Selasa, 21 April 2026

Internasional

China Klaim Usir Kapal Perang AS Dekat Kepulauan Spratly

Pemerintah China mengklaim militernya telah mengusir satu kapal perusak Angkatan Laut AS. Kapal perang AS itu dituduh telah masuk tanpa izin ke perair

Editor: M Nur Pakar
AFP
Kapal perusak Angkatan Laut AS, USS John S McCain 

SERAMBINEWS.COM, BEIJING - Pemerintah China mengklaim militernya telah mengusir satu kapal perusak Angkatan Laut AS.

Kapal perang AS itu dituduh telah masuk tanpa izin ke perairan teritorial China di dekat Kepulauan Spratly.

Hal itu akan menambah ketegangan baru antara Washington dan Beijing di Laut China Selatan.

Pernyataan Kolonel Senior Tian Junli, juru bicara Komando Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), datang tak lama.

Setelah Angkatan Laut AS mengumumkan USS John S McCain menegaskan hak dan kebebasan navigasi di laut yang disengketakan di dekat pulau, sesuai hukum internasional.

Insiden itu terjadi ketika Shandong, kapal induk kedua China, dilaporkan melakukan latihan di wilayah tersebut setelah berlayar melalui Selat Taiwan yang sensitif pada Minggu (20/12/2020).

Baca juga: Malaysia Membeli Vaksin AstraZeneca, Mencari Lebih Banyak Lagi Dari China dan Rusia

Pemerintah China mengklaim kedaulatan atas sebagian besar Laut China Selatan.

Secara langsung mempermasalahkan klaim teritorial terumbu, pulau dan perairan oleh tetangga regionalnya yang lebih kecil.

Filipina, Malaysia, Vietnam, Brunei, dan Taiwan semuanya telah mengklaim Spratly, seperti dilansir AFP, Rabu (23/12/2020).

Tahun ini, Beijing telah menunjukkan ketegasannya atas perairan yang kaya energi.

Mendorong AS untuk mengecam prilaku penindasan di sana dan meningkatkan kebebasan operasi navigasi sendiri.

Pada Sabtu (19/12/2020), Angkatan Laut AS memecahkan rekornya sendiri setelah berapa kali mengirim kapal perang melalui Selat Taiwan dalam satu tahun.

Termasuk kapal perusak berpeluru kendali USS Mustin melakukan transit ke- 13 melalui jalur perairan yang memisahkan diri dari China

Partai Komunis China mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, meskipun tidak pernah memerintah di sana.

Bahkan, mengancam akan menyerang jika pulau itu menolak untuk dianeksasi secara damai.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved