Berita Aceh Besar
Budayawan Aceh Apresiasi Pembangunan Terowongan Gajah di Jalan Tol Aceh
Tokoh Budaya Aceh, Ir Tarmizi Abdul Hamid mengapresiasi pembangunan terowongan (underpass) yang akan dibangun sebagai lalu lintas gajah.
SERAMBINEWS.COM, JANTHO - Tokoh Budaya Aceh, Ir Tarmizi Abdul Hamid mengapresiasi pembangunan terowongan (underpass) yang akan dibangun sebagai lalu lintas gajah (Po Meurah, sebutan orang Aceh untuk gajah) pada pembangunan jalan Tol Aceh atau jalan tol Sigli- Banda Aceh (Sibanceh) sepanjang 74 km.
Hal tersebut disampaikan Cekmidi, sapaan akrap Tarmizi A Hamid seusai menelusuri rute tol Indrapuri sampai ke Lamtamot, Aceh Besar beberapa hari lalu.
Kolektor manuskrip Aceh ini juga menemui masyarakat desa terutama disekitar Lamtamot untuk menanyakan beberapa hal menyangkut adat istiadat dan budaya yang berdampak langsung dengan pembangunan proyek strategis nasional tersebut.
Mantan Pengurus Majelis Adat Aceh ini lebih lanjut memaparkan, bahwa dalam pembangunan jalan tol ini pihak pemilik proyek dalam hal ini PT. Hutama Karya (Haka) dan Pelaksana Proyek PT. Adhi Karya telah menunjukkan keberhasilan dalam memahami sosial budaya dan kepentingan masyarakat yang sesuai dengan kaedah dan kearifan Aceh sendiri.
• Kakek Ini Tetap Berjualan Walaupun Masih Sakit, Menangis Begitu Ada Seorang Pembeli
Menurut Cekmidi, ini perlu dicontohkan oleh para investor lainnya yang akan membangun Aceh ke depan.
"Hampir semua masyarakat yang saya ajak berdiskusi di lapangan tentang dampak pengerjaan jalan tol pertama di Aceh ini, menunjukkan tanggapan atau hasil yang positif untuk pembangunan underpass," kata Tarmizi yang kerap disapa Cek Midi.
Pendiri Rumoh Manuskrip Aceh ini juga menjelaskan, keberadaan underpass bagi jalur lintas jelajah gajah (home range) bukan hanya ada di Aceh tetapi ada juga di bagian Sumatra lain yakni di Pekanbaru-Dumai.
Sementara itu lokasi jalur gajah tersebut dibangun pada kawasan lintasannya selama ini, yaitu di seksi 1 Padang Tiji - Lembah Seulawah.
• Balita Ini Tetap Pilih Alquran dan Abaikan Gadget, Menangis Saat Berkali-kali Ditukar Orang Tuanya
Bandara Sultan Iskandar Muda Blangbintang Aceh Besar, Pusat Bantuan Kala Tsunami Menerjang
Urgensi yang dapat dilihat dari pembangunan underpass gajah kata Tarmizi, gajah merupakan hewan langka yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999.
Kemudian pada masa kesultanan gajah menjadi simbol keagungan, simbol kebesaran Aceh, penduduk pribumi Aceh, gajah sangat di hormati sehingga dalam berbagai seremonial upacara kenegaraan, gajah sering di abadikan, terutama upacara adat dan upacara militer.
Hingga penghormatan militer terhadap gajah sampai zaman sekarang ini masih terus diabadikan pada Instansi Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda yang logonya digunakan hewan gajah putih.
"Ini adalah suatu perjalanan panjang keterlibatan gajah atas segala jasa sebagai kendaraan transportasi perang di Aceh pada era lampau, maka banyak orang Aceh memanggil gajah dengan nama (laqab) diantaranya, Po Meurah, Tungku di Malem, dan sebagainya," ujarnya.
• Lionel Messi Umumkan Resmi Bertahan di Barcelona hingga 2021, Ini Pernyataan Terbaru
Urgensi selanjutnya terhadap pembangunan underpass tersebut lanjut Tarmizi, yakni untuk melindungi habitat gajah itu sendiri.
Dalam artian pembangunan jalan tol tersebut bukan hanya memiliki kepentingan bagi manusia tetapi juga bagi kepentingan alam agar tidak terganggu ekosistem mamalia bergading tersebut.
Jika jalur lintasan ini tidak dibangun, maka dikhawatirkan hewan besar ini akan terusik kebebasan ruang gerak dan berefek tidak baik bagi Po Murah ini.
Selama ini konflik gajah dengan manusia, lanjut Cek Midi, disebabkan gajah sudah menganggap manusia ini sebagai musuh, bukan lagi sebagai juragan dan kawan.
Karena, habitatnya diganggu, gadingnya diburu bahkan banyak juga yang dibunuh.
• Kapendam IM Juara Tiga Lomba Karya Jurnalistik TNI Manunggal Membangun Desa Ke-108
Padahal Gajah memiliki karakteristik hewan yang penuh cinta kasih dan suka menolong baik sesamanya maupun dengan manusia, menyedihkan!
"Oleh karena demikian, dengan dibangunnya underpass itu, kita patut memberikan apresiasi dan rasa penghormatan yang tinggi kepada pembangun.
Bahwa mereka sangat menghargai dan menjaga, serta ikut melestarikan sistem kearifan lokal di Aceh yang selama ini orang Aceh sendiri pun kurang memperhatikannya," ujar Cekmidi.
Maka untuk itu, perusahaan yang sudah berempati untuk melakukan pembangunan underpass itu, kata Cek Midi, mereka sudah memberikan penghormatan kepada adat dan budaya serta khazanah yang ada di Aceh.
Apalagi Aceh merupakan daerah khusus, daerah syariat Islam yang satu-satunya di Indonesia, daerah istimewa serta kewenangan khusus lainnya.
• Perkuat Layanan Kesejahteraan Anak, Kadis Sosial Aceh Barat Kunjungi PKPM Aceh
"Para pelaksana proyek ini sangat mengerti dan sangat memahami dengan cepat menyesuaikan kehidupan adat dan budaya serta sosial masyarakat dalam waktu yang sesingkat-singkatnya," tuturnya.
Seperti diketahui sebelumnya, Mega proyek insfrastruktur Highway (Tol) Sigli - Banda Aceh (Sibanceh) sepanjang 74 Km terus dipacu, sehingga target penyelesaian Tol pertama di Bumi Serambi Mekkah ini dapat selesai pada tahun 2021 yang akan datang.
Tol Aceh yang dinamakan dengan Sibanceh, dari total jarak 74 Km ini memilik 6 rute seksi.
Salah satunya rute seksi Indrapuri-Blang Bintang 14,7 km, yang sudah selesai dan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada tanggal 22 Agustus lalu dan sudah mulai digunakan oleh masyarakat.(*)
• Bupati Nagan Tegur Rekanan yang Datangkan TKA Cina ke PLTU