Jumat, 12 Juni 2026

Internasional

Pembantaian Etnis Mengerikan Terjadi di Ethiopia, 54 Mayat Dikumpulkan di Halaman Sekolah

Pemberontak Ethiopia membantai puluhan warga sipil etnis minoritas di wilayah barat pada Minggu (1/11/2020).

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
BBCNews
Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed 

SERAMBINEWS.COM, ADDIS ABABA - Pemberontak Ethiopia membantai puluhan warga sipil etnis minoritas di wilayah barat pada Minggu (1/11/2020).

Amnesty International mengatakan orang-orang yang selamat dari pembantaian menghitung 54 mayat di halaman sekolah, serangan terbaru di mana anggota etnis minoritas menjadi sasaran.

Puluhan pria bersenjata itu juga membakar rumah-rumah pendudul dalam serangan menghebohkan di Ethiopia barat, kata para pejabat.

Otoritas setempat mengatakan pemberontak Tentara Pembebasan Oromo (OLA) yang disalahkan atas serangan di negara bagian Oromia.

Penduduk mengatakan puluhan orang ditangkap dan dibunuh serta ternak dicuri.

Baca juga: Penyerang Gereja Nice Sempat Shalat Subuh Sebelum Memenggal Seorang Wanita dan Membunuh Dua Pria

Perdana Menteri Abiy Ahmed menyatakan serangan itu mungkin berbasis identitas.

Kekerasan etnis meningkat sejak dia menjabat pada April 2018.

OLA adalah kelompok bersenjata yang disalahkan atas penculikan dan serangan bom di Ethiopia barat dan selatan. OLA memisahkan diri dari Front Pembebasan Oromo (OLF).

Sebuah partai oposisi yang menghabiskan bertahun-tahun di pengasingan dan kembali ke negara itu setelah Abiy menjabat pada 2018.

Seorang pejabat mengatakan sebuah tim telah dikirim ke Distrik Guliso, lokasi kekerasan untuk menyelidiki, mengantisipasi jumlah korban tewas bisa lebih tinggi.

Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC) mengatakan sekitar 60 "penyerang bersenjata dan tidak bersenjata terlibat dalam serangan itu yang dilakukan pada Minggu (1/11/2020).

Baca juga: Indahnya Bukit Pentagon, New Zealand-nya Aceh

Dikatakan anggota kelompok etnis Amhara, kelompok etnis terbesar kedua di negara itu, menjadi sasaran.

Cabang Amhara dari Partai Kemakmuran yang berkuasa juga merilis pernyataan yang mendukung laporan EHRC.

Seorang korban selamat mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa pasukan keamanan yang ditempatkan di daerah itu pergi dan OLA kemudian menangkap warga sipil.

"Setelah mengumpulkan kami, mereka menembaki kami, lalu menjarah ternak dan membakar rumah," kata mereka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved