Luar Negeri
Korban Tewas Perang Armenia dan Azerbaijan Capai 600 Orang
Sebanyak 600 orang dilaporkan tewas, dalam perang antara Armenia dan Azerbaijan di kawasan Nagorno-Karabakh selama dua pekan terakhir.
Kisah Lansia Korban Perang Azerbaijan-Armenia
Perseteruan Azerbaijan dan Armenia kembali panas setelah sejak pecah pertempuran pada 27 September di Nagorno-Karabakh.
Korban pertempuran tak hanya terdiri atas militer dari kedua belah pihak.
Warga sipil pun turut menjadi korbannya.
Salah satu warga yang paling parah terkena dampak perang adalah Kota Terter, bagian utara zona konflik, yang termasuk ke dalam wilayah Azerbaijan.
Banyak di antara warga kota tersebut mengungsi, namun banyak juga yang memilih tetap tinggal dan bersembunyi di dalam bungker bawah tanah.
Salah satu warga yang memilih untuk bersembunyi di bawah tanah adalah Tatyana Pashayeva (56) sebagaimana dilansir dari AFP, Selasa (13/10/2020).
Bersama dengan lebih dari 20 pria dan wanita, yang kebanyakan lanjut usia ( lansia), Pashayeva tinggal di dalam bungker tersebut sejak konflik meletus.
"Saya sangat, sangat ketakutan. Tidak ada yang memperingatkan kami bahwa perang akan segera dimulai," bisik pria tersebut.
Di wilayah tersebut, tim AFP melihat beberapa peluncur roket Azerbaijan melesat dan kemudian menembakkan salvo cepat ke pegunungan Nagorno-Karabakh.
Berulang kali rentetan peluru dan amunisi lainnya menghujani kota yang sepi dan rusak parah beberapa saat kemudian.
"Orang-orang Armenia terus-menerus menembaki kami. Mereka sekarang menembaki kita dengan senjata yang berbeda: dengan rudal, bom, tank, peluncur roket.
Mereka menggunakan semuanya," kata seorang pensiunan bernama Akif Aslanov.
Bersembunyi
Serangan terhadap Kota Terter mirip dengan yang dilakukan pasukan Azerbaijan di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert, dan kota-kota tempat tinggal etnis Armenia lainnya di kawasan itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/korban-serangan-dari-artileri-armenia-di-kota-ganja-azerbaijan.jpg)