIB pasien menjalani swab. Namun berselang beberapa jam pasien meninggal dunia.
Sementara hasil swab baru keluar pada Sabtu tanggal 29 Agustus 2020 sekitar pukul 18.00 WIB dua hari setelah R meninggal dunia.
Karena hasil swab keluar setelah R meninggal dunia akhirnya proses pemakaman dan segalanya dilaksanakan layaknya jenazah biasa atau tanpa melalui protokol kesehatan.
Jenazah almarhum R difardhu kifayahkan, dimandikan dan dimakamkan sebagaimana lazimnya orang meninggal dunia.
“Beberapa gejala memang mengarah covid-19 seperti sesak dan kondisinya memburuk. Tapi hasil swab almarhum belum keluar sehingga dilaksanakan tanpa protokol kesehatan,” terang dr Dewi Sartika Pinem Direktur RSUD Subulussalam. (*)