Sabtu, 18 April 2026

Jembatan Terbengkalai Sejak 2008, Anak TK dan SD Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai ke Sekolah

Andaikan saja pembangunan jembatan itu tuntas, tentu tak ada lagi anak-anak yang harus menyeberangi sungai saat pulang dan pergi ke sekolah

Editor: bakri
SERAMBI/HENDRI
Pelajar berangkat menuju sekolah dengan menyeberangi sungai di Desa Panca Kubu, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, Jumat (22/1/2021). Pelajar serta warga setempat terpaksa menyeberangi sungai tersebut karena akses jembatan terputus sejak 2008. 

Andaikan saja pembangunan jembatan itu tuntas, tentu tak ada lagi anak-anak yang harus menyeberangi sungai saat pulang dan pergi ke sekolah. Tak ada anak-anak yang harus jadi korban karena terbawa arus, dan tak ada anak-anak yang tertinggal pelajaran karena tingginya air sungai.

HARI sudah menunjukkan pukul 12.00, Jumat (22/1/2021). Di tepian sungai Gampong Panca Kubu, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, terlihat sejumlah anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) sedang bersiap-siap menyeberangi sungai.

Mereka baru pulang sekolah. Beberapa anak-anak terlihat bersama orang tuanya, sedangkan yang lain pulang bersama teman-temannya. Salah satunya adalah Nisa, murid kelas 6 SDN Panca.

Sebelum menyeberang, Nisa berhenti sejenak di tepian sungai. Dia bersama sejumlah teman-temannya melepaskan seragam dan perlengkapan sekolah dan kemudian memasukkannya ke dalam plastik. Sedangkan beberapa bocah laki-laki, terlihat bertelanjang dada karena tidak menggenakan pakaian ganti.

Mereka kemudian turun dan menyeberangi sungai dengan hati-hati mengingat ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. Seragam dan perlengkapan sekolah dijinjing tinggi-tinggi agar tidak basah. Beberapa orang tua juga terlihat menyeberang sambil menggendong anaknya.

Saat ditanyai Serambi, Nisa mengaku sudah sejak dari kelas 1 SD menyeberangi sungai. Setiap hari pula ia harus bongkar pasang seragam sebelum pergi dan pulang sekolah. “Kalau air sungai meluap, saya tidak ke sekolah,” jawabnya.

Nisa tinggal di Gampong Panca Kubu. Di desanya tidak ada TK dan SD, sehingga orangtuanya menyekolahkan Nisa ke desa tetangga, yakni Gampong Panca. Antara Gampong Panca Kubu dan Gampong Panca dipisahkan oleh sebuah sungai. Sungai inilah yang selalu dilintasi Nisa dan teman-temannya.

Karena itulah Nisa berharap di sungai itu bisa dibangun jembatan sehingga ia dan teman-temannya bisa aman ke sekolah. “Kami berharap ada jembatan, agar tidak lagi basah kuyup menyeberangi sungai setiap hari,” ucapnya.

Gampong Panca maupun Panca Kubu merupakan desa yang saling bertetangga dan berada di daerah pedalaman Kecamatan Lembah Seulawah. Jumlah penduduk di kedua desa ini juga tidak terlalu banyak. Totalnya sekitar 180 kepala keluarga (KK). “Di Desa Panca Kubu ada 90 KK dan di Desa Panca ada 120 KK,” sebut Sekretaris Desa (Sekdes) Panca, Abdullah, kepada Serambi.

Abdullah menceritakan, mengaungi sungai adalah satu-satunya lintasan yang ada bagi masyarakat gampong setempat, termasuk untuk ke sekolah. Kondisi seperti ini telah berlangsung sejak tahun 2004 silam atau 17 tahun lalu, setelah putusnya jembatan gantung.

“Tahun 2008 ada dibangun jembatan kontruksi beton rangka baja. Tapi hingga saat ini tidak tuntas pembangunannya,” tukas Sekdes Abdullah.

Karena itu, tak ada pilihan lain bagi anak-anak sekolah dan warga selain mengarungi sungai. Setiap hari mereka harus menentang arus yang sewaktu-waktu bisa menghanyutkan mereka. “Kami setiap hari harus menggendong anak-anak kami untuk menyeberangi sungai saat pulang ataupun pergi ke sekolah,” ujar Abdullah.

Aktivitas baru lumpuh total ketika air sungai sedang tinggi. Saat itu, tidak ada warga dan anak-anak yang berani menyeberang. “Saat musim banjir seperti saat ini, anak-anak kerap tak bersekolah karena tak bisa menyeberangi sungai yang arusnya deras,” ucapnya.

Tetapi bukan berarti ketika air sedang surut tak ada risiko. Abdullah mengatakan, setiap harinya, tak sedikit anak-anak yang pergi ke sekolah tergelincir di tengah sungai, sehingga membuat seragam hingga seluruh perlengkapan sekolah mereka menjadi basah kuyup.

Risikonya yang dihadapi anak-anak itu ternyata tidak hanya basah, tetapi juga nyawa. Menurut Abdullah, ada beberapa anak yang meninggal dunia karena terseret arus saat akan berangkat ke sekolah. “Sudah ada korban. Tahun lalu ada dua anak yang hanyut saat menyeberang,” ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved