Rabu, 22 April 2026

Jokowi Siap Jadi Orang Pertama Disuntik Vaksin Covid

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku siap menjadi orang pertama yang akan disuntik vaksin Covid-19

Editor: bakri
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo 

JAKARTA  - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku siap menjadi orang pertama yang akan disuntik vaksin Covid-19. Menurut Presiden, vaksinasi itu tentu harus sesuai arahan tim uji klinis yang menangani. Jokowi pun mengaku siap dan tak akan menolak untuk disuntik vaksin.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat wawancara eksklusif dengan Rosiana Silalahi dalam program yang disiarkan kanal YouTube Kompas TV, Selasa (17/11/2020). "Ya kalau saya, kalau diputuskan yang pertama disuntik presiden, ya saya siap," kata Jokowi.

Meski demikian, Kepala Negara mengingatkan jangan sampai muncul anggapan bahwa penyuntikan ini merupakan keuntungan yang didapat sebagai Presiden. "Ya, kalau saya ditentukan tim bahwa Presiden yang pertama (divaksin-red) saya siap. Tapi, jangan sampai nanti (ada anggapan-red) 'lho enak sekali Presiden yang pertama, harusnya rakyat dulu'," ucapnya. "Jangan ada seperti itu. Terserah tim, kalau tim menyampaikan Presiden yang pertama disuntik vaksin, saya siap," ulang Jokowi.

Presiden menjelaskan, saat ini sudah ada daftar prioritas penerima vaksin yang diprediksi baru tiba di Indonesia pada akhir November 2020. Jokowi pun menyebutkan beberapa profesi yang akan didahulukan menerima vaksin yakni mereka yang bekerja di lapangan. "Yang pertama disuntik nanti adalah tenaga kesehatan, para dokter, para perawat itu didahulukan, TNI/Polri, pelayan publik, ASN di tempat pelayanan pada masyarakat didahulukan, guru juga sama didahulukan kita sudah punya list kok, list-nya siapa-siapa nanti minggu depan simulasi," jelas Jokowi.

Ia mengatakan, pentingnya meningkatkan kehati-hatian terhadap pengadaan vaksin Covid-19 yang diperkirakan akan tiba pada akhir tahun nanti. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menegaskan, vaksin Covid-19 harus sudah lolos uji klinis serta pengujian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum disuntikan ke masyarakat.

"Kita harus hati-hati terhadap yang namanya vaksin itu. Harus melalui kaidah-kaidah scientific sehingga penting yang namanya emergency auto researchers yang akan dikeluarkan BPOM, BPOM ini penting sekali," kata Jokowi. Presiden Jokowi mengatakan, butuh waktu sekurangnya tiga pekan untuk menjalani pemeriksaan di BPOM sebelum vaksin didisribusikan ke masyarakat.

Eks wali kota Solo ini menargetkan vaksin dapat segera disuntikkan pada akhir atau awal tahun 2021. "Setelah datang harus lalui lagi tahapan-tahapan di BPOM, waktunya kurang lebih tiga minggu sampai satu bulan sehingga vaksin bisa disuntik akhir atau awal tahun," ucap Presiden Jokowi.

Jokowi juga mengaku berulang kali mengingatkan kepada jajaran menteri bahwa vaksin Covid-19 yang dibeli harus sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Saya tekankan berkali-kali ke menteri, vaksin yang dibeli harus masuk di dalam list WHO, yang disuntik umur 18-59 ini juga standar WHO harus diikuti," jelasnya.

Aman

Terpisah, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito, mengungkap inspeksi pengembangan vaksin Corona yang dilakukan BPOM bersama Kemenkes dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ke Cina. Salah satu yang diinspeksi adalah terkait kualitas dan mutu vaksin tersebut. Penny menyebutkan, data mutu dibutuhkan agar BPOM bisa mempercepat pemberian izin edar vaksin corona dengan skema Emergency Use Authorization (EUA). 

"Pengawalan vaksin Covid-19 Sinovac, dalam uji klinis vaksin untuk mendapatkan EUA tentunya membutuhkan data. Selain data mutu yang dihasilkan dari inspeksi dan pendampingan cara produksi obat yang baik, juga dibutuhkan data klinis berdasarkan hasil uji klinis fase tiga yang ditujukan untuk dapatkan data, aspek keamanan, dan khasiat," ujar Penny Lukito saat rapat dengan Komisi IX DPR.

Penny menjelaskan, sejauh ini BPOM tak hanya melihat fasilitas produksi Sinovac semata. Namun, BPOM juga sudah mendapatkan data terkait kualitas dan mutu vaksin yang dihasilkan Sinovac. Perempuan berkacamata itu mengatakan, kualitas menunjukkan hasil yang baik, sementara mutu juga tak mengalami masalah. 

"Kami sudah dapat data dan menunjukkan kualitas yang baik dan sangat bisa dipercaya. Sehingga jika dikaitkan dengan mutu sudah tak ada masalah, hanya sekarang kita masih menunggu aspek keamanan dan khasiat dari analisa dan monitoring atau observasi 3 bulan dan 6 bulan setelah penyuntikan yang dosis kedua," jelasnya.

Lebih lanjut, Penny juga menjelaskan bahwa uji klinis fase III vaksin Sinovac yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, menunjukkan belum adanya efek samping serius terhadap relawan. "Uji klinis di Bandung tidak ada laporan efek samping serius sampai saat ini. Per 6 November 2020, selesai 1.620 subjek vaksin dosis pertama dan 1.603 subjek dosis kedua. Dan 1.520 masuk periode monitoring, 17 subjek drop out tapi saya kira itu tidak signifikan. Sekarang masih berlangsung pengawalan dikaitkan keamanan dan khasiatnya," tandasnya.

Pada tempat yang sama, Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, menyebutkan, 107 juta warga  Indonesia akan divaksin Covid-19. Nantinya, setiap orang akan mendapatkan vaksin dua kali. "Total dosis 246.575.051. Ini dua dosis per orang dengan menambahkan wastage rate 15 persen," ujar Terawan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved