Sabtu, 6 Juni 2026

Internasional

Prancis Melarang Ultra-Nasionalis Turki, Siapakah Srigala Abu-abu?

Pemerintah Prancis telah melarang gerakan ultra-nasional Turki, Srigala Abu-abu. Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, Senin (2/11/2020)

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/JEFF PACHOUD
Tentara Prancis berjaga-jaga saat seorang petugas polisi berjalan di Pusat Peringatan Nasional Armenia yang telah dirusak oleh warga Turki di Decines-Charpieu, Lyon, Prancis, Minggu (1/11/2020). 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Pemerintah Prancis telah melarang gerakan ultra-nasional Turki, Srigala Abu-abu.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, Senin (2/11/2020) mengumumkan akan melarang kelompok ultra-nasionalis Turki Srigala Abu-abu.

Kelompok ini terkait dengan Partai Gerakan Nasionalis (MHP), sekutu pemerintah yang berkuasa di Turki.

Selama konflik baru-baru ini di Nagorno-Karabakh, di mana Prancis dan Turki mendukung pihak yang berseberangan, kelompok tersebut menjadi terkenal karena mengorganisir pawai "Perburuan untuk Armenia" di Prancis.

Bahkan, merusak tugu Genosida Armenia di luar Lyon dengan slogan mereka sendiri dan referensi ke Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, lansir ArabNews, Rabu (4/11/2020).

Selama pawai, anggota kelompok mengancam orang-orang Armenia dengan slogan seperti: "Kami akan membunuh mereka."

Empat orang terluka di Lyon pada Rabu (27/10/2020) dalam bentrokan antara nasionalis Turki dan Armenia yang memprotes langkah militer Azerbaijan.

Pelarangan kelompok itu, yang didesak oleh Liga Internasional Melawan Rasisme dan Anti-Semitisme dan Dewan Koordinasi Organisasi Armenia di Prancis, akan dibahas oleh kabinet Prancis.

Baca juga: Puluhan Ribu Demonstran Bangladesh Protes Prancis, Teriakkan Kata-kata, Ganyang Prancis

The Grey Wolves didirikan pada 1960-an di Turki oleh MHP sebagai sayap militan.

Kelompok ini bertanggung jawab memicu kekacauan di jalanan pada 1970-an dan 1980-an.

Anggotanya banyak yang melawan sayap kiri dan bertanggung jawab atas banyak pembunuhan.

Simbol penghormatan mereka, dengan ibu jari menyentuh ujung dua jari tengah dan telunjuk serta jari kelingking terangkat, dipandang oleh banyak orang sebagai neo-fasis dan dilarang di Austria tahun lalu.

Larangan juga telah dipertimbangkan di Jerman.

Pada Agustus 2020, Dewan Urusan Internasional Rusia, sebuah wadah pemikir pro-Kremlin, juga menyebut kelompok itu sebagai organisasi "ekstremis".

Srigala Abu-abu memiliki cabang aktif di negara-negara Eropa dengan populasi Turki yang signifikan, seperti Jerman, Belgia, Belanda, dan Prancis.

Samim Akgonul, seorang ilmuwan politik di Universitas Strasbourg di Prancis, mengatakan Srigala Abu-abu bukanlah organisasi Turki yang paling terlihat di Prancis.

Tetapi mereka telah aktif dari waktu ke waktu, terutama selama krisis yang terkait dengan masalah Armenia, seperti undang-undang peringatan Prancis mengakui genosida Armenia.

"Secara historis, pendukung partai MHP sayap kanan Turki terorganisir secara otonom di Eropa, terpisah dari badan resmi Turki seperti Persatuan Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB), divisi Eropa dari Direktorat Urusan Agama Turki," katanya.

Baca juga: Presiden Prancis: Ini Eropa Kita dan Kami Tidak Akan Menyerah

Dia mengatakan sejak koalisi antara Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa dan MHP di Turki pada 2013, mobilisasi Srigala Abu-abu untuk mendukung negara Turki dan presiden menjadi lebih sering, terutama di Lyon dan Paris. .

Mehmet Ali Agca, ultra-nasionalis Turki yang berusaha membunuh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981, juga terkait dengan kelompok tersebut.

Menurut Akgonul, alasan utama pelarangan mereka di Prancis adalah aktivitas mereka baru-baru ini terhadap warga Prancis-Armenia di tengah suasana kekerasan umum.

Dia mengatakan mereka juga menjadi korban tambahan dari teror Islam di Prancis dan tanggapan Presiden Erdogan atas tindakan teror tersebut.

Baik pemerintah Turki maupun mitra nasionalisnya belum bereaksi terhadap pernyataan menteri Prancis Darmanin tentang pembubaran kelompok tersebut.

Pakar Turki, Matthew Goldman, dari Swedish Research Institute di Istanbul, mencatat Srigala Abu-abu bukanlah kelompok yang diorganisir secara resmi di Prancis.

Sehingga pengumuman Darmanin bahwa akan dibubarkan, patut dipertanyakan dan belum terjawab sampai para menteri membahas masalah tersebut pada Rabu (4/11/2020)..

“Politisi sayap kanan Marine Le Pen menuduh Darmanin hanya menggunakan kata-kata kosong, men-tweet tidak ada artinya mengklaim membubarkan kelompok yang sebenarnya tidak terorganisir," tambahnya.

Sebaliknya, dia menyerukan untuk menutup Konfederasi Islam Milli Gorus yang terhubung dengan AKP, yang merupakan organisasi resmi dengan 70 masjid di Prancis.

Baca juga: Viral Video Warga Buang Ratusan Botol Air Mineral Produk Prancis, Ada yang Menilai Mubazir

Presiden Prancis Emmanuel Macron ingin bersaing dengan Le Pen untuk menunjukkan dia tangguh terhadap Turki dan Islamisme, Goldman bertanya-tanya apakah dia akan beralih ke Milli Gorus selanjutnya.

Polisi Jerman baru-baru ini menyerbu masjid Milli Gorus di Berlin sebagai bagian dari penyelidikan tentang dugaan penipuan atas program subsidi COVID-19, yang memicu reaksi yang sangat tajam dari Erdogan.

Goldman mengatakan jika otoritas Prancis mengambil Milli Gorus juga, kemungkinan akan memicu tanggapan yang kuat dari Ankara.

“Agresi Srigala Abu-abu, menanggapi perang Nagorno-Karabakh dan perselisihan Prancis-Turki, tampaknya menjadi yang terburuk dari kedua dunia bagi publik Prancis," jelasnya.

"Kekerasan geng jalanan dan kekerasan Islamis, meskipun Srigala Abu-abu sebenarnya lebih nasionalis dari pada Islamis, ”katanya.

"Mudah-mudahan pihak berwenang Prancis dapat mencegah kekerasan lebih lanjut," harapnya.

"Mereka sudah berjuang untuk mengendalikan pandemi virus Corona dan protes anti-lockdown, sehingga situasinya siap untuk lebih banyak konflik," ujar Goldman.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved