Breaking News:

Arkeologi

Peneliti Australia Ungkap Kehidupan Pelaut Kuno di Maluku Utara

Manusia tiba di pulau tropis tersebut paling tidak 18.000 tahun lalu, dan kemudian terus bermukim di sana selama 10.000 tahun kemudian.

Editor: Taufik Hidayat
Foto: The Conversation
Kapak-kapak batu yang ditemukan di wilayah dekat desa Kelo. Batang skala mewakili 1 centimeter (cm).Shipton et al. 2020 

Seiring hutan menjadi kian lebat, orang-orang mungkin membuka petak-petak hutan agar berburu lebih mudah.

Lagi-lagi, mungkin bukan kebetulan bahwa kapak-kapak dari batu volkanik - yang tajam lebih lama dan diketahui telah digunakan di Papua - pertama kali muncul dalam catatan arkeologi saat iklim mulai berubah.

Peneliti juga menemukan manik-manik kerang dan obsidian,  yang sepertinya dibawa dari pulau lain, karena tidak ditemukan sumber obsidian di Obi, mirip dengan yang ditemukan di pulau-pulau di utara Wallacea.

Ini lagi-lagi mendukung teori bahwa penghuni Obi secara rutin bepergian ke pulau-pulau lain.

Kudeta Mali: Mantan Presiden Ibrahim Boubacar Keïta Terbang ke UEA

Ini Dua Perusahaan Nasional yang Akan Berinvestasi di Aceh Utara

Tak Punya Uang, Indonesia Tunda Bayar Rp 6 Triliun Untuk Proyek Jet Tempur Bersama Korsel

Pindah atau meneruskan perjalanan?

Penggalian arkeologi menunjukkan bahwa orang-orang berhasil hidup di Kelo selama 10.000 tahun. Tapi, 8.000 tahun yang lalu kedua situs itu ditinggalkan.

Apakah para penghuni seluruhnya meninggalkan Obi, atau pindah ke tempat lain dalam pulau itu?

Mungkin hutan semakin rapat hingga kapak manusia (yang dari batu sekalipun!) tidak mampu mengimbangi. Mungkin mereka hanya pindah ke pesisir dan menjadi nelayan alih-alih pemburu.

Apa pun alasannya, peneliti tidak menemukan bukti gua-gua ini digunakan untuk hunian hingga, sekitar 1.000 tahun lalu, datang orang-orang yang memiliki barang-barang gerabah dan logam.

Tampaknya mungkin, karena Obi terletak di tengah “Kepulauan Rempah” Maluku, bahwa gua-gua Kelo ini digunakan orang-orang yang terlibat perdagangan rempah bersejarah itu.

Para peneliti pun berharap untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini saat kami kembali ke Obi tahun depan, jika situasi wabah COVID-19 memungkinkan, untuk menggali gua-gua di pesisir.

Penelitian ini dilakukan oleh Shimona Kealy, Postdoctoral Researcher, College of Asia & the Pacific, Australian National University dan Sue O’Connor, Distinguished Professor, School of Culture, History & Language dari Auetralian National University, bersama Tim.(NationalGeographic)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved