Breaking News:

Arkeologi

Peneliti Australia Ungkap Kehidupan Pelaut Kuno di Maluku Utara

Manusia tiba di pulau tropis tersebut paling tidak 18.000 tahun lalu, dan kemudian terus bermukim di sana selama 10.000 tahun kemudian.

Editor: Taufik Hidayat
Foto: The Conversation
Kapak-kapak batu yang ditemukan di wilayah dekat desa Kelo. Batang skala mewakili 1 centimeter (cm).Shipton et al. 2020 

Maka mereka pun pergi ke Obi untuk mencari situs gua yang dapat memiliki bukti pemukiman awal.

Alat-alat dan harta karun

Peneliti menemukan dua situs naungan batu, di wilayah pedalaman desa Kelo di pesisir utara Obi, yang cocok untuk penggalian. Dengan ijin dan bantuan warga Kelo, mereka melakukan satu uji galian di masing-masing situs.

Di sana, mereka menemukan banyak artefak, termasuk pecahan kapak edge-ground, beberapa berumur 14.000 tahun. Kapak tertua di Kelo dibuat dari cangkang kerang.

Kapak dari cangkang juga telah ditemukan di wilayah ini dengan umur yang kurang lebih sama, termasuk di Pulau Gebe di timur laut Obi.

Secara tradisional, kapak ini digunakan untuk melubangi batang pohon untuk membuat kano.

Besar kemungkinan kapak Obi juga digunakan untuk membuat kano, sehingga memungkinkan orang-orang masa itu untuk menjalin hubungan antar pulau terdekat.

Lapisan kultural tertua dari situs Kelo, yang berisi campuran serpihan alat kerang dan batu, memberi catatan paling awal dari pemukiman manusia di Obi, berusia sekitar 18.000 tahun.

Masa itu, iklim lebih kering dan dingin dibanding saat ini, dan hutan belantara pulau ini pasti lebih mudah ditembus dibanding sekarang.

Permukaan laut saat itu 120 meter lebih rendah; ini berarti Pulau Obi saat itu lebih luas, meliputi pulau-pulau terdekat lainnya seperti Bisa dan beberapa pulau kecil.

Kira-kira 11.700 tahun lalu, saat Zaman Es berakhir, iklim berubah jauh lebih hangat dan basah, sehingga hutan di Obi menjadi lebih lebat.

Mungkin bukan kebetulan bahwa kapak-kapak yang ditemukan berasal dari masa itu terbuat dari batu --alih-alih dari kerang-- mungkin menandakan penggunaan yang meningkat dan lebih berat untuk membuka hutan dan modifikasi untuk hutan yang semakin lebat.

Manusia butuh waktu dua kali lebih banyak untuk mengasah batu menjadi kapak dibanding kerang, namun material yang lebih keras ini berarti mata kapak tetap tajam untuk waktu lebih lama.

Dilihat dari tulang-tulang yang kami temukan di gua Kelo, orang-orang yang tinggal di sini terutama berburu Rothschild’s cuscus, sejenis tupai yang masih hidup di Obi hingga hari ini.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved