Ruang Rawat RSUZA dan Meuraxa Penuh
Makin meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Aceh dalam dua bulan terakhir menyebabkan daya tampung (kapasitas) sejumlah rumah sakit
BANDA ACEH - Makin meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Aceh dalam dua bulan terakhir menyebabkan daya tampung (kapasitas) sejumlah rumah sakit penuh, termasuk di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) dan di RSUD Meuraxa Banda Aceh.
"Daya tampung RICU RSUDZA saat ini selalu full, dengan enam kamar. Ada yang keluar sembuh, ada pula yang meninggal. Gradasi yang di RICU semua dengan gradasi Covid-19 yang berat dan 90-an persen ada komorbid (diabetes, hipertensi, komplikasi ginjal, dan lain-lain)," kata Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT yang ditanyai Serambi, Jumat (4/9/2020) siang.
Azharuddin mengakui bahwa penuhnya daya tampung bed maupun kamar tersebut menyulitkan pasien baru Covid mendapatkan tempat isolasi dan rawatan di lingkungan rumah sakit. Bahkan pernah beberapa kali pasien yang sudah seharusnya diisolasi dan dirawat di Ruang Respiratory Intensive Care Unit (RICU) maupun Pinere RSUZA, ditangguhkan dan dianjurkan isolasi mandiri (isman) dulu di rumah sendiri. Setelah bed kosong, barulah pasien tersebut dijemput untuk menjalani perawatan di rumah sakit.
Hal ini, antara lain, dialami oleh anak dan adik ipar almarhum Dr drh Razali MSi, Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah yang meninggal akibat Covid-19 bulan lalu.
Penuhnya daya tampung ruang dan bed untuk pasien Covid-19, berdampak pula pada semakin banyak akhirnya pasien yang harus menjalani isman di kediaman masing-masing. Mereka yang positif tanpa gejala, lanjut Azharuddin, ada yang isman di rumah, ada juga (khususnya tenaga medis) yang isman di Asrama Haji Embarkasi Aceh.
Azharuddin juga menerangkan, selain RICU, Poliklinik Penyakit Infeksi Emerging dan Reemerging (Pinere) 1, 2, dan 3 di RSUZA saat ini okupansi (tingkat hunian)-nya juga sangat tinggi. Yakni sekitar 90%, dengan pasien positif Covid-19 yang gradasi (derajat) klinisnya sedang sampai berat.
"Idealnya kurang dari 80% kan bed occupancy rate (BOR) suatu ruang rawat. Untungnya, dalam beberapa hari ke depan akan dibuka rawatan Pinere 4. Juga IGD Pinere RSUDZA dikhususkan untuk pasien Covid-19 maupun yang masih 'abu-abu' (menunggu hasil PCR, klinis menjurus ke Covid-19, dan lain-lain)," ujarnya.
Menurut Azharuddin, rata-rata pasien rawatan yang positif sejak 2-3 minggu lalu mendekati 50 orang. Jumlahnya hampir terus seperti itu setiap minggu. "Ada yang pulang membaik, ada memburuk, lalu dipindah ke RICU, dan ada pula yg meninggal. Pendeknya, 2-4 orang per hari yang positif Covid-19 dirawat di RSUDZA," sebut dia.
Sementara itu, Direktur RSUD Meuraxa Banda Aceh, dr Fuziati SpRad menyebutkan, jumlah tempat tidur (bed) di Ruang Isolasi Pinere RSUD tersebut tersedia 33 bed. Kemarin, jumlah pasien Positif Covid-19 yang dirawat dengan gejala klinis di RSUD Meuraxa adalah 32 pasien. Artinya, hanya tersisa satu bed.
Fakta itu menunjukkan, dua rumah sakit paling besar milik pemerintah di Banda Aceh kini dipenuhi pasien Covid-19, sehingga pasien baru Covid ada yang kesulitan mendapatkan ruang atau bed untuk menjalani isolasi dan perawatan di rumah sakit.
Tambah 11 Kamar
Untuk mengatasi kondisi tersebut, manajemen RSUZA Banda Aceh pada Senin, 7 September 2020 akan menambah 11 kamar rawatan isolasi khusus di ruang rawat Penyakit Infeksi Emerging dan Reemerging (Pinere) 4. Selain itu, pihak RSUZA juga akan membuka (grand opening) Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUZA khusus Covid di sebelah Poliklinik Pinere.
IGD baru ini menggunakan gedung rehab medik RSUZA lama yang memerlukan rehabilitasi berat dan menyita waktu hampir dua bulan. "Insya Allah dalam waktu dua minggu ke depan akan dibuka pula Pinere 5 dengan kapasitas 40 bed. Dengan tambahan ini semoga eskalasi penambahan pasien Covid-19 bisa tertampung," kata Azharuddin.
‘Warning’ Penting
Di sisi lain, Dr Azharuddin menambahkan bahwa positivity rate Covid-19 di Aceh sudah di atas 5%. "Ini sudah merupakan 'warning' penting bagi kita bahwa situasi pandemi ini belum terkendali. Angka 25% pada Agustus lalu hingga awal September ini sangat mencemaskan. Semoga masyarakat mau peduli dan memahami bahwa kondisi ini sangat bahaya," ujarnya.
Masyarakat, lanjut Azhar, harus punya kesadaran bersama untuk disiplin menjaga protokol kesehatan dengan sangat-sangat ketat. "Jangan lagi tidak mengambil peran apa pun, apalagi abai," imbuh dia.(dik)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/direktur-rsuza-banda-aceh-dr-dr-azharuddin-spot-k-spine-fics-16072020.jpg)