Sabtu, 11 April 2026

Internasional

Tentara Australia Minum Bir dari Kaki Palsu Militan Taliban

Foto seorang tentara Australia sedang minum bir dari kaki palsu seorang militan Taliban yang tewas muncul pada Selasa (1/12/2020).

Editor: M Nur Pakar
The Guardian
Tentara Australia menjaga pasukan Afghanistan yang memeriksa seorang pria di sebuah desa di Provinsi Uruzgan, Afghanistan. 

SERAMBINEWS.COM, CANBERRA - Foto seorang tentara Australia sedang minum bir dari kaki palsu seorang militan Taliban yang tewas muncul pada Selasa (1/12/2020).

Hal itu bersamaan dengan tudingan Pemerintah China atas kejahatan perang di Afghanistan.

Foto tentara yang sedang minum dari "piala perang" yang terlihat di sebuah bar tidak resmi di Afghanistan pada 2009 menjadi salah satu bukti dari beberapa foto yang diperoleh The Australian Guardian.

Diansir The Telegraph, pertunjukan lainnya menampilkan dua tentara menari dengan kaki palsu.

Baca juga: Akademisi Australia Harus Jalani Pemulihan Panjang Seusai Dibebaskan dari Penjara Iran

Bar itu, yang dikenal sebagai Senjata Nyonya Gemuk, didirikan di dalam pangkalan pasukan khusus Australia di Tarin Kowt, ibu kota Provinsi Uruzgan.

Beberapa tentara mengklaim di Guardian bahwa praktik tersebut secara luas ditoleransi oleh perwira tingkat tinggi, bahkan melibatkan beberapa dari mereka.

Mengambil barang tanpa persetujuan pemilik dapat diklasifikasikan sebagai penjarahan, kejahatan perang yang dapat dikenakan hukuman hingga 20 tahun penjara.

Pengungkapan itu muncul ketika China membalas pemerintah Australia, yang telah mengkritik postingan di media sosial oleh pejabat senior Zhao Lijian.

Menampilkan gambar palsu seorang tentara Australia yang memegang pisau di tenggorokan seorang anak Afghanistan.

Baca juga: Setelah Amerika Serikat, Kini China Terlibat Perang Dagang Dengan Australia, Begini Kronologinya

Postingan itu merujuk pada temuan penyelidikan Brereton yang melibatkan pasukan Australia dalam dugaan pembunuhan tahanan atau warga sipil di Afghanistan.

Dalam sebuah pernyataan, Kedutaan Besar China di Canberra mengatakan Pemerintah Australia berusaha mengalihkan perhatian dari kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan Australia.

Hal itu untuk menyulut api nasionalisme domestik dan menyalahkan atas memburuknya hubungan antara negara-negara di China .

Sementara penyelidikan Brereton sebagian besar membebaskan petinggi militer Australia dari tanggung jawab atas kejahatan yang dituduhkan.

Baca juga: Pasukan Australia Bantai 39 Warga Afghanistan, Australia Minta Maaf

Laporan tersebut mencatat bahwa budaya pejuang telah berkembang di pasukan khusus yang berkontribusi pada pelanggaran, budaya yang tidak mungkin disadari oleh perwira senior.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved