Jumat, 1 Mei 2026

Prestasi MTQ

Mengulik Prestasi MTQ Kafilah Aceh di Padang, Mulai dari Bibit hingga Peran Pemerintah

Salah satu penyebab kegagalan Aceh saat MTQN di Padang karena kurangnya persiapan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Tayang:
Penulis: Masrizal Bin Zairi | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Said Akram, kaligrafer Aceh yang juga salah satu dewan hakim Cabang Kaligrafi MTQ Nasional ke 28 tahun 2020 di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) saat menjadi narasumber Program Podcast Serambi Indonesia, Kamis (10/12/2020) 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Provinsi Aceh memiliki banyak kader atau bibit yang mumpuni dalam berbagai cabang perlombaan pada even Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Hanya saja, generasi emas tersebut butuh polesan serius, terutama dari Pemerintah Aceh agar bisa berjaya.

Demikian disampaikan Said Akram, kaligrafer Aceh yang juga salah satu dewan hakim Cabang Kaligrafi MTQ Nasional ke 28 tahun 2020 di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) saat menjadi narasumber Program Podcast Serambi Indonesia, Kamis (10/12/2020). 

Pada program bincang-bincang yang mengangkat tema "Prestasi Kaligrafi di Ajang MTQ", Said Akram merasa sedih dengan prestasi Aceh pada MTQN di Padang. Aceh berada pada peringkat 22 dari 34 provinsi yang ikut serta pada even tersebut.

Said Akram yang juga pelukis kaligrafi generasi ke dua di Indonesia ini mengungkapkan bahwa sebenarnya setiap kabupaten/kota di Aceh memiliki kaligrafer. Hanya saja selama ini mereka belum mendapat pembinaan yang baik.

"Potensi kaligrafi besar sekali di Aceh, seluruh kabupaten/kota bibitnya luar biasa. Kalau kita ibaratkan batu giok, kalau kita asah "meugiwang" semuanya," kata Said Akram yang merupakan alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1994 ini.

Pihak yang bertanggung jawab untuk membina generasi emas ini, menurut Said Akram adalah pemerintah sendiri.

"Kalau seandainya pemerintah kita menanyakan kepada kita sanggup tidak mengilatkan mereka. Tentu kita jawab siap," ujarnya lagi.

Menurutnya, tidak mudah untuk membuat anak-anak Aceh "meugiwang" pada even-even nasional.

Selain ada bakat juga karena mereka memiliki spirit Islam yang kuat di dalam diri generasi Aceh. 

Karena itu, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota harus hadir. Caranya dengan menyuntikkan anggaran dan bila perlu menghadirkan pelatih-pelatih yang handal di bidangnya.

Dalam kesempatan itu, Said Akram mengungkapkan bahwa salah satu penyebab kegagalan Aceh saat MTQN di Padang karena kurangnya persiapan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19.

Ia menyatakan, pada awal tahun 2020 sekitar bulan April, Dinas Syariat Islam Aceh melalui LPTQ sudah memgadakan program traning center (TC) dengan ketat.

Tapi di awal TC muncul pandemi Covid-19 sehingga TC awal tidak tuntas dan Pemerintah Aceh saat itu menarik semua dana TC untuk direfocusing. 

Namun menjelang pemberangkataan, dilakukan pemantapan selama tiga hari. "Tapi masih ada untung karena cabang kaligrafi kita dapat juara tiga, selain ada juara harapan lain," ungkapnya.

Said Akram berharap semoga ke depan Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota memberikan perhatian lebih dalam persiapan mengikuti MTQ nasional.

"Karena even ini bisa mengharumkan nama Aceh di kancah nasional," ungkap dia.(*)

Baca juga: Relawan Irwandi Se-Aceh Adakan Pertemuan di Banda Aceh, Ini yang Dibahas

Baca juga: WFP Raih Nobel Perdamaian 2020, Jangan Minta Kami, Pilih Siapa Hidup Atau Mati

Baca juga: Toilet Sekolah Dibangun Senilai Rp 196 Juta, Ternyata Begini Penampakannya

Baca juga: Aktivis Thailand Desak PBB Cabut Undang-Undang Pencemaran Nama Baik Raja

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved