Penyakit Penyerta Dominasi Penyebab Pasien Covid Meninggal
Pasien yang sudah ada penyakit pernyerta lebih dominan meninggal dibanding pasien murni positif Corona
BANDA ACEH - Sebagian besar pasien Covid-19 di Aceh meninggal dunia karena ada penyakit penyerta (komorbid). Dengan kata lain, pasien yang sudah ada penyakit pernyerta lebih dominan meninggal dibanding pasien murni positif Corona. Berdasarkan data tanggal 14 September 2020, 91 pasien Covid-19 meninggal karena komorbid. Hingga Selasa (23/9/2020), kematian karena Corona mencapai 142 orang. Artinya, hanya 51 orang yang meninggal karena murni terjangkit Covid-19.
"Sebagian besar pasien Covid-19 di Aceh meninggal dunia disebabkan ada penyakit lain. Nah, Covid ini bisa memperparah penyakit yang sebelumnya dialami pasien," kata Wakil Direktur (Wadir) Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh, Endang Mutiawati, Kamis (24/9/2020).
Endang menyebutkan, penyakit penyerta yang acap menyebabkan kematian pada pasien Covid-19 antara lain diabetes, hipertensi, dan gagal ginjal. "Penyakit penyerta memperburuk perjalanan klinis pasien Covid-19, apalagi jika komorbid itu tidak terkontrol dengan baik," jelas Endang.
Jika dilihat dari sisi usia, sambungnya, pasien meninggal karena komorbid dan diperparah akibat paparan Covid rata-rata berusia lanjut. Sebanyak 69 pasien yang meninggal berumur di atas 50 tahun dan hanya dua orang yang meninggal masih berusia belasan tahun. "Ledakan pasien komorbid yang meninggal dunia dan tercatat sebagai pasien Covid terjadi pada Agustus dan September 2020. Selama Agustus ada 47 kasus dan pada bulan ini (hingga tanggal 14) tercatat 33 kasus," kata Endang.
Ia juga mengungkapkan, pasien terbanyak meninggal dunia berasal dari Banda Aceh yaitu 33 orang dan Aceh Besar 22 orang. Sementara Pidie Jaya, Sabang, dan Aceh Tamiang, menjadi daerah dengan kasus terendah yaitu 1 pasien. Endang Mutiawati juga mengatakan, pemerintah pusat berencana membuat klasifikasi pelaporan kasus kematian pasien Covid-19. Klasifikasi itu terkait kematian karena Covid-19 atau karena penyakit penyerta.
Jika pedoman itu dipakai, ia yakin pasien yang meninggal karena murni terjangkit Covid-19 di Aceh akan berkurang drastis. Meski demikian, Endang menegaskan, seluruh petugas kesehatan di Aceh sudah bekerja semaksimal mungkin dalam melakukan langkah-langkah penyembuhan bagi masyarakat, baik yang murni terpapar Covid maupun yang terpapar Covid karena ada penyakit penyerta. "Karena itu, kami berharap kepada seluruh elemen masyarakat untuk memberi dukungan kepada petugas medis dengan cara melakukan langkah-langkah pencegahan seperti yang dianjurkan pemerintah," harap Endang.
Serahkan penghargaan
Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyerahkan penghargaan kepada Suhartuti, Istri Almarhum dr Imay Indra SpAn, di Rumah Dinas Wakil Gubernur Aceh, kawasan Blangpadang, Banda Aceh, Kamis (24/9/2020). Pada kesempatan itu, Nova didampingi istrinya, Dyah Erti Idawati. Sementara Suhartuti datang bersama dua putranya, M Dipi dan Abdallah. Imay Indra merupakan dokter spesialis anestesi di RSUZA yang meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 pada awal September lalu.
Dalam sambutannya Nova atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh, kembali menyampaikan rasa duka yang mendalam atas gugurnya dr Imay Indra dalam perang melawan pandemi Covid-19 di Aceh. "Sampai hari ini kita masih berduka atas berpulangnya dr Imay Indra. Baik keluarga maupun kolega almarhum merasakan tekanan yang tak bisa saya bahasakan," ujarnya.
Nova memastikan, Pemerintah Aceh akan terus mendukung penuh usaha seluruh tenaga medis sebagai pihak yang berada di posisi terdepan melawan Covid-19 di Aceh.
"Kepada Ibu Suhartuti dan kedua putra Almarhum, kami sampaikan belangsungkawa sekaligus terima kasih. Ibu merupakan seorang istri pahlawan yang sangat kami hormati. Kami berduka bukan hanya karena beliau adalah pahlawan pada masa pandemi. Tapi, kami juga berduka karena kehilangan seorang pahlawan dalam artian yang lebih besar yakni pahlawan yang senantiasa menjadi pelayan dan pelindung masyarakat, serta yang siang-malam berusaha agar orang-orang sakit segera sehat kembali," kata Nova.
Plt Gubernur menambahkan, dirinya memaklumi kehilangan dr Imay meninggalkan duka sekaligus berdampak pada psikologis tenaga medis Aceh. Namun, katanya, tenaga medis juga harus terus optimis dan bangkit dengan semangat yang lebih tinggi dalam perjuangan menyelamatkan masyarakat yang terpapar Covid-19.
Penyerahan penghargaan tersebut turut disaksikan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Kadis Kesehatan Aceh, Direktur RSUZA, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh dan Banda Aceh, serta Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh. (dan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/wakil-direktur-wadir-rumah-sakit-umum-daerah-zainoel-abidin-endang-mutiawati.jpg)