Luar Negeri
Presiden Iran Hassan Rouhani: Kami Tak Senang Kedatangan Joe Biden, Tapi Kami Senang Trump Pergi
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa dia senang kalau Donald Trump akan meninggalkan jabatannya sebagai presiden, Rabu (16/12/2020).
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
SERAMBINEWS.COM - Dewan Elektoral atau Electoral College secara resmi mengukuhkan politikus dari Partai Demokrat, Joe Biden, sebagai Presiden Amerika Serikat ke-46, Senin (14/12/2020) malam waktu setempat.
Joe Biden meraup 306 electoral vote alias suara elektoral, melampaui 270 suara elektoral minimal yang dibutuhkan untuk melenggang ke Gedung Putih.
Sejumlah kepala negara seperti Meksiko dan Rusia telah memberi ucapan selamat kepada Joe Biden atas terpilihnya menjadi presiden AS.
Namun, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa dia senang kalau Donald Trump akan meninggalkan jabatannya sebagai presiden, Rabu (16/12/2020).
Ia menyebutnya Trump sebagai “presiden AS yang paling tidak taat hukum" dan seorang "teroris".
Kendati demikian, Rouhani juga tidak senang dengan kehadiran Joe Biden yang akan memimpin AS selama empat tahun kedepan.
Baca juga: Vladimir Putin Akhirnya Resmi Sampaikan Selamat ke Joe Biden Setelah Memilih Diam Pasca Pilpres AS
Baca juga: Amerika Serikat Terus Waspadai Serangan Iran, Ini Perbandingan Kekuatan Militer Iran dan AS
"Kami tidak terlalu senang dengan kedatangan Biden, tapi kami senang Trump pergi," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi, dikutip dari Arab News.
Iran dan AS telah lama mengalami pasang surut dalam hubungan keduanya.
Berikut catatan hubungan kedua negara, dikutip dari Kompas.com:
1953 - CIA membantu pelengseran Perdana Menteri Iran kala itu, Mohammed Mossadegh dan memulihkan kekuasaan Shah Mohammed Reza Pahlevi.
1957 – AS dan Iran menandatangani perjanjian kerjasama nuklir sipil. 1967 - AS memberi Iran reaktor nuklir dan senjata uranium.
1968 - Iran menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir yang mengizinkannya memiliki program nuklir sipil sebagai imbalan atas komitmennya untuk tidak membeli senjata nuklir.
1979 - Revolusi Islam Iran memaksa Shah Reza Pahlevi yang didukung AS untuk melarikan diri. Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari pengasingan dan menjadi pemimpin tertinggi Iran, ratusan orang menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera stafnya.
1980 - AS memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran, menyita aset Iran dan melarang hubungan dagang dengan Iran, serta kegagalan misi penyelamatan sandera yang dipesan oleh Presiden Jimmy Carter.
1981 - Iran melepaskan 52 sandera AS beberapa menit setelah Carter turun dan Ronald Reagan dilantik sebagai presiden AS.