Senin, 8 Juni 2026

Siap-Siap, Ini Jenis Barang yang Bakal Naik Jika Rupiah Terus Melemah, Saat Ini Rp18.034 per USD

Berdasarkan data real-time pasar spot hingga pukul 12.30 WIB, kejatuhan ini memperparah posisi rupiah yang sehari sebelumnya Rp18.029 per dolar.

Tayang:
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/AI
RUPIAH MELEMAH - Rupiah kian melemah, siap-siap ini beberapa jenis barang yang berpotensi bakal naik harga. 

SERAMBINEWS.COM – Tekanan terhadap mata uang Garuda kian tidak terbendung.

Nilai tukar rupiah kembali ambruk dan mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah setelah menembus level Rp18.034 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026) siang.

Berdasarkan data real-time pasar spot hingga pukul 12.30 WIB, kejatuhan ini memperparah posisi rupiah yang sehari sebelumnya berada di level Rp18.029 per dolar AS.

Depresiasi yang terus berlanjut ini menjadi alarm keras bagi perekonomian domestik.

Pelaku usaha kini terpaksa merogoh kocek lebih dalam akibat melambungnya biaya impor bahan baku dan komponen dari luar negeri.

Lonjakan biaya produksi tersebut diprediksi akan segera dibebankan kepada konsumen lewat kenaikan harga barang dan jasa di pasar ritel.

Lantas, produk apa saja yang paling rentan mengalami lonjakan harga jika mata uang rupiah terus terpuruk?

Baca juga: Daftar Barang yang Berpotensi Naik Harga Saat Rupiah Terus Melemah, Tembus Rp 18.037 per Dolar AS

Daftar barang yang berpotensi naik harga

Dilansir dari Kompas.com, Kamis (4/6/2026), Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengungkapkan bahwa setiap depresiasi rupiah sebesar 10 persen memiliki daya rusak yang mampu mendorong inflasi sekitar 0,5 hingga 1 persen. 

Kenaikan inflasi inilah yang nantinya memicu efek domino pada meroketnya harga berbagai kebutuhan pokok masyarakat.

Wijayanto menyebutkan, hampir seluruh sektor akan terpukul jika pelemahan ini berlangsung dalam jangka panjang.

Namun, terdapat lima kelompok barang utama yang paling sensitif dan cepat mengalami kenaikan harga, antara lain:

  • Produk Elektronik (Sangat bergantung pada komponen impor).
  • Pakaian dan Tekstil.
  • Barang Konsumsi Cepat Saji (Fast Moving Consumer Goods/FMCG).
  • Material Bangunan.
  • Produk Otomotif (Kendaraan bermotor dan suku cadang).

"Barang elektronik, pakaian, FMCG, bangunan, dan otomotif. Hampir semua terkena dampak," kata Wijayanto, seperti dikutip dari Kompas.com.

Tak hanya barang ritel, pelemahan rupiah juga berpotensi membuat harga aset bernilai besar seperti rumah dan mobil kian melambung, terutama jika disertai kenaikan suku bunga pinjaman. 

Bagi masyarakat yang memiliki kredit dengan bunga mengambang (floating rate), siap-siap menghadapi tagihan cicilan bulanan yang membengkak.

Bahkan, agenda perjalanan maupun pendidikan ke luar negeri terpaksa harus ditunda oleh sebagian warga karena biayanya yang otomatis melonjak drastis.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Pastikan Dampak Utang Masih Terkendali

Rupiah melemah terhadap 86 persen mata uang dunia

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved