Breaking News:

Internasional

Mahkamah Agung Iran Perkuat Hukuman Mati Wartawan yang Melarikan Diri ke Prancis

Pemerintah Iran, Selasa (8/12/2020) mengatakan Mahkamah Agung telah memperkuat hukuman mati.

AFP
Dua wanita memakai masker saat berjalan-jalan di Ibu Kota Teheran, Iran, Jumat (3/12/2020). 

SERAMBINEWS.COM, DUBAI - Pemerintah Iran, Selasa (8/12/2020) mengatakan Mahkamah Agung telah memperkuat hukuman mati.

Terhadap seorang wartawan pembangkang terkenal yang ditangkap tahun lalu.

Dia dituduh melakukan operasi intelijen, setelah bertahun-tahun diasingkan di Prancis.

Ruhollah Zam, dengan nama media sosial Amadnews memiliki lebih dari 1 juta pengikut, dihukum karena mengobarkan kekerasan selama protes anti-pemerintah pada 2017.

“Ya, Mahkamah Agung ... telah menguatkan hukuman yang dijatuhkan oleh Pengadilan Revolusi dalam kasus ini," kata Juru bicara pengadilan Gholamhossein Esmaili pada konferensi pers yang disiarkan langsung di situs pengadilan.

Putra seorang ulama Syiah pro-reformasi, Zam melarikan diri dari Iran dan diberikan suaka di Prancis.

Baca juga: Trump Perintahkan Penarikan Pasukan di Timur Tengah, Pentagon Sedang Cara Lain Cegah Serangan Iran

Pada Oktober 2019, Pengawal Revolusi Iran mengatakan telah menjebak Zam dalam operasi kompleks menggunakan penipuan intelijen.

Tidak disebutkan di mana operasi itu dilakukan.

Para pejabat Iran menuduh musuh bebuyutan Amerika Serikat dan lawan pemerintah yang tinggal di pengasingan mengobarkan kerusuhan, yang dimulai pada akhir 2017.

Sebagai protes tentang kesulitan ekonomi dan menyebar ke seluruh negeri.

Baca juga: Senapan Mesin Kecerdasan Buatan Israel Membunuh Ilmuwan Nuklir Iran, 13 Peluru Bersarang di Tubuhnya

Para pejabat mengatakan 21 orang tewas selama kerusuhan itu dan ribuan lainnya ditangkap.

Kerusuhan itu termasuk yang terburuk yang pernah terjadi di Iran dalam beberapa dekade, dan diikuti oleh protes yang bahkan lebih mematikan tahun lalu terhadap kenaikan harga bahan bakar.

Amadnews Zam dihentikan oleh layanan pesan Telegram pada 2018 karena mengobarkan kekerasan tetapi telah muncul kembali dengan nama lain.(*)

Baca juga: Angkatan Laut AS Akui Tidak Mudah Cegah Gangguan Armada Kapal Perang Iran

Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved