Internasional
Ibu Penyerang Gereja Nice Prancis, 'Kami Ingin Mencari Kebenaran'
Keluarga tersangka di Tunisia yang putus asa meminta melihat rekaman video dari apa yang terjadi dalam serangan mengerikan di gereja Nice Prancis.
SERAMBINEWS.COM, SFAX - Keluarga tersangka di Tunisia yang putus asa meminta melihat rekaman video dari apa yang terjadi dalam serangan mengerikan di gereja Nice Prancis.
Tersangka ketiga berada dalam tahanan Prancis pada Sabtu (31/10/2020) sehubungan dengan serangan pisau ekstremis Islam yang menewaskan tiga orang di sebuah gereja Nice.
Para penyelidik di Prancis, Tunisia dan Italia sedang mencoba menentukan motif tersangka utama Ibrahim Issaoui.
Apakah dia bertindak sendiri dan merencanakan serangan pada Kamis (28/10/2020) di Basilika Notre Dame, Nice.
Pihak berwenang menyebut serangan itu, yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan seputar kartun yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar Prancis yang mengejek Nabi Muhammad.
Baca juga: Prancis Tangkap Dua Orang Terkait Serangan Mengerikan di Gereja Nice
Issaoui, yang transit melalui Italia bulan lalu dalam perjalanan ke Prancis, berada dalam kondisi kritis di rumah sakit Prancis setelah terluka oleh polisi saat menangkapnya.
Seorang pria berusia 35 tahun yang telah bertemu dengan Issaoui di Nice ditangkap, kata seorang pejabat pengadilan, Sabtu (31/10/2020).
Seorang pria berusia 47 tahun yang telah bertemu dengan Issaoui pada malam sebelum serangan itu juga ditahan.
Sehingga jumlah tersangka yang ditahan menjadi tiga orang, tetapi hubungan mereka dengan serangan itu masih belum jelas.
Baca juga: Prancis Hadapi Keamanan Serius, Seorang Pendeta Ortodoks Ditembak di Lyon
Sebuah kelompok ekstremis Tunisia yang sebelumnya tidak dikenal mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, dan otoritas Tunisia dan Prancis sedang menyelidiki apakah klaim tersebut sah.
Di kampung halaman Issaoui di Sfax, keluarganya menyatakan keterkejutan dan memohon perdamaian.
Tetapi mereka juga mengungkapkan kebingungan bahwa pemuda yang minum alkohol dan tidak menunjukkan tanda-tanda radikalisme ini akan melarikan diri ke Prancis dan menyerang sebuah gereja.
“Kami ingin kebenaran tentang bagaimana putra saya melakukan serangan teroris ini," kata ibunya, Gamra kepada The Associated Press (AP), Minggu (1/11/2020).
Baca juga: Presiden Donald Trump, Hati Kami Bersama Rakyat Prancis
Dia sering menyela air mata saat memberi keterangan kepada wartawan.
"Saya ingin melihat apa yang ditunjukkan oleh kamera pengintai," harapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ibu-penyerang-gereja-nice.jpg)