Jurnalisme Warga
Serunya Makan Satai di Pusat Wisata Brayeun
Bicara rekreasi belum lengkap rasanya jika kita tidak membawa bekal spesial seperti persiapan untuk memanggang ikan, jagung, apalagi ayam
OLEH MUHADI KHALIDI, M.Ag., Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik Chapter Aceh Tenggara, melaporkan dari Brayeun, Aceh Besar
Bicara rekreasi belum lengkap rasanya jika kita tidak membawa bekal spesial seperti persiapan untuk memanggang ikan, jagung, apalagi ayam. Destinasi wisata yang asri menjadi kenikmatan tersendiri ketika melahap sesuatu sambil memandangi tarian ombak yang pecah menghantam karang. Sensasi ini biasanya sangat jarang dilewatkan oleh pecinta alam, khususnya mereka yang hanya punya waktu luang di saat weekend tiba.
Bila tidak pergi berlibur, rasanya seperti ada mata rantai yang hilang dari simetrisnya hidup dengan segala suka duka yang ada. Meskipun berpergian di hari Minggu itu melelahkan, tapi secara mental itu seperti terapi psikologi yang menjadikan diri selangkah lebih fresh melanjutkan setumpuk kerja yang sudah menanti esok hari.
Seperti itulah hidup para aktivis kantoran seperti saya dan teman-teman. Setiap minggu kami selalu berekreasi minimal ke beberapa pusat wisata yang ada di sekitaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Kali ini, saya ingin bercerita tentang serunya menikmati kuliner satai (sate) di pusat wisata Brayeun, Aceh Besar. Udara yang sejuk, airnya yang jernih menjadi paduan pesona yang luar biasa jika disinergikan dengan lezat dan gurihnya setusuk satai di lidah. Huft! Membayangkannya saja membuat saya lapar dan ingin kembali mencicipinya.
Setelah melakukan perjalanan selama 1,5 jam dari Kota Banda Aceh, kami tiba di Brayeun sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu Minggu pagi, kami melihat Brayeun sudah dipadati berbagai kalangan yang ingin menikmati pesona wisata irigasi yang sejuk. Begitu padatnya pengunjung, saya dan teman-teman hampir tak kebagian pondok untuk di-booking. Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya kami terpaksa memesan pondok yang tersisa meskipun berada di ujung lokasi Brayeun. Pada wisata kali ini, pondok sangat dibutuhkan guna beristirahat untuk melenturkan otot-otot yang sempat kaku karena lelah dalam perjalanan.
Setelah merasa fit, kami kemudian bergerak berdasarkan job desk masing-masing. Wahidin dan Ade misalnya, bertugas mencari kayu bakar dan mempersiapkan api. Azuar dan Saidul Akram berperan sebagai peracik bumbu satai sekaligus sayur-mayur yang selaras dicolek nantinya dengan sambal terasi. Begitu juga dengan Mirza dan Nuar yang tak mau kalah, mereka bertugas membeli air dan gorengan. Terakhir, saya dan Akbar bertugas sebagai pembakar satai.
Sekitar satu jam berlalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu matang juga. Kami pun menyantap satai dengan lahapnya ditemani makanan pendukung lainnya. Pada dasarnya satai itu memang sudah lezat, tapi kondisi saat itu membuat satai seolah jauh lebih sedap karena dikelilingi oleh indahnya objek wisata Brayeun. Secara sederhana, bisa digambarkan Brayeun ini seperti sebuah kolam yang luas dan memanjang yang diimpit oleh batu dan pepohonan yang masih terjaga keasriannya. Begitu juga dengan kondisi airnya yang mengalir, benar-benar sejuk dan tidak berbau kimia (kaporit) seperti yang ada pada kolam-kolam buatan. Maka tidak heran, pemandian Brayeun sangat diminati. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Di antara mereka ada juga yang menyewa pelampung dari ban dalam mobil untuk bergerilya seorang diri atau bisa merental perahu arun jeram yang berkapasitas enam orang.
Melihat semua itu, kami yang sebelumnya masih meringankan perut seusai melahap satai juga tak mau ketinggalan. Kami berenang, berlari, menyelam, bahkan berlomba menahan napas di dalam air. Setelah puas bermain bebas, kami mengarungi seisi perairan Brayeun dengan menyewa perahu karet. Kami juga berganti-gantian menunjukkan antraksi loncat dari perahu sembari loring ke dalam air. Tentu ini menambah keseruan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Tanpa terasa, sore tiba. Kami pun bergegas pulang ke Darussalam dengan pakaian basah hingga mengering di perjalanan. Meskipun lelah, wajah kami yang memerah memancarkan kepuasan dan kebahagiaan seolah ingin mengatakan, “Tidak rugi pergi jauh-jauh ke Brayeun.”
Menjaga alam
Destinasi wisata Brayeun merupakan aset wisata yang memukau di Aceh saat ini. Oleh karena itu, perlu dijaga dan dilestarikan secara kolektif. Baik pemerintah sebagai stakeholder maupun masyarakat selaku konsumen. Adapun yang masih terkendala sejauh ini adalah kurangnya kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan dan keasrian irigasi Brayeun. Sejauh pengamatan saya selama ini, masih banyak sampah plastik yang dibuang secara sembarangan. Baik di dalam air maupun di pondok-pondok tempat duduk para pengunjung.
Selain aspek kebersihan fisik, kebersihan hati juga perlu dijaga. Masih banyak di sana-sini para muda-mudi yang nonmuhram berduaan tanpa menjaga batas-batas syariat Islam. Meskipun tidak terlalu fatal, tetap saja berduaan di perahu, berenang berpasangan, serta mojok di sudut-sudut pohon akan mencederai keagungan Aceh selaku daerah penyunjung syariat Islam. Lagi pula, berdua-dua dengan lawan jenis yang bukan muhram, apalagi berbasah-basahan tentu sedikit banyak akan memacu syahwat yang berujung pada tindakan melampaui batas, nauzubillah!
Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya pihak pengelola dan pemerintah setempat. Seharusnya Brayeun memiliki penjaga khusus yang bertugas dalam menjaga batas syariat serta menjaga para perusak lingkungan yang membuang sampah sembarangan. Para pengelola tempat juga demikian, meskipun pengunjung nonmuhram datang memesan pondok, ada baiknya diminta buku nikah atau minimal KTP dengan status sudah menikah. Hal tersebut akan membantu terciptanya wisata religi yang menjadi bekal berharga di kemudian hari. Para pengelola juga jangan khawatir konsep tersebut akan mengurangi para pengunjung. Justru ini yang akan menjadi daya tarik tersendiri jika saja dapat diimplementasikan dengan benar.
Para pengelola atau minimal pedagang di sekitaran Brayeun harus memamahi bahwa rezeki itu datangnya dari Allah Swt. Maka dari itu, carilah yang halal dan baik, karena itu akan mempermudah turunnya rezeki-rezeki lainnya.
Menyediakan pelayanan kepada muda-mudi yang nonmuhram sama artinya dengan menyetujui kemungkaran terjadi di sekitar kita. Berapalah artinya uang ratus ribuan kalau itu menjadi mata rantai yang akan membelenggu kita ke neraka. Percayalah bahwa Allah Mahakaya dan Maha Pemurah. Jika saja Brayeun bisa dijadikan sebagai wisata religi secara kaffah, maka saya yakin pengunjungnya akan bertambah dan rezeki pengelola juga akan berlipat ganda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/muhadi-khalidi-mag-dosen-fakultas-syariah.jpg)