Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

Begini Cara Pemkab Aceh Tamiang Atasi Stunting, Selain Tingkatkan Asupan Gizi, Juga Fokus Hal Ini

Selain meningkatkan asupan gizi bagi ibu hamil dan balita, kebersihan dan kesehatan lingkungan juga turut mempengaruhi pertumbuhan tubuh.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Serambi Indonesia
Wabup Aceh Tamiang, HT Insyafuddin bersama Kadinkes, Kepala Bappeda, dan sejumlah datok penghulu foto bersama usai membahas persoalan stunting. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Kasus stunting di Aceh Tamiang masih menjadi sorotan karena terjadi di seluruh kecamatan.

Selain meningkatkan asupan gizi bagi ibu hamil dan balita, kebersihan dan kesehatan lingkungan juga turut mempengaruhi pertumbuhan tubuh.

Kadis Kesehatan Aceh Tamiang, Ibnu Aziz mengatakan, pihaknya telah melakukan survei untuk mengetahui kondisi terbaru stunting di daerah itu.

Dari pendataan tersebut, bebernya, terungkap sebenarnya kalau kasus stunting di Aceh Tamiang mengalami penurunan, dibanding tahun sebelumnya karena sudah di bawah angka 10 persen.

“Tahun ini, kasus stunting kita tinggal 7,39 persen. Ini sudah menunjukan penurunan,” kata Ibnu Aziz kepada Serambinews.com, Kamis (17/12/2020).

Baca juga: Mobil Pikap Rombongan Mahasiswa KPM Terbalik di Jalan Amblas Lintas Provinsi, Lintas Peureulak-Lokop

Baca juga: Lagi, Satu Rumah Tertimbun Longsor

Baca juga: Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh Studi Banding ke Disdik Pidie, Ada Prestasi yang Dikagumi

Namun angka itu, disebut Kadis Kesehatan Aceh Tamiang, masih di bawah standar nasional yang telah dipatok pada 5 persen.

“Makanya kita terus bekerja, salah satunya dengan mendirikan Rumoh Gizi Gampong (RGG),” ujar Ibnu Aziz.

Dari survei terbaru, rincinya, Kecamatan Manyakpayed menjadi daerah terbanyak stunting yakni 342 orang, dengan rincian 244 pendek dan 98 sangat pendek.

Tapi secara persentase, papar Ibnu, justru Kecamatan Bandarpusaka yang berada di posisi teratas, yakni 16,86 persen.

“Dari sasaran 1.269 anak, 214 orang dinyatakan stunting. Ini kita bagi dalam dua kelompok, sangat pendek 49 dan pendek 165,” jelas Ibnu merincikan hasil survei di Bandarpusaka.

Melalui rapat pencegahan dan penanggulangan stunting terintegrasi serta penyerahan sertifikat ODF (Open Defection Free) di Aula Dinkes, Selasa (15/12/20), dinyatakan, kasus stunting sangat dipengaruhi faktor kesehatan lingkungan, terutama sanitasi.

Baca juga: Macet Selama 4 Jam Akibat Longsor, Jalan Bireuen-Tekengon Sudah Bisa Dilalui Kendaraan

Baca juga: BPBAP Ujung Batee Lepas Liar 5.000 Benih Kakap Putih

Baca juga: Anak Korban Banjir Sudah Bisa Sekolah

“Di luar asupan gizi, kebersihan lingkungan juga memengaruhi terjadinya stunting. Misalnya ketiadaan sanitasi,” kata Wakil Bupati Aceh Tamiang, HT Insyafuddin ketika memimpin rapat itu.

Insfyafuddin pun mendorong, seluruh kecamatan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya membuang air besar di toilet agar kesehatan lingkungan tetap terjaga.

“Bukankah kebersihan sebagian dari iman. Sementara Islam, iman dan ihsan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan," ulas Wabup.

"Kebersihan itu berguna untuk menyempurnakan ibadah, kalau sudah bersih, tentu sehat akan mendukung,” papar Insyafuddin.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved