Rabu, 29 April 2026

Lingkok Kuwieng, Pesona Indah Membayar Lelah

Sebuah objek wisata yang dikenal dengan nama Lingkok Kuwieng atau Uruek Meuh, sungai kecil bertebing di tengah hutan lebat

Tayang:
Editor: bakri
www.serambitv.com
Lihainya Abusyik Nyetir Mobil Off-road, Menaklukkan Jalur Ekstrem ke Lingkok Kuwieng, Grand Canyonnya Aceh 

* Jalur Ekstrem Wisata Tersembunyi di Pedalaman Pidie

Jauh di pedalaman Padang Tiji, Kabupaten Pidie, tersembunyi ‘surga’ wisata yang begitu indah. Sebuah objek wisata yang dikenal dengan nama Lingkok Kuwieng atau Uruek Meuh, sungai kecil bertebing di tengah hutan lebat yang sekilas mirip Grand Canyon di utara Arizona, Benua Amerika. Lokasi ini masih kurang terjamah, karena akses yang harus ditempuh ke sana tidak mudah. Namun objek wisata tersembunyi ini cukup terkenal di kalangan para pemburu vakansi dengan suasana alam yang cukup memikat hati

BUPATI Pidie, Roni Ahmad yang akrab disapa Abusyik, memenuhi ajakan kami untuk menjajal jalur ekstrem ke lokasi wisata Lingkok Kuwieng, seusai podcast Serambi di kebunnya, di pedalaman Padang Tiji, Pidie, Rabu (18/11/2020). Ajakan itu menjadi agenda saya bersama Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Airifin, CEO Danis Car Interior, Afifuddin, dan seorang kolega dari negeri jiran, Imdoni yang turut bersama kami ke sana.

"Jeut, tajak keunan singoh, tapi tidak bisa dengan mobil biasa. (Bisa, kita pergi ke sana besok, tapi tidak bisa dengan mobil biasa)," kata Abusyik saat menghabiskan malam di balai miliknya di tengah hutan.

Mendengar Abusyik yang sepakat membawa kami ke Lingkok Kuwieng, saya pun memilih untuk istirahat lebih awal, karena besok akan mewawancarainya dalam podcast. Kecuali itu, saya khawatir tidak cukup tenaga untuk menembus belantara menuju ke lokasi wisata tersebut.

Siang sekira pukul 13.00 WIB, kami berangkat menggunakan dua mobil khusus untuk medan ekstrem, Chevrolet Colorado dan Toyota Land Cruiser, mobil offroad milik Abusyiek. Saya bersama Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokoler Setdakab Pidie, Mulyadi Nurdin, Imdoni, dan dua staf Abusyiek menumpangi Chevrolet double cabin yang dikendarai oleh Haekal Fitra (Eka), sopir khusus Abusyik. Sedangkan Zainal Arifin bersama Prof Dr Syamsul Rijal MA, Staf Khusus Bupati Pidie, Ridha Yuadi, dan Afifuddin di dalam Land Cruiser yang disopiri langsung oleh Abusyik.

Perjalanan kami mulai dari kebun Abusyik di Gampong Kambuek Paya Pie, Kecamatan Padang Tiji, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Sigli. Menurut Eka, dari pasar Padang Tiji ke Lingkok Kuwieng, perjalanan yang harus ditempuh sekira 6 kilometer. "Tapi jalannya parah ke sana, apalagi tadi malam hujan. Mungkin ini agak sulit menembus ke sana," kata Eka.

Abusyik dengan lihainya melaju di depan. Kami membuntuti mobilnya dari belakang. Hampir satu kilometer pertama, kondisi jalan mulai tidak beraspal. Bebatuan tampak menancap di permukaan jalan dan beberapa bagian berlubang.

Hujan yang mengguyur pada malam sebelum kami datang membuat medan yang harus kami lalui semakin berat. Hampir 20 menit perjalanan, kami disambut dengan medan jalan yang ekstrem, tanah liat, batu, licin, mendaki, dan menurun terjal. Jalan tersebut baru saja dilakukan pengerukan dalam proses pembangunan dengan Program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD), kerja sama TNI dengan Pemkab Pidie.

Mobil yang dikendarai Abusyik melesat pesat membelah belantara, seperti tak ada hambatan. Kami, tertinggal jauh di belakang. “Mobil itu tenaga kuda, Bang,” kata Eka.

Beberapa tanjakan dengan jalur ekstrem kami lewati, Eka yang juga eks kombatan itu cukup lihai membolak-balikkan setir di samping saya. Baru setengah perjalanan, badanpun terasa lelah. Di dalam mobil kami harus memegang erat pengaman karena guncangan yang kuat. Di tanjakan berikutnya, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah, tersangkut dengan batu besar.

Berulang kali, Eka menginjak gas namun tidak berhasil. Beruntung, kami mendapat bantuan beko yang sedang melakukan pengerjaan jalan TMMD. Dua petugas yang bekerja membantu menarik mobil kami dengan beko.

“Di depan apa masih ada medan begini Bang?,” tanya saya kepada Eka. “Masih, Bang,” ujarnya sambil terus mengemudi. Beruntung, beberapa jalur ekstrem dan terjal berikutnya mampu dijinakkan Reka dengan keahlian mengemudinya.

Tak terhitung berapa tanjakan yang kami lewati dengan medan yang tak biasa. Tak terhitung pula berapa kali benturan batu di bagian bawah saat Eka dengan lihai menembus jalur yang cukup melelahkan itu.

Membayar lelah 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved