Wakil Ketua Komisi X DPR: Potensi Wisatawan dari Malaysia dan Australia belum Digarap Maksimal

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fikri Faqih menilai, potensi wisatawan dari Malaysia dan Australia  belum digarap secara maksimal....  

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
For Serambinews.com
Abdul Fikri Faqih, Wakil Ketua Komisi X. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fikri Faqih menilai, potensi wisatawan dari Malaysia dan Australia  belum digarap secara maksimal.  

Data 2019 sebelum pandemi menunjukkan, Malaysia masih merupakan negara penyumbang wisman terbesar sebanyak 2,98 juta kunjungan, disusul China dengan 2,072 juta kunjungan.   

Selanjutnya ada Australia dengan 1,38 juta kunjungan.  Secara total negara-negara Oseania (termasuk Australia di dalamnya) menyumbang 1,6 juta kunjungan ke Indonesia.

Hal itu disampaikan Fikri Faqih, Senin (21/12/2020). Ia minta kerjasama  pariwiaata dengan China dievaluasi karena ternyata Indonesia lebih banyak dirugikan.

Selain itu, lanjut politisi PKS ini,  negara-negara mayoritas muslim di Timur Tengah merupakan pasar potensial yang tak kalah menarik.

“Karena Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar,  yang notabene menjadi destinasi yang nyaman bagi turis-turis muslim dengan konsep wisata halalnya,” urai Fikri.  

Dalam periode 2019 lalu, kunjungan wisman asal Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, Yaman, Uni Emirat, dll baru mencapai 263,9 ribu kunjungan.

Fikri mengusulkan agar pemerintah melirik negara-negara lain yang lebih potensial dan mampu memberi nilai tambah bagi devisa. 

“Saat ini kita harus berorientasi pada Quality Tourism, kunjungan wisman yang berkualitas dan menghidupkan ekonomi lokal, serta meningkatkan devisa negara,” tegasnya.

Dirinya juga menekankan pentingnya menciptakan citra pariwisata Indonesia yang memberi rasa aman dan nyaman di tengah masih merebaknya pandemi Covid 19.  

“Selain konsep 3A yang sudah dikenal selama ini, yakni atraksi, amenitas, dan aksesbilitas pada destinasi, kita juga harus menunjukkan pariwisata Indonesia sudah tersertifikasi terhadap kebersihan, higienitas, dan keamanan serta ramah lingkungan atau CHSE ,”  urai dia.

CHSE adalah singkatan dari Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan).  Merupakan proses sertifikasi kepada Usaha Pariwisata, Destinasi Pariwisata, dan Produk Pariwisata lainnya untuk memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan.(*)

Baca juga: Bupati Ramli Antar Bantuan Masyarakat Aceh Barat untuk Korban Banjir Aceh Utara dan Aceh Timur

Baca juga: Turki Hukum Jurnalis Terkemuka Selama 27 Tahun Penjara

Baca juga: Syaiful SHI Dilantik Jadi Kakankemenag Aceh Tenggara

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved