Breaking News:

Penusuk Syekh Ali Jaber Terancam Hukuman Mati  

Polisi sudah menetapkan Alpin Andria alias Alfin Andrian sebagai tersangka dalam kasus penusukan terhadap Syekh Ali Jaber di Masjid

kolase tribunnews.com
Diduga Gangguan Jiwa, Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Sempat Dibawa ke RS, Video Interogasinya Beredar 

JAKARTA - Polisi sudah menetapkan Alpin Andria alias Alfin Andrian sebagai tersangka dalam kasus penusukan terhadap Syekh Ali Jaber di Masjid Falahuddin, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020). Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Polisi Argo Yuwono, penyidik menjerat Alpin dengan pasal berlapis. Selain pasal percobaan pembunuhan, Alpin juga dijerat pasal penganiayaan yang menyebabkan luka.

”Pasal yang disangkakan pada tersangka AA ini adalah pasal percobaan pembunuhan. Kita juga kenakan pasal pembunuhan dan penganiayaan menyebabkan luka,” kata Argo di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Atas perbuatannya itu, tersangka Alin terancam maksimal hukuman mati. ”Jadi ancaman hukumannya, hukuman mati, atau seumur hidup. Paling ringan 20 tahun,” imbuh Argo.

Polri sendiri sudah menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (SPDP) kasus penikaman yang dialami Syekh Ali Jaber. Surat tersebut sudah dikirimkan ke Kejaksaan Negeri Bandar Lampung. Surat perintah penyidikan itu terdaftar dengan nomor SPDP/228/IX2020/Reskrim. Surat itu diterbitkan setelah penyidik polri melakukan gelar perkara terhadap tersangka Alpin Andria. ”Penyidik Polda Lampung sudah melakukan gelar perkara dan sudah menaikkan status kasus ke penyidikan dan sudah mengirimkan SPDP ke Kejaksaan Negeri Bandar Lampung pada 15 September 2020," kata Argo.

Argo mengatakan, penyidik Direktorat Pidana Umum Bareskrim Polri juga sudah diterjunkan ke Polda Lampung untuk membantu penyidikan. Hal itu menjadi bukti Polri serius menangani kasus tersebut. “Polisi juga sudah mengamankan barang bukti menahan pelaku," jelasnya.

Bahkan, Polri juga mengerahkan tim Densus 88 ke lokasi untuk mendalami identitas tarsangka. Namun, sejauh ini belum ditemukan kelompok yang berkaitan dengan tersangka. ”Penyidik dari Mabes Polri turun ke sana, dari Densus 88  juga turun. Tentunya mau melihat apakah tersangka ini melakukannya sendirian atau ada yang menyuruh, atau ada orang lain. semua sedang kami selidiki,” ujar Argo.

Saat ini, polisi sudah memeriksa 13 saksi dalam kasus tersebut. Saksi yang diperiksa berasal dari keluarga hingga panitia acara tausiyah tersebut. Rencananya polisi akan menggelar rekonstruksi atas kasus penikaman yang dialami Syekh Ali Jaber pada Kamis (17/9/2020) hari ini. Menurut Argo, pihaknya akan menghadirkan tersangka Alpin dalam rekonstruksi tersebut untuk memeragakan sejumlah adegan.

Ia memastikan kasus ini menjadi salah satu prioritas Polri. Polisi juga akan segera menyelesaikan berkas perkara kasus tersebut agar bisa disidangkan. "Jadi pada prinsipnya bahwa polisi serius dan akan segera menyelesaikan berkas perkara ini ke kejaksaan," tegasnya. Argo juga membantah kabar di media sosial bahwa tersangka sudah dibebaskan. Dia menegaskan kabar tersebut merupakan berita bohong alias hoax.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, menegaskan, Alpin tetap harus diseret ke pengadilan, meski pihak keluarga menyebut tersangka mengalami gangguan jiwa. Menurut Mahfud, meski Polri dibolehkan menyatakan tersangka kasus kriminal mengalami gangguan jiwa sehingga tidak bisa melanjutkan pengusutan, namun ia menegaskan Polri juga berhak untuk tidak menyatakannya dan tetap membawanya ke pengadilan.

Mahfud juga mempersilakan penasihat hukum dari Alfin yang akan melakukan pembelaan untuk membuktikan Alfin mengalami gangguan jiwa. "Soal sakit jiwa atau tidak, itu biar nanti hakim yang memutuskan. Jadi, polisi tidak bisa menghentikan karena ini misalnya diduga sakit jiwa, ini tidak boleh. Diduga ya diduga, tapi nanti akan tetap dibawa ke pengadilan apakah dia sakit jiwa benar atau tidak itu nanti hakim yang akan membuktikan," kata Mahfud di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, Sumatera Barat, Rabu (16/9/2020).

Mahfud juga meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi dengan menduga pemerintah sedang mencari cara untuk menutup kasus penganiayaan tersebut dengan menyatakan Alfin mengalami gangguan jiwa. Sampai saat ini, kata Mahfud, pemerintah belum percaya Alfin mengalami gangguan jiwa. "Jadi masyarakat jangan berspekulasi seakan-akan pemerintah sedang mencari cara untuk menutup kasus ini dan mengatakan Alfin itu sakit jiwa," tegas Mahfud. (tribun network/igm/dod)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved