Berita Aceh Tamiang
Penyuluh Pertanian Dikerahkan Benahi Perkebunan Sawit Rakyat
Kualitas maupun produksi perkebunan kelapa sawit rakyat sejauh ini kalah jauh dibanding perusahaan. Padahal merujuk luas lahan yang dimiliki...
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Jalimin
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Kualitas maupun produksi perkebunan kelapa sawit rakyat sejauh ini kalah jauh dibanding perusahaan. Padahal merujuk luas lahan yang dimiliki, petani seharusnya memiliki daya saing tinggi.
Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus menyebut perkebunan kelapa sawit yang dikelola mandiri oleh masyarakat mencapai 21.455 haktare. Perusahaan sendiri sejauh ini menguasai lahan HGU seluas 46 ribu hektare.
Namun kenyataan masyarakat belum bisa menyaingi hasil produksi maupun kualitas yang dikelola pihak perusahaan. Mirisnya, petani masih sangat bergantung dengan perusahaan dalam menentukan harga jual.
“Ada beberapa faktor sebagai penyebab utamanya, kami sudah mengurainya dan saat ini sedang kami benahi,” kata Yunus, Minggu (17/1/2021).
Faktor tersebut kata Yunus mulai dari pola perawatan tanaman kelap sawit hingga mata rantai penjualan yang cukup panjang. Petani kata dia, sedikitnya harus melalui empat tahapan untuk menjual tandan buah segarnya.
“Sebelum diterima ke PKS, biasanya mereka jual dulu ke pengepul di kampung, kemudian agen besar, pabrik baru kemudian dibawa ke Medan. Ini sudah berapa selisih harganya,” ungkap Yunus.
Namun untuk menjual langsung ke PKS, petani juga belum memenuhi persyaratan.
“Persoalannya dengan kualitas TBS hari ini, petani kita belum bisa menjual langsung ke pabrik. Kami simpulkan pembenahan harus dimulai dari pengelolaan dan perawatan kebun,” beber Yunus.
Dengan menggandeng Pusat Unggulan Perkebunan Lestari (PUPL), Distanbunak Aceh Tamiang mulai mengumpulkan seluruh penyuluh untuk diberi pemahaman tentang perawatan kelapa sawit.
Para penyuluh ini diharapkan mampu membimbing petani kepala sawit untuk menghasilkan TBS sesuai good agricultural practices (GAP). Seluruh produksi yang sudah memenuhi GAP nantinya akan disertifikasi sebagai veritad sourching area (VSA) yang siap ditampung oleh investor.
“Beberapa investor juga sudah bersedia bekerja sama dengan kami, artinya nanti mereka bersedia membeli langsung TBS dari petani yang sudah dilabelil VSA,” ujarnya.
Yunus menjelaskan pelatihan untuk penyuluh yang akan berakhir 19 Januari ini cukup penting karena sebagian besar pemahaman yang dimiliki tentang tanaman pangan dan holtikultura. “Untuk perkebunan dan peternakan kita masih minim, makanya pelatihan ini sangat penting,” tukasnya.(*)
Baca juga: Pelayaran KMP Aceh Hebat 1 ke Simeulue, Masih Tunggu Instruksi Gubernur Aceh
Baca juga: Update Covid-19 Aceh, Total Positif Capai 9.035 Orang
Baca juga: Memilukan! Calon Pengantin Wanita di Sumatera Utara Tewas Terjepit Lift
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/tim-distanbunnak-aceh-tamiang.jpg)