Breaking News:

Berita Aceh Malaysia

Pertama Sejak 1981, Warga Aceh di Malaysia Tidak Gelar Kenduri Maulid, Ini Penjelasan Datuk Mansyur

Keputusan ini diambil menyusul kebijakan Kerajaan Malaysia yang masih membatasi terjadinya pengumpulan orang, guna mencegah penyebaran Covid-19.

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/Handover
Presiden Komunitas Masyarakat Aceh Malaysia (KMAM), Datuk Mansyur Bin Usman (tengah), bersama Jafar Insya Reubee (kiri) dan Saiful Alibata (kanan). 

SERAMBINEWS.COM, KUALA LUMPUR – Komunitas Aceh di Malaysia memutuskan untuk tidak melaksanakan kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW, tahun ini.

Keputusan ini diambil menyusul kebijakan Kerajaan Malaysia yang masih membatasi terjadinya pengumpulan orang, guna mencegah penyebaran Covid-19.

“Pihak KKM (Kementerian Kesehatan Malaysia) tidak membenarkan, dan juga pihak kepolisian tidak akan mengeluarkan surat izin. Disebabkan wabah Covid-19 berkepanjangan,” kata Presiden Komunitas Melayu Aceh Malaysia (KMAM), Datuk Mansyur Bin Usman, menjawab Serambinews.com via WhatsApp, Selasa (1/2/2020) malam.

Selain menjabat sebagai Presiden KMAM, Datuk Mansyur Bin Usman, saat ini juga dipercaya sebagai Presiden Persatuan Melayu Berketurunan Acheh Malaysia (Permebam).

Baru-baru ini, Datuk Mansyur juga mendapat amanah untuk memimpin Koperasi MASA Kuala Lumpur Berhad, sebuah koperasi yang didirikan oleh komunitas Melayu Aceh di Malaysia.

Beberapa hari lalu, Koperasi MASA sudah membuka toko pemasok barang kedai runcit pertama di kawasan Klang, Selangor.

Baca juga: Koperasi Aceh di Malaysia Buka Toko Grosir Pertama

BACA JUGA: Tan Sri Sanusi Junid, Tokoh Malaysia Kelahiran Kampung Yan Kedah, Lebih Aceh daripada Aceh

Datuk Mansyur mengatakan, Kerajaan Malaysia sangat ketat menerapkan SOP atau protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Salah satu yang paling ketat dipantau adalah kegiatan yang bersifat terjadinya perkumpulan orang dalam jumlah banyak.

“Majelis pernikahan memang sudah dibolehkan di masjid, karena ini sifatnya hal yang wajib, tapi orang yang hadir dibatasi dan duduk dengan jarak sekitar 1 meter, sesuai SOP,” katanya.

“Sementara untuk acara walimah tidak digalakkan. Kalau pun ada yang melaksanakan, maka harus patuh pada SOP yang sangat ketat,” lanjut Datuk Mansyur.

Tidak hanya di acara kenduri, pihak kepolisian Malaysia juga sangat ketat melakukan pemantauan terhadap warung makanan dan minuman.

“Setiap yang duduk di warung wajib memakai masker. Apabila ada pemantauan dan ditemukan individu yang tidak pakai masker, maka langsung kena saman (denda) sebesar 1.000 Ringgit,” kata Datuk Mansyur.

“Jika tidak bisa membayar denda, maka individu yang bersangkutan akan dibawa ke balai polis dan akan ditahan,” ungkap Datuk Mansyur yang berbicara dalam bahasa Aceh campur Melayu.

BACA JUGA: Mahathir Mohamad Merasa Sedih dan Kesunyian, Satu Per Satu Sahabatnya Meninggal Dunia

BACA JUGA: Ribuan Kuburan Muslim Ditemukan di Aragon Spanyol, Jejak Islam yang Hilang di Negeri Matador

Pertama Dalam 39 Tahun

Presiden Komunitas Melayu Aceh Malaysia (KMAM), Datuk Mansyur Bin Usman mengatakan, berdasarkan catatannya, ini merupakan pertama kalinya warga Melayu Aceh tidak melaksanakan kenduri Maulid Nabi Muhammad, dalam 39 tahun terakhir.

“Seingat saya, kenduri Maulid pertama kali dilaksanakan oleh warga Aceh dan Melayu keturunan Aceh pada tahun 1981 di  Kampung Baru Kuala Lumpur dan Kampung Kayu Ara di Seremban, Negeri Sembilan,” ungkap pria kelahiran Aceh Utara ini.

Semenjak itu, masyarakat Melayu Aceh setiap tahun melaksanakan perayaan Maulidurrasul secara meriah.

Hingga tahun 2019 lalu, perayaan Maulidurrasul yang dilaksanakan masyarakat Melayu Aceh berlangsung di hampir 50 titik di seluruh semenanjung Malaysia.

Namun, tahun ini tradisi itu terhambat karena keadaan darurat pandemi Covid-19.

Baca juga: Warga Aceh di Malaysia Gelar 17 Kali Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW, Catat Jadwal dan Lokasinya

Warga Aceh di Kuala Lumpur Malaysia, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H, Sabtu (19/1/2019).
Warga Aceh di Kuala Lumpur Malaysia, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H, Sabtu (19/1/2019). (Facebook.com/Mansyur Usman)

Baca juga: Malaysia Jadi Negara Prioritas yang Akan Mendapatkan Vaksin Covid-19 dari China

Baca juga: Malaysia Mulai Terima Pasien Berobat, Hanya untuk Rumah Sakit Tertentu

Sebagai muslim dan pencinta Nabi, masyarakat Melayu Aceh di Malaysia sangat bersedih hati karena tidak bisa melaksanakan kenduri untuk merayakan hari kelahiran Sang Penghulu Alam, Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasssalam.

“Tapi kita juga sangat faham dengan apa yang sedang dihadapi umat manusia saat ini. Sehingga pihak Kerajaan pun tidak membuat kenduri Maulid. Padahal tahun-tahun sebelumnya, Kerajaan sangat menggalakkan upacara perayaan Maulidurrasul ini,” ungkap Datuk Mansyur.

Ia menambahkan, setiap kali komunitas Melayu Aceh membuat Maulidurrasul, selalu mengurus izin dari pihak Bandaraya dan kepolisian.

Maka, ketika pihak Kerajaan membatasi kegiatan keramaian, maka dipastikan pihak Bandaraya dan kepolisian, tidak akan mengeluarkan izin untuk kegiatan kenduri dan acara keramaian.(*)

Baca juga: Kisah Warga Aceh di Malaysia di Tengah Lockdown , Dari Kesulitan Makan Hingga Bagi-bagi Bantuan

Baca juga: Bahas Pemulangan Warga Aceh di Malaysia, Mualem Temui Kepala BNPB, Ini Hasilnya

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved