Bebas Rakit

Drien Leukiet-Lama Tuha Bebas Rakit, Operator Rakit Krueng Teukueh Ikhlas Hilang Pekerjaan

Saluran yang sengaja digali (dikhueh) ternyata sangat rawan erosi. Tebing kedua sisi saluran terus berjatuhan ketika terjadi luapan sehingga saluran

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/ZAINUN YUSUF
Operator rakit Krueng Teukueh, Syukur melayani jasa penyeberangan pengendara sepeda motor di lokasi menjelang tuntas pembangunan jembatan rangka baja di lokasi, Minggu (24/11/2020) lalu (kanan). Sedangkan foto kiri jembatan rangka baja yang sudah rampung dikerjakan. 

Laporan Zainun Yusuf I Aceh Barat Daya

SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Pembangunan jembatan rangka baja sepanjang 60 meter yang melintang di atas aliran sungai Krueng Teukueh, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), akhirnya rampung dikerjakan yang dimulai pertengahan Desember lalu.

Awal tahun ini, jembatan menghubungkan kawasan Drien Leukiet Gampong Blang Makmur dengan kawasan Lama Tuha, sudah bisa dilalui kendaraan bermotor.

Lama Tuha merupakan salah desa terpencil di Abdya, namun telah berkembang menjadi sentra perkebunan kelapa sawit rakyat.

Di kawasan ini sebelumnya tidak ada aliran sungai, melainkan lahan garapan warga. Pada tahun 2008 lalu, aliran Krueng Babahrot dipindahkan sebagian dari Dusun Lhueng Maee, Gampong Cot Seumantok ke kawasan tersebut sebagai upaya pengendalian banjir sangat meresahkan masyarakat.

Proyek pemindahan sebagian aliran Krueng Babahrot tersebut dibiayai anggaran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias.

Awalnya, hanya digali saluran dengan lebar 10 meter dari Lhueng Manee menuju Lama Tuha dan tembus ke laut lepas.

Saluran yang sengaja digali (dikhueh) ternyata sangat rawan erosi. Tebing kedua sisi saluran terus berjatuhan ketika terjadi luapan sehingga saluran menjadi semakin lebar.

Baca juga: VIRAL Warga Gotong Royong Buat Laluan Banjir ke Laut, Berhasil Selamatkan Kediaman dari Air Bah

Baca juga: Sejumlah Potongan Tubuh Penumpang Sriwijaya Air SJ182 Ditemukan Tim Penyelam

Baca juga: Postingan Terakhir Pramugara Sriwijaya Air Jadi Sorotan dan Banjir Air Mata, Firasat?

Saluran ini kemudian berubah menjadi aliran sungai besar dengan lebar mencapai 60 meter. Sungai pun belakangan terkenal degan nama Krueng Teukueh.

Sebelumnya, di lokasi ini beroperasi sebuah rakit melayani jasa penyeberangan masyarakat petani dari dan ke lokasi ereal perkebunan kelapa sawit di seberang Krueng Teukueh. Berawal dari sebuah rakit kecil, kemudian berubah menjadi rakit ukuran besar.

Rakit penyeberangan di lokasi ini menggunakan rakitan sejumlah drum kosong sebagai pelampung dan permukaan lantai rakit dari kayu papan untuk menampung kendaraan bermotor khusus roda dua dan masyarakat petani.

Rakit Krueng Teukueh mampu menampung maksimal 18 unit sepeda motor dan 30 warga untuk menyeberangi aliran sungai menuju kawasan perkebunan dan areal pertanian masyarakat di kawasan Lama Tuha atau lahan Jalan 30.

Rakit penyebarangan dikendalikan dua warga secara bergantian dan keduanya bertindak sebagai operator. Satu orang di antaranya adalah Syukur. Laki-laki paruh baya ini melakoni pekerjaan tersebut sekitar tujuh tahun terakhir atau sejak 2014 lalu.

Berfungsinya jembatan rangka baja Krueng Teukueh akhir Desember 2020 lalu, sekaligus mengakhiri era bebas rakit penyeberangan di lokasi.

Syukur bersama satu rekan yang lain juga kehilangan pekerjaan sebagai mata pencarian yang menjadi andalan bertahun-tahun.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved