Breaking News:

Berita Luar Negeri

Armenia Bakal Minta Bantuan Rusia, Terkait Sengitnya Perang Dengan Azerbaijan  

Pertempuran antara pasukan Azerbaijan dan Armenia memasuki hari keempat pada Rabu (30/9/2020), dalam letusan terbesar dari konflik mereka

AP/Sipan Gyulumyan
Seorang prajurit Armenia menembakkan meriam ke arah posisi Azerbaijan di wilayah separatis Republik Nagorny-Karabakh yang memproklamirkan diri, Azerbaijan, Selasa, 29 September 2020. (AP/Sipan Gyulumyan) 

SERAMBINEWS.COM - Pertempuran antara pasukan Azerbaijan dan Armenia memasuki hari keempat pada Rabu (30/9/2020), dalam letusan terbesar dari konflik mereka yang telah berlangsung selama puluhan tahun sejak gencatan senjata 1994.

Melansir Reuters, Azerbaijan dan Armenia mengatakan, ada serangan dari kedua belah pihak di beberapa arah di sepanjang garis kontak di Nagorno-Karabakh yang memisahkan kedua negara.

Pertempuran telah menyebar jauh melampaui perbatasan di Nagorno-Karabakh, mengancam akan meluap menjadi perang habis-habisan antara bekas republik Soviet di Azerbaijan dan Armenia.

Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, yang berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (29/9/2020), menyatakan, saat ini dia tidak mempertimbangkan untuk meminta bantuan berdasarkan perjanjian keamanan pasca-Soviet. Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya.

Cara Penukaran Uang Rp 75.000 di Semua Bank Umum, Dilayani Mulai 1 Oktober 

"Armenia akan memastikan keamanannya, dengan partisipasi dari Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO) atau tanpa itu," kata Pashinyan seperti dikutip kantor berita Rusia dan Reuters lansir.

Pashinyan mengatakan, dia dan Putin belum membahas kemungkinan intervensi militer Rusia dalam konflik Nagorno-Karabakh.

CSTO adalah aliansi militer yang ditandatangani pada 15 Mei 1992. Enam negara bekas Soviet—Rusia, Armenia, Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Uzbekistan—menandatangani traktat tersebut.

Nagorno-Karabakh adalah wilayah yang memisahkan diri di dalam Azerbaijan, tetapi dijalankan oleh etnis Armenia dan mendapat dukungan dari Armenia

Wilayah tersebut memisahkan diri dari Azerbaijan dalam perang pada tahun 1990-an, namun tidak diakui oleh negara mana pun sebagai republik merdeka.

Langkah apa pun untuk berperang habis-habisan dapat menyeret Rusia dan Turki, yang merupakan sekutu dekat Azerbaijan.

Polresta Banda Aceh Sudah Bentuk Tim Peucrok Pelanggar Protokol Kesehatan

Halaman
12
Editor: Hadi Al Sumaterani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved