Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

Harimau Berkeliaran di Objek Wisata, KEMPRa: Dampak tidak Adanya Kajian Lingkungan Spot Baru

Kemunculan harimau di seputaran objek wisata di Aceh Tamiang menjadi sorotan serius aktivis.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Serambi On TV
Masyarakat di Kampung Bengkelang, Bandarpusaka, Aceh Tamiang dikejutkan dengan kemunculan harimau di areal perkebunan warga yang pertama kali terlihat berada di persimpangan menuju objek wisata Sangkapane dan seputaran lokasi wisata Kuala Paret di Kampung Kaloy, Tamiang Hulu. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Kemunculan harimau di seputaran objek wisata di Aceh Tamiang menjadi sorotan serius aktivis.

Fenomena ini, menurut para aktivis, dampak dari pembukaan spot objek wisata baru yang tidak melalui kajian lingkungan.

Kesimpulan ini disampaikan Manajer Riset Kawasan Ekosistem Pulau Sumatera (KEMPRa), Andi Nur Muhammad setelah beberapa kali menelusuri langsung jejak harimau di sejumlah kawasan hulu Aceh Tamiang.

Menurutnya, kehadiran harimau di wilayah itu bukan sebuah ekspansi, melainkan memang sejak awal tempat tersebut menjadi habitat asli Harimau Sumatra.

“Sebenarnya dari tahun 2012 lalu, teman-teman kita yang melakukan petualangan atau pecinta alam sudah sering melihat harimau, gajah atau pun orangutan di kawasan itu. Sekarang ini, lokasi itu dijadikan objek wisata dengan nama Tamsar 27,” kata Andi, Senin (5/10/2020).

Tim Pemulasaran Jenazah Pasien Covid Hampir Pingsan, Makamkan 2 Warga Secara Prokes dalam Satu Malam

Total Pasien Covid-19 Aceh yang Sembuh Capai 3.057 Orang, dari Akumulasi 5.062 Kasus

Dewi Persik Ingatkan Suami Akan Kawin Lagi Kalau Ketahuan Lakukan Hal Ini

Andi pun mengaku, tidak terkejut bila kini kasus kemunculan harimau di wilayah itu sering terlihat. “Dengan dibukanya wilayah itu menjadi objek wisata, barulah kelihatan bahwa di sana ada spesies dilindungi,” sambungnya.

Hal ini, kata dia, tidak terlepas dengan dibukanya beberapa kawasan baru sebagai objek wisata. Dia pun menyayangkan pembukaan spot baru ini tidak diawali dengan kajian lingkungan dan dampak analisis.

“Kesannya kan mendadak, tiba-tiba kita dengar daerah ini dijadikan sebagai daerah ekowisata. Seharusnya ada kajian lingkungannya dulu,” paparnya.

Kondisi ini, sebut dia, diperparah dengan penguasaan wilayah hutan yang mempersempit jarak jelajah harimau.

Dia pun khawatir, bila tidak ada penanganan serius, konflik antara manusia dengan hewan buas akan terjadi di Aceh Tamiang.

Sekda Langsa Sembuh, 83 Pasien Positif Covid-19 Dinyatakan Sudah Sehat, 55 Orang Masa Penyembuhan

VIDEO - AZERBAIJAN Bebaskan Jabrayil di Tengah Konflik dengan Armenia

Brimob Nagan Raya Datangi Kompi B Krueng Isep Dini Hari, Ternyata Surprise Beri Kue HUT Ke-75 TNI

Seperti diketahui, harimau muncul ke perkebunan warga di Kampung Bengkelang, Bandarpusaka, Aceh Tamiang dan memangsa seekor lembu milik warga pada Jumat (2/10/2020).

Lokasi penampakan harimau itu berada di persimpangan menuju objek wisata Sangkapane. Hewan buas ini juga terlihat di seputaran lokasi wisata Kuala Paret, Kampung Kaloy, Tamiang Hulu.

“Sebaiknya warga jangan dulu mendekati lokasi bangkai lembu itu, karena ada kebiasaan harimau kembali untuk memakan kembali hasil tangkapannya tersebut,” pesan Andi.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved