Berita Aceh Tengah
Arul Latong, dari Jeratan Rentenir Bangkit dengan Inovasi Mesin Giling Kopi
Arul Latong, desa yang berada di gunung dan lembah yang dipenuhi perkebunan kopi rakyat. Masuk dalam Kecamatan Bies, Kabupaten Aceh Tengah....
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Arul Latong, desa yang berada di gunung dan lembah yang dipenuhi perkebunan kopi rakyat. Masuk dalam Kecamatan Bies, Kabupaten Aceh Tengah.
Dulu di kampung itu ramai beroperasi para rentenir, menawarkan pinjaman dengan bunga mencekik leher. Warga yang tidak punya pilihan, banyak yang terjerat.
"Di kampung kami ini dulu banyak yang beroperasi rentenir. Kasihan warga berada dalam pusaran praktik ekonomi yang jahat," tukas Reje Kampung Arul Latong, M Arifin SH.
Itulah sebab, saat ia dipercaya warga sebagai reje, Arifin langsung memberangus praktik rentenir tersebut. Hasilnya, selama tiga tahun kepemimpinan Reje Arifin, Arul Latong berhasil dibersihkan dari para rentenir.
Arifin menyebutkan, Arul Latong salah satu daerah penghasil kopi arabika terbaik di Aceh Tengah. Tanahnya subur. Kopi tumbuh sangat baik. Ada sekitar 400 hektar kopi milik warga di sana.
"Kita juga mengarahkan agar warga tidak lagi menjual kopi gelondong, tapi paling kurang menjual dalam bentuk gabah. Kami ingin mengembalikan kepada tradisi pendahulu-pendahulu kita. Mereka tidak pernah jual gelondong kopi," tukas Arifin.
Kopi gelondong ada buah kopi yang baru dipetik. Kopi gelondong dijual Rp 7000 per bambu atau 70 ribu per kaleng setara 10 bambu. Satu bambu setara 1,3 Kg.
Sebelum pandemi harga per bambu kopi gelondong rerata Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu rupiah.
Sementara kalau dijual dalam bentuk gabah harganya mencapai Rp 30-40 ribu per Kg sebelum pandemi. Saat ini, sejak pandemi harga Rp 18 ribu/ Kg. Sedangkan harga kopi dalam bentuk labu atau biji hijau (green bean) mencapai 60 ribu per Kg sebelum pandemi dan kisaran Rp 30 ribu per Kg di era pandemi.
Reje Arifin mendorong warganya agar menjual gabah atau labu, karena harganya jauh lebih tinggi dibanding harga kopi gelondong.
Guna meningkatkan pendapatan itulah, Arifin bersama perangkat kampung membuka ruang inovasi teknologi dalam bentuk mesin penggilingan kopi berjalan atau huler kopi.
Terobosan teknologi yang hebat dan Arul Latong, satu-satunya kampung di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang mempunyai mesin penggilingan kopi yang dapat dipindah-pindahkan dengan mudah sesuai kebutuhan. Untuk sementara, mesin hanya beroperasi di lingkungan setempat.
Mesin tersebut diciptakan untuk memudahkan kegiatan penggilingan kopi milik warga Arul Latong yang seluruhnya adalah petani kopi. Mesin penggilingan kopi tersebut memproses gabah menjadi labu atau green bean, dengan kapasitas 1 ton per jam.
"Mesin ini baru beroperasi sebulan, sangat memudahkan proses penggilingan kopi milik warga dari gabah menjadi labu atau biji hijau. Mesin ini bisa dipindah dengan mudah ke manapun dibutuhkan," ujar Reje M. Arifin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/reje-m-arifin-tengah-dan-perangkat-kampung-arul-latong.jpg)