Breaking News

Bebas Rakit

Drien Leukiet-Lama Tuha Bebas Rakit, Operator Rakit Krueng Teukueh Ikhlas Hilang Pekerjaan

Saluran yang sengaja digali (dikhueh) ternyata sangat rawan erosi. Tebing kedua sisi saluran terus berjatuhan ketika terjadi luapan sehingga saluran

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/ZAINUN YUSUF
Operator rakit Krueng Teukueh, Syukur melayani jasa penyeberangan pengendara sepeda motor di lokasi menjelang tuntas pembangunan jembatan rangka baja di lokasi, Minggu (24/11/2020) lalu (kanan). Sedangkan foto kiri jembatan rangka baja yang sudah rampung dikerjakan. 

Bukannya bersedih kehilangan sumber pendapatan, Syukur mengaku sangat gembira atas suksesnya pemasangan rangka baja jembatan Krueng Teukueh sepanjang 60 meter.

Sebab, kegiatan pemasangan rangka baja yang dilakukan dua kali sembelumnya berakhir gagal.

“Kami ikhlas kehilangan pekerjaan demi kepentingan yang lebih banyak. Kami bisa mencari pekerjaan lain,” kata Syukur kepada Serambinews.com dengan matap, beberaap waktu lalu.

Syukur bersama satu orang rekannya bekerja sebagai operator rakit penyeberangan Krueng Teukueh selama tujuh tahun terakhir.

Warga Gampong Blang Makmur, Kuala Batee ini dari pekerjaan tersebut bisa mengumpulkan pendapatan maksimal kadang-kadang mencapai Rp 1,2 juta per hari.

Dari jumlah itu Rp 700 ribu diserahkan kepada pemilik rakit, sisanya dibagi dengan satu lagi rekan operator yang lain.

Pendapatan seperti itu dikatakan tidak saban hari, melainkan pada hari Sabtu dan Minggu, karena hari libur kerja sehingga banyak warga menuju ke kebun sehingga terjadi ledakan jumlah penumpang.

“Kalau hari Sabtu dan Minggu merupakan hari libur kerja, jumlah sepeda motor yang harus dilayani bisa mencapai 400 unit,” ujar Syukur.

Jasa penyebarangan sepmor siang hari dikutip Rp 3.000 per unit, sedangkan jika pelayanan malam hari Rp 5.000 per unit, dan rakit beroperasi sampai tengah malam, kecuali terjadi banjir.

Sedangkan penyebarangan masyarakat tanpa menggunakan kendaraan bermotor tidak dikutip jasa.

Pendapatan yang sangat lumayan selama bertahun-tahun, kini sudah berakhir seiring berfungsinya jembatan rangka baja Krueng Teukueh. Jembatan penghubung ini memang menjadi impian ribuan masyarakat petani Abdya selama bertahun-tahun.

Masih menurut Syukur, pembangunan jembatan Krueng Teukueh yang ketiga kali ini sempat menimbulkan perasaan was-was sebagian masyarakat petani. Soalnya, pembagunan dua kali sebelumnya berakhir gagal.

Pemasangan rangka baja pada tahun 2016 lalu, sebenarnya hanya tersisa sekitar 10 meter dari panjang 60 meter, akhirnya runtuh ke dalam sungai.

Bentangan rangka baja sepanjang 50 meter ambruk setelah tiang pancang penyangga dari batang kelapa di tengah sungai ambruk bersama rangka baja jembatan diterjang banjir besar saat itu.

Karenanya, pembangunan rangka baja jembatan Krueng Teukueh kali ketiga yang dimulai sejak Oktober 2020 lalu, banyak masyarakat memanjatkan doa agar berhasil.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved