Senin, 13 April 2026

Internasional

Kapal Selam Berpeluru Kendali AS Muncul di Selat Hormuz, Sinyal Peringatan ke Iran

Kapal selam berpeluru kendali dari Ohio, USS Georgia berlayar melalui Selat Hormuz ke Teluk Persia pada Senin (21/12/2020).

Editor: M Nur Pakar
AP
Kapal Perang AS di Selat Hozmuz 

SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON - Kapal selam berpeluru kendali dari Ohio, USS Georgia berlayar melalui Selat Hormuz ke Teluk Persia pada Senin (21/12/2020).

Angkatan Laut AS mengambil langkah yang sangat tidak biasa untuk memastikan semua orang tahu bahwa mereka ada di sana.

Kapal selam itu didampingi oleh kapal penjelajah berpeluru kendali USS Port Royal dan USS Phlipine Sea, kata Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan tentang aktivitas USS Georgia menandai pertama kalinya sejak 2012 bahwa Angkatan Laut mengumumkan kehadiran kapal selam berpeluru kendali di Teluk Persia.

Pernyataan itu menekankan daya tembak kapal selam, seperti dilansir Business Insider, Selasa (22/12/2020).

Kapal selam rudal seperti USS Georgia dipersenjatai dengan daya tembak tempur yang lebih konvensional daripada kapal angkatan laut lain.

Baca juga: Jerman Minta Iran Manfaatkan Kesempatan Terakhir, AS Akan Kembali ke Kesepakatan Nuklir 2015

Kapal selam ini membawa 154 rudal jelajah serangan darat Tomahawk (TLAM), rudal subsonik yang digunakan untuk serangan jarak jauh jauh.

Kapal selam ini memiliki 22 tabung rudal dengan tujuh TLAM.

Setiap rudal memiliki jangkauan sekitar 1.700 km, memberi kapal ini radius tempur yang cukup besar.
Kapal penjelajah yang berlayar dengan USS Georgia juga membawa banyak peluru kendali/.

Kapal selam berpeluru kendali juga dapat dikonfigurasi untuk mendukung hingga 66 pasukan operasi khusus.

Dengan tambahan seperti Advanced SEAL Delivery System atau tempat penampungan dek kering.

Seorang pejabat Angkatan Laut mengatakan kepada Fox News bahwa penyebaran USS Georgia ke Teluk Persia bukanlah tanggapan langsung terhadap peristiwa baru-baru ini.

Tetapi telah direncanakan sejak lama menjelang peringatan pembunuhan Mayjen Qassem Soleimani, mantan Kepala Korps Pengawal Revolusi Islam Iran.

Kematian Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS pada awal Januari 2020 hampir menyeret AS dan Iran ke dalam konflik bersenjata.

Iran telah melancarkan serangan rudal terhadap AS dan pasukan koalisi di Irak, sebagai tindakan balas dendam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved