Breaking News:

Dokumen KMB Terkunci, Ada Status Aceh dan Papua

Dr Yusra Habib Abdul Ghani SH merupakan cendekiawan dan penulis buku sejarah Aceh dan Gayo. Ia sebelumnya pernah aktif sebagai tokoh GAM di Malaysia

SERAMBINEWS.COM
Cendekiawan dan penulis buku sejarah Aceh dan Gayo, Yusra Habib Abdul Ghani (kanan) dalam BincangBudaya SerambiPodcat yang dipandu jurnalis Serambi Indonesia Biro Jakarta, Fikar W Eda, Selasa (15/9/2020). 

* Bincang Budaya dengan Yusra Habib Abdul Ghani

Dr Yusra Habib Abdul Ghani SH merupakan cendekiawan dan penulis buku sejarah Aceh dan Gayo. Ia sebelumnya pernah aktif sebagai tokoh GAM di Malaysia dan Skandinavia. Satu yang sangat ingin didapatkannya saat ini yaitu dokumen Konferensi Meja Bundar (KMB).

CENDEKIAWAN dan penulis buku sejarah Aceh dan Gayo yang bermukim di Denmark, Dr Yusra Habib Abdul Ghani SH, sangat ingin mendapatkan dokumen asli Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, pada 23 Agustus-2 November 1949 lalu.

KMB merupakan pertemuan bersejarah antara Indonesia dan Belanda, dan sekaligus menjadi menjadi tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia. Dokumen asli dari pertemuan itu saat ini tersimpan di Leiden University di Belanda.

Yusra Habib mengatakan, dokumen asli KMB masih terkunci dan tidak tahu kapan akan dibuka.

Ia sangat ingin mendapatkan dokumen tersebut sebab di dalamnya tertera status Aceh dan Papua. “Teks aslinya tidak akan diberikan kepada kita entah sampai kapan,” kata Yusra Habib dalam #BincangBudaya SerambiPodcast, Selasa (15/9/2020).

Ia juga mendengar dalam dokumen itu tertera besaran ganti rugi yang harus diberikan Pemerintah Indonesia kepada Belanda sebesar 4,5 juta gulden (dalam publikasi di detik.com pada 7 Oktober 2009 tertera 4 miliar gulden).

Dalam bincang budaya itu, Yusra Habib yang meraih gelar doktor dari Universiti Kebangsaan Malaysia tanpa melalui jenjang S2, menginformasikan bahwa pada 2020 ini, dari tangannya meluncurkan  enam judul buku yang saat ini sedang dalam proses.

Buku-buku tersebut ada yang diterbitkan oleh lembaga riset di Denmark, Universiti Malaysia. Selebihnya diterbitkan  penerbit di Jakarta, dan penerbit di  Aceh. “Barangkali ini berkah dari Covid, sebab saya berhasil menyusun kembali untuk penerbitan buku ini,” kata Yusra Habib.

Ia menyebutkan, seluruh bahan untuk buku tersebut sudah disiapkan sejak empat tahun silam dalam bentuk artikel yang diterbitkan dalam sejumlah media massa. Salah satu buku yang akan terbit itu berjudul ‘Status Aceh dalam NKRI’ pernah diajukan ke penerbit besar di Jakarta, tapi ditolak dengan alasan “Bisa bikin orang pangsan,”  katanya sambil tertawa mengutip alasan penolakan penerbit.

Yusra Habib mengatakan, ia mendapatkan bahan-bahan untuk penulisan bukunya dari banyak perpustakaan dan museum di Belanda, London, Prancis, Portugal, Spanyol dan lain-lain di Eropa, serta Perpustakaan Nasional di Jakarta.

“Proses untuk mendapatkan sumber utama dari tulisan-tulisan ini saya peroleh dari negeri Belanda, bersama istri kadang ‘bertapa’ di Belanda selama sepekan. Mengunjungi perpustakaan, Leiden, Utrecht University, Museum Den Haag, dan sebagainya. Termasuk  London Museum, Prancis, Spanyol, Portugal, dan  menerobos kearsipan Presiden Amerika Serikat,” ujarnya.

Tapi ia tidak merinci bagaimana ia bisa memperoleh akses kepada kearsipan Presiden AS itu.(fikar w eda)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved