Selasa, 5 Mei 2026

Kisah Inspiratif

Michael Octaviano, Sosok Pekerja Sosial Masuk 10 Besar ASN Inspiratif Nasional

“Saat-saat awal membangun BFLF, karena kendala dana, saya pernah ditinggal sendiri oleh teman-teman pengurus.

Tayang:
Penulis: Nasir Nurdin | Editor: Nasir Nurdin
For Serambinews.com
Michael Octaviano bersama istri, dr. Sari Haslinur. 

Michael Octaviano, laki-laki 40 tahun ini tidak menduga jika pengabdiannya pada masyarakat berbuah manis. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) memilihnya masuk 10 besar Aparatur Sipil Negara (ASN) Inspiratif Nasional 2020.

SERAMBINEWS.COM – Michael Octaviano kini menjabat sebagai Kepala Seksi Pengasuhan dan Perlindungan di UPTD Rumoh Seujahtra Aneuk Nanggroe (RSAN) Dinas Sosial Aceh.

Laki-laki yang akrab disapa Michael itu tak pernah berharap apa yang dilakukannya selama ini mendapatkan penghargaan dari pihak manapun.

“Prinsip saya, sebaik-baik manusia adalah mereka yang berguna bagi manusia lainnya,” ujar Michael ketika bincang-bincang dengan Serambinews.com,  Minggu (1/11/2020).

Michael mengungkapkan, kisah yang kini berujung manis berawal saat ia mendirikan Blood for Life Foundation (BFLF) pada 26 Desember 2010.

Waktu itu, suami dari dr. Sari Haslinur ini mengajak teman-temannya untuk menjadi pengurus di lembaga yang baru didirikannya.

BFLF didirikan berangkat dari keprihatinannya terhadap minimnya stok darah di Aceh, sementara kebutuhan sangat banyak terutama untuk penderita thalassemia.

Baca juga: Pastikan Penerapan Protokol Kesehatan, Satgas Covid-19 Aceh Pantau Tempat Wisata

Sebagai lembaga sosial yang baru dibangun, Michael memimpin teman-temannya mencukupi permintaan darah di Aceh, namun semua itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Faktor ketiadaan anggaran dan dukungan dari organisasi sosial (Orsos) lain membuat ia beberapa kali malah ditinggalkan sendirian oleh teman-teman pengurusnya.

Sebagai Kasubbag Umum dan Kepegawaian di Bappeda Aceh saat itu, ia harus bisa membagi waktu antara tugas wajib sebagai abdi negara dan pengabdiannya pada masyarakat melalui BFLF.

“Saat itu adalah masa-masa sulit. BFLF hampir bubar karena banyak masalah yang kami hadapi, kami juga sering dituduh cari muka, pencitraan dan sebagainya. Saya sering ditinggal sendiri oleh teman-teman,” kata Michael.

Kondisi mulai membaik saat Menteri Sosial RI, Kofifah Indar Parawansa pada 2014 mendapuk BFLF sebagai organisasi masyarakat berprestasi tingkat nasional. Setelah mendapat pengakuan itu, respons publik berubah.   

“Kami juga langsung mendapat kerja sama dengan RSUZA untuk pemenuhan kebutuhan darah dan pendampingan pasien thalesimia dan kanker anak,” cerita Michael.

Baca juga: Meski Telah Dua Kali Disurati Dewan, Pemkab Pidie belum Serahkan Dokumen KUA dan PPAS

Permintaan dari banyak pihak terus bermunculan untuk membuka cabang BFLF di tiap-tiap kabupaten/kota di Aceh.

“Alhamdulillah saat ini cabang BFLF hampir di semua kabupaten/kota,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved