Berita Jakarta
Pengamat Energi Indonesia: Pengelolaan Blok B Aceh Utara Harus Tetap Melibatkan Pekerja Lama
Ia menyarankan, pengelolaan tersebut harus tetap menyertakan orang-orang lama yang sudah lebih awal bekerja di tempat itu. Sebab, merekalah yang...
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Nurul Hayati
Ia menyarankan, pengelolaan tersebut harus tetap menyertakan orang-orang lama yang sudah lebih awal bekerja di tempat itu. Sebab, merekalah yang memahami benar persoalan yang ada di lokasi itu.
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pengamat energi Indonesia, Dr Ibrahim Hasyim SE MM mengingatkan, pengelolaan migas Blok B Aceh Utara oleh PT PEMA (PT Pembangunan Aceh) perusahaan BUMD Aceh, harus dilakukan oleh orang profesional, didukung kekuatan finansial dan manajemen yang baik.
“Hari pertama setelah pengalihan pengelolaan kepada PT PEMA, maka harus langsung bekerja, jangan ada jeda waktu. Sebab minyak dan gas yang sudah di bor, bisa hilang kembali kalau tidak langsung dikelola,” ujar Ibrahim Hasyim menjawab Serambinews.com, dalam webinar Ikatan Alumni Akademi Migas (Ilugas), Selasa (17/11/2020).
Ibrahim Hasyim menyampaikan materi “Meningkatkan Daya Tarik Hulu Migas” dipandu moderator Dr Ridwan Nyak Baik.
Pembicara lain dalam webinar itu Dr Ir Widradjat Aboekasan, pakar pemboran migas dan minyak bumi.
Pemerintah Aceh mengajukan permohonan pengelolaan Blok B dengan maksud, akan memperoleh pendapatan lebih tinggi dari pendapatan yang diperoleh sebelumnya, serta memberi efek domino kepada sektor-sektor lain.
Ibrahim Hasyim memahami semangat dan keinginan mengelola sendiri Blok B Aceh Utara, sumur tua yang sebelumnya dikelola oleh ExxonMobil sejak 1976 dan kemudian beralih kepada PT Pertamina Hulu Energi.
Baca juga: 262 Mahasiswa dari 108 Kampus se-Indonesia Ikut Lomba Esai Tingkat Nasional IEWC 2020 Unsam Langsa
Ibrahim Hasyim menyebutkan, sumur tua Blok B Aceh Utara tentu secara alamiah telah mengalami banyak pengurangan cadangan.
Oleh karena itu, harus dilakukan pengeboran baru.
Ia menyarankan, pengelolaan tersebut harus tetap menyertakan orang-orang lama yang sudah lebih awal bekerja di tempat itu.
Sebab, merekalah yang memahami benar persoalan yang ada di lokasi itu.
Ketua Ikatan Alumni Akademi Migas (Ilugas) Maximon Shah juga mendorong Pemerintah Aceh, bergerak cepat mempersiapkan pengelolaan Blok B tersebut.
Maximon mengaku ,punya pengalaman tentang lambatnya proses birokrasi di Aceh dan mengharapkan pengalaman tersebut tidak terulang kembali.
Ibrahim Hasyi menyebutkan, parameter keberhasilan pengelolaan Migas Blok B Aceh Utara oleh PT Pembangunan Aceh (PT PEMA), apakah mampu menghasilkan pendapatan lebih dari 70 persen bagi hasil Migas yang selama ini diterima Pemerintah Aceh.