Luar Negeri
Bantu Pasukan Azerbaijan Gempur Armenia, Turki Kirim Militer, Drone dan Pesawat Tempur
Turki menjadi salah satu negara yang mendukung keras tentara Azerbaijan dalam perang melawan Armenia.
"Kami berada di ambang perang skala penuh di Kaukasus Selatan," kata Pashinyan.
Perancis, Jerman, Italia, dan Uni Eropa dengan cepat mendesak gencatan senjata segera, sementara Paus Fransiskus berdoa untuk perdamaian.
Presiden Perancis Emmanuel Macron mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam pada Minggu, dan "menyerukan dengan keras untuk segera mengakhiri permusuhan".
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dia sangat prihatin dan mendesak kedua belah pihak untuk berhenti berperang dan kembali untuk berdialog.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan telah menghubungi kedua negara dan meminta mereka untuk "menggunakan hubungan komunikasi langsung yang ada di antara mereka untuk menghindari eskalasi lebih lanjut".
Presiden Rusia Vladimir Putin membahas gejolak militer dengan Pashinyan dan menyerukan diakhirinya permusuhan.
Namun, sekutu Azerbaijan, Turki, menjanjikan dukungan penuh kepada Baku dalam perang.
“Rakyat Turki akan mendukung saudara-saudara Azerbaijan kami dengan segala cara kami seperti biasanya,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melalui pernyataannya di Twitter.
• Bocah Suspect Covid-19 Menangis Mencari Ibunya, Petugas Medis Memeluk Untuk Menenangkannya
• Terkait Kerusakan Pelabuhan Jetty Meulaboh, Sekda: Kami Akan Tempuh Jalur Hukum
Azerbaijan menuduh pasukan Armenia melanggar gencatan senjata, dengan mengatakan pihaknya telah melancarkan serangan balasan untuk "memastikan keselamatan penduduk", menggunakan tank, rudal artileri, dan drone.
Dalam pidato yang disiarkan televisi kepada Armenia, pada Minggu pagi, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev bersumpah untuk menang atas pasukan Armenia.
"Tujuan kami adil dan kami akan menang," katanya, menggemakan pidato diktator Soviet Joseph Stalin pada pecahnya Perang Dunia Kedua.
"Karabakh adalah Azerbaijan," serunya.
Armenia dan Karabakh mengumumkan darurat militer dan mobilisasi militer.
Azerbaijan memberlakukan aturan militer dan jam malam di kota-kota.
Armenia mengatakan bahwa Azerbaijan menyerang permukiman sipil di Nagorny Karabakh termasuk kota utama, Stepanakert.